Musik Gambus Manyarejo Kembali Dimainkan Setelah 40 Tahun Mati Suri

0
162

Gambus merupakan salah satu alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik. Alat musik ini memiliki fungsi sebagai pengiring tarian dan nyanyian pada waktu diselenggarakan hajatan masyarakat atau acara syukuran.
Musik Gambus di Desa Manyarejo, Plupuh, Sragen, Jawa Tengah merupakan sebuah kesenian masyarakat yang sudah lama dilupakan. Dalam pelaksanaan Pasar Budaya Manyarejo 2020, proses pengidentifikasian potensi masyarakat, kesenian ini mulai diingat dan kemudian disepakati untuk diangkat Kembali.
Kesenian musik gambus ini selama 40 tahun mati suri, diangkat dengan kesepakatan bersama masyarakat Desa Manyarejo. Kesepakatan ini mengikat para pemain untuk berlatih secara rutin sehingga sudah mendapat kepercayaan untuk tampil di hajatan yang diselenggarakan warga maupun kegiatan lain seperti pernikahan atau pasar budaya. “Setiap ada Pasar Budaya Krajan atau ada orang hajatan di kampung, gambus ini akan dipentaskan”, jelas Tri Handoko selaku salah satu tokoh pemuda Desa Manyarejo.
Salah satu orang yang mendukung penuh kesenian musik gambus dihadirkan kembali dan kemudian mendapat kepercayaan untuk dipentaskan adalah Asmorejo atau dikenal dengan panggilan Mbah Sinyur. Asmorejo merupakan salah satu pemain musik gambus ini sebelum kesenian ini mati suri. Selain sebagai pendukung musik gambus dihadirkan kembali di tengah masyarakat, Asmorejo juga dikenal sebagai salah satu penemu fosil yang banyak menyerahkan temuan fosilnya pada Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran.
Dengan keterampilannya, Asmorejo membuat alat untuk musik gambus dan mengajak rekan-rekannya yang dahulu pernah mendalami kesenian ini. “Mbah Sinyur itu yang bisa buat alat. Yang dulu pertama main gambus itu pun sebagian juga masih ada”, jelas Tri.
Musik Gambus dari Desa Manyarejo ini dimainkan oleh 6 orang yang biasa pentas saat ada hajatan masyarakat atau pesta pernikahan. Para pemain merupakan orang tua maupun muda, mereka berusaha melestarikan kesenian yang sempat mati suri.
“Ada juga orang sepuh. Pemuda pun juga ada, dengan pemain kisaran 6 orang”, pungkas Tri.
Menghidupkan kesenian musik gambus demi kelestarian budaya daerah menjadi dasar para pemain untuk melestarikan kesenian ini. (Wiwit Hermanto)