Meneladani Ki Hadjar Dewantara untuk Mencerdaskan Bangsa

0
3020

Hari Pendidikan Nasional adalah momentum penting untuk menumbuhkan kembali semangat Ki Hadjar Dewantara sebagai “Bapak Pendidikan Nasional” untuk mencerdaskan anak bangsa Indonesia. Dalam sebuah artikel yang di muat pada sebuah surat kabar De Expres milik Indische Partij (IP) memuat pemikirannya sehingga membuat pemerintah kolonial sangat murka. Artikel itu berjudul “Als ik een Nederlander was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda,” pada edisi 13 Juli 1913.
Artikel tersebut merupakan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang tidak menyetujui perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari penjajajahan Perancis. Untuk merayakannya, warga Hindia Belanda dimintai sumbangan. Nukilan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tersebut:
“Sungguh, seandainya saya ini orang Belanda, maka saya tak akan pernah mau merayakan pesta peringatan seperti itu di sini, di suatu negeri yang kita jajah. Berikan dahulu rakyat yang tertindas itu kemerdekaan, baru sesudah itu kita memperingati kemerdekaan kita sendiri!”
Hal ini adalah salah satu pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang berusaha membuka pemikiran bahwa untuk merebut kemerdekaan, harus mencerdaskan bangsa agar mereka paham tujuan dari kemerdekaan. Dengan tulisan pemikirannya itu, Ki Hadjar Dewantara membuat pemerintah kolonial sungguh murka sehingga berujung pada penangkapan. Hal ini tidak menyurutkan tekad Ki Hadjar Dewantara dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan cara mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak sedikit pengorbanan Ki Hadjar Dewantara dalam usaha mencerdaskan bangsa ini.
Untuk memperingatinya, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemdikbud di wilayah Jawa Tengah menyelenggarakan Perayaan Hari Pendidikan Nasional. Kegiatan Pameran Pendidikan dan Bazar Buku Murah dengan tema Menguatkan Pendidikan Memajukan Kebudayaan. Dalam pameran ini, telah diadakan pada tanggal 23-26 April 2019. Dalam pameran ini, BPSMP Sangiran turut berperan secara aktif guna memberi edukasi pada masyarakat.
Dalam mengedukasi pengunjung ini, BPSMP sangat serius menampilkan tidak hanya stand yang menarik tetapi juga dengan mengenalkan masyarakat dengan cara yang mudah dipahami. Koleksi yang ditampilkan tentang manusia purba ditambah dengan berbagai buku yang disiapkan, kuis kahoot yang sudah diujikan pada pengunjung museum yang bersurat, paper toys menarik, serta berbagai penjelasan dari pemandu.
Jika dulu Ki Hadjar Dewantara berjuang mendidik bangsa melalui berbagai tulisannya yang sering tidak sepaham dengan pemerintah kolonial, mendidikan sekolah dan berbagai aktivitas pendidikan lainnya, pada saat ini, BPSMP Sangiran mengedukasi masyarakat agar cinta pada peninggalan masa lalu. Mendidik masyarakat dengan cara yang berbeda dan memiliki satu kesamaan, yaitu mencerdaskan bangsa. (Wiwit Hermanto)