KOENIGSWALD BERHASIL MERUBAH PERILAKU MASYARAKAT SANGIRAN

0
1925
meninggalkan sangiran

Situs Sangiran banyak menyimpan fosil-fosil manusia dan binatang purba sehingga menarik perhatian para ahli untuk mengadakan penelitian secara mendetail. Penelitian di Situs Sangiran diawali oleh Eugene Dubois, seorang dokter ahli bedah dari Belanda yang tertarik mendalami paleoantropologi. Pada waktu itu Dubois sedang berusaha mencari fosil makhluk peralihan antara kera dan manusia yang menurut perkiraannya hidup subur di  daerah tropis. Dubois kurang beruntung, tidak mendapatkan yang dicarinya.

Penelitian Dubois kemudian dilanjutkan oleh von Koenigswald yang lebih beruntung dengan memperoleh temuan alat batu yang pertama di wilayah tersebut. Tahun 1934 dia menemukan sejumlah alat serpih-bilah di puncak sebuah bukit di dekat Desa Ngebung. Berdasarkan konsentrasi mayoritas dari alat serpih-bilah tersebut maka von Koenigswald menciptakan istilah “Industri serpih-bilah Sangiran” (Sangiran Flake Industry). Tahun 1937, von Koenigswald mendapat temuan yang menakjubkan berupa fosil tempurung kepala manusia purba yang sejenis dengan temuan Dubois di Trinil. von Koenigswald menyebutnya Pithecanhropus II (karena sebutan Pithecanthropus I dia berikan kepada temuan Dubois dari Trinil). Berkat temuannya ini maka sebagian teka-teki sekitar keberadaan manusia Jawa mulai terjawab.

Sejak penelitian yang dilakukan oleh von Koenigswald dan diikuti oleh beberapa peneliti asing, persepsi masyarakat yang tinggal di Situs Sangiran mulai berubah. Persepsi tentang benda cagar budaya (fosil) yang awalnya dianggap keramat, sebagai penyembuh penyakit dan bermakna magis sejak masuknya  von Koenigswald dan diikuti oleh beberapa peneliti asing berubah menjadi benda bernilai ekonomis karena jika menemukan fosil dan diserahkan pada Koenigswald akan mendapat imbalan.

Kedatangan von Koenigswald membawa perubahan persepsi masyarakat yang pada akhirnya membuat perubahan perilaku masyarakat yang mulai melakukan perburuan fosil. Perubahan perilaku masyarakat tersebut terjadi karena pengaruh budaya luar dan juga untuk memenuhi kebutuhan hidup. (Wiwit Hermanto)