Sangiran Membuat Tamu Penting dari Jawa Tengah Terpana

0
1094

Tiga orang pembicara dalam acara Kajian Strategis yang diadakan Badan Perencana dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah bertemakan “Peluang dan Pengembangan Kawasan Sangiran Sebagai World Heritage” tanggal 27 September 2017 menyempatkan diri berkunjung ke museum klaster di Sangiran. Ketiga orang itu adalah  Ir. Sunaryo, PhD, Ir. Gunawan Wibisono yang merupakan anggota Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Provinsi Jawa Tengah dan Triyuni Atmojo, ST, M.Si, Kepala Bidang Kelitbangan Iptekin Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jateng.

Dalam kunjungan ini, terjadi berbagai diskusi antara ketiga tamu ini dengan Iwan Setiawan Bimas, S.S. selaku Kasi Pemanfaatan BPSMP Sangiran. Diskusi ini berkait tentang berbagai hal untuk pengembangan pemanfaatan Situs Sangiran sebagai Warisan Budaya  Dunia.

Kunjungan diawali di Museum Manusia Purba Klaster Ngebung yang menyajikan sejarah penelitian yang telah dilakukan peneliti asing di awal tahun 1930-an. Diskusi sudah dimulai di awal ruang pamer yang menyajikan diorama penelitian. “Terasa seperti kembali ke masa lalu saat peneliti asing berada di Sangiran”, ungkap salah seorang tamu penting dari Jawa Tengah itu.

Kunjungan dilanjutkan ke Museum Lapangan Manyarejo yang menggoda ketiga tamu ini. Terkesima dengan koleksi yang dipamerkan dengan memadukan teknologi masa kini yang menceritakan berbagai kisah peneliti serta berbagai aktivias mereka dan juga fosil-fosil tinggalan masa silam.

Museum Manusia Purba Klaster Bukuran membuat ketiga orang tamu ini terpana dengan sajian koleksi yang mengisahkan evolusi manusia. “Di sajikan dengan sederhana, informasi begitu banyak memberi penjelasan” katanya.

Museum Manusia Purba Klaster Dayu menjadi destinasi terakhir rombongan ini. Sinar matahari yang sudah mulai senja tidak membuat mereka kehabisan semangat menyusuri “Lorong Waktu” di museum ini. Iwan memberi penjelasan detail tentang setiap ruangan yang ada di museum sehingga membuat rombongan sangat puas dan kagum dengan informasi yang disajikan di museum. “Tidak setiap daerah memiliki kekayaan budaya seperti Sangiran, perlu pengembangan pariwisata budaya dan juga pemanfaatan yang dapat mensejahterakan masyarakat”, pungkasnya. (Wiwit Hermanto)