Mereka, Para Perintis

0
725

“Tersebutlah dua ekor burung sakti, bernama Ara dan Irik. Mereka mengambil segumpal lumpur lalu membentuknya menjadi manusia.”

Itulah mitos masyarakat Dayak, satu dari berbagai mitos di dunia yang menceritakan tentang asal-usul manusia. Mitos terkadang muncul disebabkan oleh adanya fenomena atau benda-benda di alam yang belum dapat dijelaskan oleh masyarakat pada saat itu. Pengetahuan yang datang kemudian, dengan penjelasan ilmiah, perlahan tapi pasti, mulai menggantikan mitos-mitos tersebut.

Fosil sebagai bukti adanya kehidupan sebelum kita, dulu merupakan bagian dari mitos ini. Di awal abad ke-16, para antikuarian—pengumpul dan pembelajar barang antik—di Eropa memulai perburuan fosil. Mereka mengumpulkannya sebagai bagian dari hobi. Pada masa berikutnya, kegiatan ‘pengumpul’ bergerak menjadi aktivitas ‘ilmiah’ bersamaan dengan revolusi ilmu pengetahuan. Pada periode ini, fosil diberi ‘arti baru’ melalui serangkaian debat dan tulisan ilmiah.

Geliat itu menyemai para peneliti melintasi benua. Kapal laut yang membawa G.E. Rumphius, ahli botani asal Jerman yang bekerja untuk Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), merapat di Ambon. Melalui matanya, pengamatan geologi awal di Nusantara terdokumentasi. Deskripsinya tentang “stone fingers” dari Sula memicu curiga adanya fosil belemnit (cumi-cumi purba) dari era Mesozoikum. Di Ambon dia menetap dan meneliti hingga penglihatannya diserang Glaucoma simplex pada 1670 dan membuatnya mengalami kebutaan total. Wilayah beriklim tropis ini kian dipandang menjanjikan bagi ruang penelitian purba.

Dekade berikutnya, di seputar Banten, Junghuhn pada kurun 1850-1854 berhasil memperoleh temuan ±500 fosil kerang dan moluska. Keberhasilan itu mengundang beberapa ahli geologi turun ambil bagian. R.D.M. Verbeek pun memboyong temuan fosil moluska. Oleh Karl Martin, hasil temuan Junghuhn, Verbeek, dan Raden Saleh dianalisis dan dipublikasikan dalam berbagai karya ilmiah, di antaranya “Die Fossilien von Java auf Grund einer Sammlung von Dr. R.D.M. Verbeek und von Anderen” (Fosil Jawa atas Dasar Koleksi dari Dr. R.D.M. Verbeek dan Lain-lain).

Di bagian Timor Barat, temuan fosil fauna dari masa Paleozoik Akhir (410 – 250 juta tahun silam) diprakarsai oleh Heinrich Ernst Beyrich. Puncak gempita itu adalah penemuan fosil hominid Wajak 1 pada 1888 oleh B.D van Rietschoten, seorang insinyur pertambangan. Temuan van Rietschoten menjadi fosil manusia purba pertama yang dilaporkan dari Hindia Belanda. Temuan itu sanggup menciptakan daya lebih besar bagi minat penelitian sejenis, sekaligus menjadi jalan rintisan menuju penelitian ilmiah kehidupan prasejarah di Indonesia. (Sumber: Museum Manusia Purba Klaster Ngebung)