You are currently viewing Sartono Sastromidjojo

Sartono Sastromidjojo

Saat melakukan penelitian di Desa Mlandingan pada bulan November 1960, Sartono menemukan fosil rahang bawah dari Formasi Pucangan. Fosil yang kemudian diidentifikasi sebagai milik Homo erectus ini dinamai Sangiran 9. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 13 September 1969, Towikromo, warga Dusun Pucung, menemukan fosil tengkorak. Ini adalah temuan tengkorak kedua yang ditemukan di sekitar Pucung. Dia mengantarkan sendiri fosil itu ke Bandung dengan naik kereta. Saat itu, Prof. Sartono belum ada di tempat. Towikromo nyaris tak mau melepaskan fosil yang dibawanya dan memilih menginap di Museum Geologi, hingga Prof. Sartono datang. Temuan ini dikenali sebagai Homo erectus dan diidentifikasi berasal dari Lapisan Kabuh dari Kala Plestosen Tengah—nantinya disebut dengan Sangiran 17. Tiga tahun setelah itu, Sartono mendeskripsikan laporan temuannya pada sebuah jurnal ilmiah dengan tajuk Discovery of Another Hominid Skull at Sangiran, Central Java (1972). Sepanjang kurun keterlibatannya sebagai peneliti di Sangiran, minat Sartono terhadap kajian geologi kuarter dan manusia purba kian bertambah. Hal itu ditunjukkannya melalu berbagai karya ilmiah yang ditulisnya, seperti Stratigrafi Kwarter Daerah Sangiran dan Simo (Jauoa Tengah) dan Dating of Pleistocene Man of Java. Tulisannya memberi kontribusi cukup penting bagi penelitian Zaman Kuarter di Indonesia.

Keterlibatan mereka dalam berbagai penelitian di Sangiran antara lain dalam Proyek Penelitian Paleoantropologi Nasional pada Juli-Agustus 1962, yang berlokasi di Desa Tanjung, dekat Sungai Cemoro. Saat proses penelitian berlangsung, seorang warga setempat yaitu Sumokerto, menyerahkan sebuah fosil atap tengkorak hominid. Temuan itu kelak dikenal sebagai Sangiran 10. Sartono terlibat memeriksa morfologi fosil atap tengkorak tersebut. Dari hasil kajian morfologi, diketahui bahwa fosil atap tengkorak tersebut lebih tebal daripada fosil atap tengkorak Homo erectus pada umumnya. Bagian kubah lebih rendah dan lebar, menandakan volume otak yang lebih kecil. Sartono berpendapat bahwa pada permulaan Kala Plestosen, Pulau Jawa dihuni oleh hominid spesimen Meganthropus paleojavanicus: pandangan ini merujuk pada temuan Meganthropus yang ditemukan beberapa waktu sebelumnya oleh von Koenigswald di awal 1940-an.

Sumber: Museum Manusia Purba Klaster Ngebung

Leave a Reply