Polowijen, Kampung Budaya di Kota Malang

0
8854
Kampung Budaya Polowijen
karnaval & kirab budaya pada Kegiatan Bersih Desa Kelurahan Polowijen Tahun 2017

BPNB DIY, Maret 2019 – Kota Malang adalah kota terbesar kedua di Jawa Timur. Kota ini memiliki luas sebesar 110.06 Km² (BPS). Karena berada di dataran tinggi, Kota Malang memiliki hawa yang sejuk, hal ini menjadikannya salah satu alasan untuk didatangi para wisatawan. Karena kota yang berhawa sejuk pada umumnya memiliki tempat wisata alam yang indah. Selain berhawa sejuk, Kota ini juga dapat dianggap sebagai kota yang memiliki sejarah yang panjang. Di dalam perjalanan zamannya, akan terbentuk pula perjalanan sejarah budayanya hingga masa sekarang. Salah satu hal yang bisa kita lihat di masa sekarang adalah terbentuknya Kampung Budaya di Kota Malang.

Menurut laman resmi Kelurahan Sumbersari Kota Malang, pada abad ke – 8 adalah awal mula atau cikal bakal adanya Kota Malang sebagai pusat pemerintahan, di mana pada abad tersebut terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kanjuruhan (tertulis pada prasasti Dinoyo). Ditemukan pula bangunan-bangunan berupa candi atau bagian dari candi seperti pondasi bata dan lainnya di daerah Kota Malang maupun di daerah sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada abad tersebut telah ada peradaban yang mapan, karena pada abad tersebut telah ada kerajaan dan permukiman yang berada di dekat aliran sungai, (dalam konsep Agama Buddha maupun Hindu, sungai dianggap tempat bersemayamnya para Dewa).

Dengan sejarahnya yang cukup panjang tersebut hingga saat sekarang, sudah pasti juga jika  budaya yang ada di Kota Malang dan sekitarnya dapat dikatakan beragam. Dari abad 8, kemudian saat masa Kolonial Belanda, hingga sampai pada masa sekarang, sudah barang tentu budaya yang ada pun semakin majemuk karena unsur-unsur kebudayaan yang membentuknya akan terus berubah dari zaman ke zaman.

Dengan keragaman budaya yang dimilikinya tersebut, Kota Malang sebagai Kota Pariwisata tidak hanya menjadi tujuan wisata karena alamnya saja, melainkan juga karena keragaman budayanya. Seni Tari Topeng Malang / Malangan (di luar daerah Malang lebih terkenal dengan penyebutan tari topeng wayang panji), topeng (bahan kayu maupun bahan lain), dan kerajinan gerabah, merupakan beberapa contoh produk karya seni budaya dari Kota Malang. Salah satu wilayah yang memiliki nafas budaya yang kuat di Kota Malang adalah wilayah Polowijen, yang merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kota Malang.

Kampung Budaya Polowijen

Polowijen merupakan nama daerah administratif sebuah kelurahan yang berada di dalam wilayah Kecamatan Blimbing di Kota Malang. Menurut Buku Pararaton yang ditulis oleh Drs. R. Pitono Hardjowardojo, Polowijen adalah daerah asal dari Ken Dedes, yang dahulu kala bernama Panawijen. Di tempat ini pula terdapat satu situs bernama Sumur Windu atau juga disebut dengan Petilasan Ken Dedes (Jurnal Berkala Arkeologi Tahun XXVII Edisi No. 1/Mei 2017, “Identifikasi Ken Dedes dalam Arca Perwujudan Dewi Prajnaparamita : Tinjauan Filsafat Religi dan Ikonografi”).

Perkembangan desa selanjutnya tidak banyak diketahui, hingga datangnya tokoh pembuka hutan/bedah krawang yaitu Eyang Jibris dari Demak yang sekaligus menyebarkan agama Islam di Polowijen. Kapasitas peran tokoh Eyang Jibris tidak banyak diketahui, tetapi masyarakat yakin bahwa beliaulah yang mulai memimpin masyarakat Polowijen dalam nuansa masa Islam. Kronologis Tetua Desa dari Eyang Jibris hingga sekarang sulit diketahui. Pada awalnya dikenal istilah Petinggi, kemudian Kepala Desa dan selanjutnya Lurah sejak perubahan bentuk pemerintahan Desa menjadi Kelurahan pada tahun 1985.

