You are currently viewing Nostalgia Dolanan Tradisional

Nostalgia Dolanan Tradisional

Dalam artikel kali ini, admin ingin membahas sesuatu yang mungkin sudah kita lupakan, yaitu dolanan tradisional. Untuk kelahiran 1900-2000 pasti tidak asing dengan dolanan tradisional. Dolanan tradisional atau dalam bahasa Indonesianya lebih dikenal dengan permainan tradisional, sekarang ini tidak banyak yang memainkannya. Anak-anak jaman sekarang lebih kecanduan memainkan gadget daripada permainan tradisional, ini nih yang bahaya, bisa-bisa permainan tradisional ini akan hilang seiring dengan gadget yang semakin canggih dan menarik perhatian. Untuk kali ini admin ingin mengajak untuk bernostalgia dengan permainan tradisional yang sering kita mainkan setelah pulang dari sekolah.

Gatheng

Gatheng merupakan salah satu permainan tradisional yang saat ini sudah jarang yang memainkannya. Permainan ini umumnya dilakukan oleh dua orang atau lebih dan mereka biasanya duduk melingkar dan berhadapan. Permainan ini ternyata merupakan permainan tinggalan dari kerajaan Mataram Islam loh. Wahh, berarti sudah lama sekali ya teman-teman, dan sekarang pun sudah mulai jarang dimainkan. Lalu gimana sih cara memainkannya ? 

Para pemain perlu menyiapkan 6 kerikil yang menjadi objek permainan, lalu mereka harus diundi terlebih dahulu siapa yang akan pertama kali bermain. Kemudian pemain menyebar ke-6 krikil tersebut dan mengambil salah satu kerikil dan dilemparkan ke atas, bersamaan melempar kerikil tersebut pemain juga mengambil satu kerikil sambil menangkap kerikil yang dilemparkan ke atas sampai semua kerikil terambil, dan jika kerikil tersebut jatuh, maka pemain gagal dan dilanjutkan pada pemain urutan kedua. Namun jika berhasil, pemain melanjutkannya ketahap kedua yaitu dengan mengambil dua batu bersamaan ketika melemparkan krikil ke atas dan seterusnya.

Singkongan

Bukan berasal dari kata singkong ya teman-teman. permainan ini biasanya dilakukan oleh sedikitnya 5 orang atau lebih dan bisa dilakukan berkelompok. Beberapa daerah mempunyai cara bermain dan juga media yang berbeda-beda, untuk masyarakat di dusun sekitar Museum Sangiran, biasanya mereka memainkannya menggunakan media sandal ataupun kayu yang dibentuk menjadi menara segitiga. Lalu para pemain juga menggunakan “gacuk” atau alat yang digunakan untuk menghancurkan menara tersebut, di sini para pemain juga diundi terlebih dahulu dan yang kalah menjadi penjaganya. 

Lalu pemain secara bergantian mencoba untuk menghancurkan menara tersebut dari jarak kurang lebih satu meter dari menara menggunakan gacuknya, jika ada yang berhasil menghancurkan mereka bersembunyi secara bersamaan dan yang menjaga harus membuat menaranya kembali dan mencari teman-temannya. Dalam permainan ini yang menang adalah dia yang bisa menghancurkan menara ketika penjaga sedang mencari teman-teman yang lain.

Nah, dua permainan tradisional di atas merupakan perwakilan dari banyaknya permainan tradisional yang mungkin sudah tidak pernah lagi dimainkan di masa sekarang ini. Anak-anak cenderung lebih nyaman dan senang ketika bermain dengan gadget mereka dibandingkan bermain permainan tradisional. Jadi, apakah teman-teman di sini ada yang pernah memainkan permainan ini sebelumnya ? (Nur Rahma Hapsari)

Leave a Reply