You are currently viewing Dan bagaimana cara menaksir usianya?

Dan bagaimana cara menaksir usianya?

Kapan kira-kira fosil S17 itu, pernah hidup individunya? Bagaimanakah cara mengetahui dan memastikannya? Inilah teka-teki waktu yang segera harus dijawab para arkeolog maupun peleontolog, ketika rasa lelah dari lapangan belum sepenuhnya surut.

Pada dasarnya terdapat 2 metode guna menjawab teka-teki pertanggalan (dating) ini. Yang pertama, Pertanggalan Relatif dan kedua Pertanggalan Absolut Kedua-duanya bisa dikombinasi, atau masing-masing diterapkan berdasar kebutuhan kasus temuannya.

Pertanggalan Relatif

Boleh dibilang ini cara “kuno” yang diwariskan sejak jaman rintisan paleoantologi dulu. Kendati kini masih tetap berguna, terutama bagi situasi temuan tertentu.

Metode Relatif merujuk pada telaah lapisan tanah fosil ditemukan. Formasi tanah yang bersusun-susun ke bawah, adalah “kalender” vertical. Dengan asumsi, dalam kondisi normal, lapis tanah di sisi atas tentu lebih muda usianya ketimbang lapis dibawahnya.Hal ini dinamakan Hukum Superposisi (Law of Superposition) dalam prinsip stratigrafi.

Ini adalah salah satu metode merunut usia fosil berdasar strata geologisnya. Logikanya aneka fosil yang terkandung dalam formasi tanah yang sama relatif dapat diasosiasikan bahwa mereka hidup semasa.

Pertanggalan Absolut

Ini adalah salah satu metode untuk menentukan batuan dan mineral yang didasarkan pada keseluruhan isotop radioaktif. Dengan mengukur massa unsure “induk” dan “turunannya”, maka umur batuan dapat diketahui secara pasti/ absolut. Untuk mengetahui usia fosil di Sangiran metode yang digunakan adalah pertanggalan Argon-Argon (Ar-40/Ar-39).

Melalui metode ini, jejak letusan gunung berapi dapat ditelusuri kapan terjadinya. Saat abu vulkanik mendingin dan mengkristal banyak mineral Kalium (K) terjebak didalamnya, diantaranya K-39 (atom stabil) dan K-40 (radioaktif). Sebagai radioaktif, separuh massa K-40 akan berubah menjadi Argon-40 (Ar 40) dalam waktu 1,26×10 (1,26 milyar) tahun. Sisa separuh K-40 itu akan turun separuhnya lagi dalam 1,26×10 tahun kemudian. Begitu seterusnya.

Kecuali jika matinya organism karena tertimbun lava pijar, rata-rata fosil terbentuk kaena proses sedimentasi (pengendapan). Pengukuran umur sedimen tidak dapat dilakukan dengan metode radimetrik. Maka sebagai gantinya batuan disekitar fosil itulah yang diproses. Dengan asumsi bahwa ada material vulkanik disekeliling fosil itu berusia sama dengan fosil, maka makin banyak sampel yang diukur, akan makin mendekati hasilnya.

Lebih dari 300 isotop alami yang sudah diketahui dan kini terdapat lebih dari 40 metode pertanggalan radiometrik yang sudah dikembangkan. Meski tidak mungkin 100% tepat benar namun bila metode pengambilan sampel dilakukan dengan benar, maka hasil perhitungannya dapat dianggap mendekati kebenaran. Sumber: Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Dayu

Leave a Reply