Dalam perkembangannya, Desa Polowijen pernah mencuat sebagai daerah yang terkenal ahli tentang seni kriya dan seni tarinya pada jaman penjajahan Belanda tahun 1900-an. Pada tahun 1900 – 1940-an, Polowijen terkenal dengan seni tradisional tari topengnya. Nama Polowijen selalu diikuti oleh eksistensi Reni sebagai pengrajin dan penari Topeng Malangan terbesar, sehingga Desa Polowijen terkenal dengan sebutan Desa Reni. Mbah Reni adalah seorang petani kaya yang tinggal di Polowijen dan memimpin salah satu rombongan wayang topeng terbaik pada masanya. Mbah Reni wafat pada 1935 dan dimakamkan di Polowijen.

Di Kelurahan Polowijen telah didirikan dan ditetapkan sebuah Kampung Tematik yaitu Kampung Budaya Polowijen, yang juga telah diresmikan oleh Walikota Malang pada tanggal 2 April 2017. Pendirian tersebut digagas oleh salah satu warganya yaitu Isa Wahyudi. Dalam hal kebudayaan, Polowijen telah menggembangkan budaya polowijen asli sebagai warisan leluhur utamanya, seperti tari topeng, pembuatan topeng, membatik, serta pelestarian budaya dan situs asli Polowijen seperti Sumur Windu dan Situs Makam Mbah Reni (orang pertama yang membuat topeng malangan).

Selain untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya setempat, pendirian Kampung Budaya sendiri bertujuan pula untuk membangkitkan ekonomi kreatif masyarakat yang ada di dalamnya, melalui sentra-sentra industri kreatif seperti kerajinan topeng dan gerabah; seni pahat; seni pertunjukan dan lain sebagainya. Kemudian dalam upaya pelestarian budaya secara nyata, maka pada saat pembukaan Kampung Budaya Polowijen, Walikota Malang juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan Sanggar Tari / Gedung Kendedes sebagai prasarana pelatihan menari bagi warga Polowijen.

Tak hanya itu, bagi pengunjung yang tertarik dan ingin belajar kesenian, ada fasilitas yang disediakan oleh pengelola Kampung Budaya. Misal, jika ingin belajar tari Topeng Malangan, pengunjung bisa berkunjung ke kediaman penarinya, salah satunya adalah Mbah Kari. Beliau akan menceritakan mengenai sejarah Topeng Malangan di Malang dan informasi lain seputar kesenian tersebut. Begitu pula bagi warga atau masyarakat yang tertarik untuk membatik, Kampung Budaya juga menyediakan fasilitas untuk belajar membatik. Hal itu berlaku pula bagi kesenian tari topeng serta kerajinan gerabah dan pahat, di mana warga atau masyarakat dapat langsung belajar apabila tertarik untuk mempelajarinya.

Kampung Budaya Polowijen juga memberikan perhatian pada dunia literasi. Untuk meningkatkan minat baca warga di Kampung Budaya Polowijen, serta dalam upaya untuk meningkatkan budaya literasi di lingkungan masyarakat, Kampung Budaya Polowijen merealisasikannya dalam bentuk menghadirkan Perpustakaan di Kampung Budaya Polowijen atas bantuan keluarga besar Universitas Widya Gama yang menyumbangkan buku lebih dari 1.100 buah, dan perpustakaan ini telah diresmikan pula oleh Wakil Walikota Malang pada tanggal 10 Juni tahun 2017. Dengan adanya Perpustakaan tersebut diharapkan  akan diikuti oleh kampung-kampung lainnya di Kota Malang, sehingga budaya literasi dan pengetahuan yang di dapat akan semakin meningkat, dan kelak pasti memberikan manfaat bagi masyarakat di dalamnya.

Yuk bersama bersinergi melestarikan dan memajukan Kebudayaan Indonesia,
Lestari Budayaku Lestari Negeriku,
Salam Budaya ??

sumber : Kelurahan Sumbersari & Kelurahan Polowijen (Malang);
sumber foto : Kelurahan Polowijen
(bpw)