Weindenreich dan von Koenigswald

0
1918

Pada 1939, von Koenigswald mengunjungi koleganya, Weindenreich, di Beijing. Dia membawa serta fosil  dari Jawa bersamanya. Di laboratorium Weindenreich, selama dua bulan, keduanya membandingkan spesimen homonid dari dua wilayah Asia: Sangiran dan Zhoukoudian. Studi perbandingan yang dilakukan oleh dua ilmuwan ini terbukti sangat berpengaruh dalam interpretasi mereka tentang evolusi manusia.

Sejak 1940, Weindenreich lebih dalam lagi melakukan penelitian hubungan antara Sinanthropus dan Pithecanthropus. Sebagai peneliti yang berkonsentrasi pada anatomi fosil, Weindenreich berkesimpulan bahwa Pithecanthropus lebih tua dan lebih primitif daripada Sinanthropus. Dia dan Koenigswald bersepakat untuk menggabungkan dua spesies ini dalam satu takson, Pithecanthropus erectus.

Saat Perang Dunia II merebak, Weindenreich yang telah mengungsi dari Tiongkok dan kembali ke Amerika Serikat kehilangan kontak dengan von Koenigswald. Namun berbekal replica temuan fosil von Koenigswald, Weindenreich melanjutkan penelitian untuk mendeskripsikan hominid-homonid Jawa. Takson Pithecanthropus robustus- artinya “Manusia Kera yang kekar” kemudian diperkenalkan oleh Weindenreich pada 1945, untuk mengakomodadi temuan tengkorak Pithecanthropus IV atau Sangiran 4 yang ditemukan oleh von Koenigswald pada tahun 1938-1939. Menurut pandangan Weindenreich, tengkorak  Pithecanthropus IV berbeda dengan tengkorak Pithecanthropus I-III yang digolongkan ke dalam takson Pithecanthropus erectus. Takson P.robustus diciptakan untuk menunjukkan bahwa spesies Pithecanthropus IV lebih kuat dan primitif dibandingkan Pithecanthropus erectus. Sumber: Museum Manusia Purba Klaster Ngebung