Ruwatan Bersama XXV Tahun 2016 Lembaga Javanologi Yogyakarta

0
1307
Ruwatan Bersama XXV Tahun 2016, Lembaga Javanologi Yogyakarta

Yogyakarta, 10 Oktober 2016 – Upacara Adat dan Tradisi Budaya Ruwatan kembali hadir di tengah-tengah masyarakat khususnya Yogyakarta dan di Indonesia pada umumnya. Lembaga Javanologi “Panunggalan” Yogyakarta akan menyelenggarakan Upacara Adat Ruwatan Bersama secara lengkap dengan pergelaran wayang kulit lakon MURWAKALA. Ruwatan adalah suatu tradisi yang sejak dahulu hingga sekarang masih dilestarikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya Jawa dan indonesia pada umumnya. Maksud dan arti ruwatan yaitu meruwat, berarti menyelamatkan orang dari gamngguan tertentu. Gangguan itu bisa dikatakan sebagai kelainan dari yang umum dalam suatu keluarga. Selain itu, gangguan yang harus diruwat yakni gangguan bagi seseorang yang disebabkan oleh suatu perbuatan yang dapat menimbulkan kecelakaan atau kerugian. Ruwatan bertujuan mencari kedamaian, ketentraman, keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan diri sendiri maupun keluarga. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pelestarian tradisi budaya, dan sebagai wahana dalam rangka memfasilitasi masyarakat yang memiliki keyakinan terhadap tradisi dan budaya Jawa khusunya rencana dan program keluarga untuk meruwat putra-putrinya.

Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya Jawa, selain itu ruwatan bersama ini untuk memfasilitasi masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap tradisi dan budaya Jawa. Pelaksanaannya mengacu pada pedoman/paugeran upacara adat tradisi budaya Jawa Yogyakarta. Disamping itu pelaksanaan Ruwatan Bersama Lembaga Javanologi Yogyakartya berpedoman pada Hasil Seminar Nasional yang diselenggarakan pada tahun 1990 dan dirumuskan oleh para pakar dan tokoh budaya Jawa. Adapun ruwatan bersama ini akan diselenggarakan pada :

  • Hari/tanggal : Minggu, Pahing, 18 Desember 2016
  • Pukul : 08.00 s/d selesai
  • Tempat : Pendapa Agung Tamansiswa Yogyakarta
  • Bagi keluarga yang putra-putrinya termasuk dalam salah satu jenis sukerto dan ingin mengikuti acara ruwatan bersama tersebut, silakan menghubungi Saudara Sudarmadi SIP., HP. 081328098491.

    Adapun jenis-jenis sukerto yang perlu diruwat:

  • Ontang-anting (anak tunggal laki-laki)
  • Unting-unting (anak tunggal perempuan)
  • Uger-uger lawang (dua bersaudara laki-laki semua)
  • Kembang sepasang (dua bersaudara perempuan semua)
  • Gedhana-gedhini (dua bersaudara laki-laki dan perempuan)
  • Gedhini-gedhana (dua bersaudara perempuan dan laki-laki)
  • Kembar (dua anak lahir dalam satu hari laki-laki atau perempuan semua)
  • Dhampit (dua anak lahir dalam sehari satu laki-laki dan satu perempuan)
  • Sendhang kapit pancuran (tiga anak bersaudara yang perempuan di tengah)
  • Pancuran kapit sendhang (tiga anak bersaudara yang laki-laki di tengah)
  • Saramba (empat anak bersaudara laki-laki semua)
  • Sarimpi (empat anak bersaudara perempuan semua)
  • Pandhawa / pancala putra (lima anak bersaudara laki-laki semua)
  • Pandhawi / pancala putri (lima anak bersaudara perempuan semua)
  • Pandhawa madhangake (lima anak bersaudara seorang perempuan)
  • Pandhawa apil-apil / pipilan (lima anak bersaudara seorang laki-laki)
  • Tiba sampir (anak lahir kalung usus)
  • Jempina (anak lahir belum waktunya / prematur)
  • Margana (anak lahr di perjalanan)
  • Wahana (anak lahir di desa yang sedang ada pergelaran wayang kulit)
  • Bungkus / wungkus (anak lahit bungkus)
  • Julung wangi (anak lahir bersamaan dengan terbitnya matahari)
  • Julung sungsang (anak lahit bersamaan dengan matahari di titik kulminasi)
  • Julung pujud (anak lahir bersamaan dengan tenggelamnya matahari)
  • Wungle (anak lahir bule)
  • Kresno (anak lahir hitam mulus)
  • Wungkul (anak bongkok sejak lahir)
  • Wujul (anak cebol sejak lahir)
  • Selain tersebut di atas, yang termasuk sukerto adalah orang yang lalai dalam mengerjakan sesuatu hal:

  • Orang menanak nasi merobohkan dandang
  • Orang memipis jamu mematahkan gandhik
  • Orang membangun rumah sudah memasang genting lupa memasang tutup keong
  • Orang memotong bambu tanpa ruas tidak dipecah
  • Orang menylumbat kelapa, setelah selesai penylumbatnya tidak dirobohkan