Tari Purba, Salah Satu Kesenian yang Mengangkat Kearifan Lokal di Situs Sangiran

0
1832

Museum Manusia Purba Klaster Ngebung menjadi pusat Perayaaan Hari Warisan Dunia 2019 yang berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 3-4 Mei 2019. Perayaan Hari Warisan Dunia ini merupakan hasil kerjasama antara Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya (Kemdikbud), Perkumpulan Masyarakat Pelestari Situs dan Budaya Sangiran, serta Pokdarwis Wonderfull Sangiran. Pada kesempatan tersebut, ditampilkan berbagai kesenian lokal salah satunya kesenian tari purba.
Kesenian tari purba ini berasal dari salah satu desa yang berada di Situs Sangiran yang beranggotakan berbagai latar belakang usia, pekerjaan, pendidikan, dan latar belakang sosial. Dari Desa Dayu, Gondangrejo, Karanganyar kelompok ini membangun asa untuk menyajikan hiburan bagi penontonnya. Kelompok ini masih berusia muda, seperti yang diceritakan oleh Warseno selaku Ketua Kelompok Tari Purba,”Tari Purba baru berjalan sekitar 3 tahun pasca dibukanya Museum Dayu, kami sekelompok orang Desa Dayu”.

Dengan memanfaatkan kisah hidup manusia purba di masa lalu, kelompok ini membangun cerita melalui gerak dan lagu yang mereka bawakan saat pentas. Bukan saja memberi pengetahuan tentang kisah hidup manusia purba, melalui tari purba mereka berusaha, ”Kami berusaha menampilkan kesenian dan hiburan dengan cerita manusia purba”.
Kesenian tari purba ini berusaha mengangkat kisah masa lalu manusia purba yang dulu pernah hidup disekitar mereka. Hal ini merupakan bagian dari mengolah kearifan lokal untuk dipertunjukkan dalam kesenian yang mereka bawakan.
Dalam perjalanannya selama 3 tahun ini, kelompok ini juga mengalami berbagai masalah dan pasang surut yang coba dipecahkan bersama. Dalam perjalannya, kelompok ini mencoba memecahkan masalahnya dengan musyawarah. Setiap anggota berhak mengeluarkan ide dan pendapatnya kemudian keputusan diambil secara bersama.
“Perkembangan tari purba di Dayu mengalami pasang surut, terutama untuk ide gerakan, kostum atau musik”, jelas Warseno.
Terdapat kerjasama yang dilakukan oleh kelompok ini untuk mendukung gerak dan langkahnya. Pada setiap pementasan, kelompok ini mendiskusikan langkah untuk menerima atau menolak undangan. “Tidak setiap undangan pentas bisa kami terima. Kami berkoordinasi dan berdiskusi terlebih dahulu, apakah personilnya sanggup dengan waktu pentas, soal honor bukan menjadi fokus utama kami”, jelas Warseno.
Dengan kesenian yang terus berkembang di Situs Sangiran yang disertai kearifan lokal akan memperkaya budaya yang ada. Kearifan lokal yang berhubungan dengan kisah hidupa manusia purba di Sangiran perlu terus didorong untuk berkembang dan Situs Sangiran akan makin istimewa dengan keberadaan kesenian masyarakat yang tidak lepas dari kearifan lokal yang ada. (Wiwit Hermanto)