Mengingatkan Kembali Mitos Balung Buto Melalui Film

0
350

Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran memiliki tugas untuk melestarikan Situs Sangiran dan situs-situs sejenis lainnya di Indonesia. Upaya pelestarian tersebut harus disebarluaskan pada masyarakat agar dipahami dan dimengerti sehingga diharapkan masyarakat dapat ikut terlibat aktif dalam upaya pelestarian Situs Sangiran. Salah satu upaya untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan informasi pada masyarakat adalah dengan memanfaatkan platform media massa.
Penggunaan berbagai platform media diyakini akan lebih menarik masyarakat dalam menerima informasi tentang Sangiran. Salah satu media yang sering digunakan adalah dengan memproduksi film untuk berbagai sasaran, seperti masyarakat umum, akademisi, maupun anak-anak. Berbagai film diproduksi guna memberikan pengetahuan bagi masyarakat guna memahami arti penting Situs Sangiran. Situs Sangiran mampu memberikan sumbangan bagi pengetahuan khususnya dalam hal memecahkan misteri tentang kejayaan Homo erectus di masa lalu.
Film yang diproduksi BPSMP Sangiran, dibagi dalam berbagai tema dan sasaran menyesuaikan tujuan dari film yang diproduksi. Salah satu film yang menyasar anak berjudul Balung Buto yang ingin menyampaikan sebuah kisah masa lalu yang diceritakan kembali guna mengingatkan bahwa selain memberi bukti ilmiah tentang kejayaan Homo erectus, Situs Sangiran memiliki kisah rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Film Balung Buto berceritakan kisah rakyat yang mempercayai bahwa dahulu pernah tejadi perang antara kebaikan yang diwakili oleh Raden Bandung melawan angkara murka yang terwakili dari Raja Raksasa, Tegopati. Perang yang akhirnya dimenangi Raden Bandung, kemenangan bagi kebenaran yang merupakan hasil kerja keras. Terjadi proses kerja keras yang dilakukan Raden Bandung agar dapat menang dan mengalahkan Tegopati.
Perang ini mengakibatkan banyak para raksasa tewas dan tulang belulangnya yang besar kemudian disebut masyarakat Sangiran sebagai Balung Buto (Tulang Raksasa). Masyarakat meyakini bahwa tulang itu memiliki makna magis yang kemudian dimanfaatkan masyarakat. Masyarakat memanfaat fosil yang mereka anggap Balung Buto itu sebagai benda magis dan pengobatan. Sebagai benda magis, Balung Buto ini dimanfaatkan sebagai jimat dan penolak bala bagi orang-orang yang mempercayainya. Bagi pengobatan Balung Buto digunakan mengobati orang sakit bahkan hewan juga dapat memanfaatkan Balung Buto guna menyembuhkan penyakit. Bagi ibu yang kesulitan melahirkan, Balung Buto dapat dimanfaatkan guna melancarkan proses kelahiran.
Saat ini mitos tentang Balung Buto sudah dilupakan masyarakat, terutama generasi muda sehingga ini menjadi latar belakang BPSMP Sangiran untuk memproduksi film. Melalui film, Mitos Balung Buto “dilahirkan” kembali guna mengingatkan kembali mitos ini selain untuk memberi pembelajaran berharga bagi generasi muda. (Wiwit Hermanto)