You are currently viewing Selayang Pandang BPNB D.I. Yogyakarta
halaman depan BPNB DIY

Selayang Pandang BPNB D.I. Yogyakarta

 

 

BPNB D.I. Yogyakarta – Dewasa ini laju perkembangan pembangunan fisik baik di perkotaan maupun pedesaan semakin pesat. Fakta di lapangan menunjukkan semakin berkurangnya lahan hijau berganti dengan bangunan sebagai tempat hunian maupun peruntukan lainnya. Hal ini secara langsung mengakibatkan berkurangnya pepohonan sebagai salah satu komponen utama terjadinya keseimbangan alam. Pohon dengan berbagai macam manfaat yang dimiliki, sudah seharusnya dijaga keberadaannya, atau bahkan lebih diperbanyak lagi jumlahnya, agar keseimbangan alam dapat makin terjaga.

Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta (BPNB DIY) sebagai kantor pemerintah yang berlokasi di tengah kota, dalam perjalanannya dari dahulu hingga sekarang, berusaha untuk tetap menjaga kelestarian alam di lingkungan kantor. Pohon-pohon rindang masih banyak berada di lingkungan kantor BPNB DIY. Dalam dinamika yang ada, di mana pembangunan fisik seperti penambahan gedung baru, renovasi gedung, maupun hal lain dalam mengusahakan prasarana untuk keberlangsungan kegiatan kantor berjalan tetap perlu untuk dilakukan, namun dalam pelaksanaannya, BPNB DIY berusaha untuk tetap proporsional antara pembangunan fisik dengan kelestarian alam di dalamnya.

Beberapa pohon seperti pohon sawo kecik, pohon kepel dan pohon alpukat, terdapat di dalam lingkungan kantor BPNB DIY. Pada lingkungan yang asri, akan banyak terdapat makhluk hidup selain manusia di dalamnya. Pohon dan tanaman/tumbuhan lain pada umumnya juga merupakan rumah bagi mereka. Hewan seperti semut, ulat dan lain-lainnya akan dapat hidup dan turut menjaga keseimbangan ekosistem yang ada. Hal ini dapat memiliki manfaat tersendiri bagi sebuah lingkungan. Orang yang ada di lingkungan tersebut pun akan merasakan teduh dan nyaman, karena keasrian alam memiliki dampak positif juga untuk sisi psikologis manusia.

 

 

Pada sebagian masyarakat jawa, banyak jenis pohon yang dianggap memiliki nilai filosofi luhur. Seperti pada dua jenis pohon yang juga berada di lingkungan kantor BPNB DIY. Pertama adalah pohon kepel watu/kepel , dan yang kedua adalah pohon sawo kecik. Dalam bahasa jawa, kata “kepel” memiliki arti genggaman tangan manusia, yang dapat diartikan adanya “greget” (semangat/niat) dalam bekerja. Kata “watu” memiliki arti batu (yang bersifat keras). Oleh karena itu pohon kepel watu dapat melambangkan “manunggaling sedya kaliyan gegayuhan” yang memiliki arti bersatunya niat baik dengan kerja keras untuk mencapai cita-cita/tujuan. Tanpa adanya usaha/kerja keras (dalam mengerjakan sesuatu), maka cita-cita tidak akan tercapai. Sebaliknya jika hanya bekerja keras saja tanpa diawali dengan niat yang baik, maka pekerjaan tidak akan memiliki arah yang jelas.

Pohon sawo kecik juga memiliki makna atau filosofi mendalam bagi masyarakat jawa. Sawo kecik memiliki arti “sarwo becik” atau serba baik. Bagi yang menanamnya biasanya memiliki pengharapan agar selalu mendapatkan kebaikan-kebaikan selama hidup di dunia. Sedikit melihat dari sisi sejarah, dahulu kala setelah berakhirnya perang jawa (1825-1830), mantan pasukan dan pengikut Pangeran Diponegoro menanam pohon sawo kecik di sekitar pekarangan rumah mereka. Hal ini dilakukan sebagai penanda di antara mereka untuk saling mengenali bahwa mereka adalah mantan pasukan dan pengikut Pangeran Diponegoro. Sawo kecik menurut mereka adalah representasi dari Pangeran Diponegoro, karena dulu pohon sawo kecik sangat banyak berada di daerah Tegalrejo di kota Yogyakarta.

Pembangunan fisik dalam laju perkembangan di zaman sekarang tidak bisa dihindari, namun dalam proses tersebut sudah seharusnya dapat selaras dengan alam. Pohon sebagai penghasil oksigen, penyerap karbondioksida, serta penyerap dan penahan air tanah, sudah seharusnya dilestarikan dan ditambah keberadaannya.

 

(bpw)

Leave a Reply