Pementasan Slendro I pada Rangkaian Acara International Gamelan Festival (IGF) 2018

Pementasan Panggung Slendro I di Benteng Vastenburg, pada Gelaran International Gamelan Festival (IGF) 2018 Solo

0
979
Pementasan Slendro I pada rangkaian acara International Gamelan Festival (IGF) 2018
Gelar Komunitas Budaya pada Gelaran International Gamelan Festival 2018

 

 

BPNB DIY, Solo 2018 – Pementasan Slendro I pada rangkaian acara International Gamelan Festival (IGF) 2018 digelar pada sabtu malam 11 Agustus 2018 di Benteng Vastenburg Kota Solo. IGF tahun 2018 ini digelar di banyak tempat di Kota Solo, di antaranya adalah Benteng Vastenburg, Sekolah Menegah Kejuruan Negeri (SMKN) 8 Surakarta, Balai Soedjatmoko, Pendopo Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, Teater Besar ISI Surakarta, Balaikota Kota Solo, Fakultas Hukum UNS, Wonogiri serta Karanganyar. Acara yang disajikan di antaranya adalah pertunjukan gamelan, pertunjukan sanggar seni budaya, Pameran dan peluncuran buku, pameran pengetahuan gamelan, dialog budaya, serta pemutaran film dan diskusi.

Acara dibuka oleh penampilan dari Sunardianto dan Blambangan Art School Rogojampi yang berasal dari Banyuwangi, yang menyajikan pertunjukan yang menggambarkan  Banyuwangi yang multikultur namun dapat hidup selaras, damai dalam harmoni. Alunan lirih melandai di awal, dan tiba-tiba menghentak ditengah dilanjutkan dengan tempo cepat dan kembali melandai saat jeda, kemudian kembali berlari dalam tempo cepat dan diakhir sajian kembali melambat, membuat para penonton seakan hanyut pada irama yang disajikan. Sajian kedua dibawakan oleh  Y Subowo bersama grupnya dengan judul “Crossing of The Sound”, yang  membawa penonton menyaksikan alunan musik yang tidak seperti biasanya, seakan membawa imaji ke dimensi lain. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan dari sanggar seni budaya Omah Cangkem / Pardiman Djoyonegoro (Yogyakarta) yang memiliki slogan “Salam cangkem salam mulia, adhem ayem mari di jaga”, menampilkan sajian akapela jawa di awal sajian,  dimainkan oleh para bocah (anak kecil) yang membawa kegembiraan mereka kepada para penonton, dengan sedikit dihiasi sajian teatrikal yang mengundang gelak tawa karena kelucuan dari kepolosan mereka, dan pada plot bagian tengah dimainkan  pula gamelan mengiringi tembang yang dinyanyikan para bocah.

 

 

Sejenak penonton kemudian dibawa untuk beristirahat dari hentakan musik dan tembang yang rampak dan keceriaan para bocah menyajikan pertunjukannya, pada sajian keempat penonton yang hadir dihibur oleh grup gamelan Siswa Sukra yang pada malam ini merupakan penampilan mereka yang kedua pada gelaran IGF 2018. Siswa Sukra adalah sebuah grup komunitas gamelan yang berasal dari Inggris, dipimpin oleh Peter Smith yang memiliki nama jawa Parto. Siswa Sukra menyajikan seni karawitan dan tembang jawa, serta tarian wayang orang dengan tokoh Gatotkaca. Apa yang mereka sajikan menjadi pengalaman menarik bagi para penonton yang hadir, lirik tembang jawa dinyanyikan melalui pelafalan vokal mereka yang british, namun mengakomodir aksen “medok” jawa, sungguh suatu usaha yang patut diapresiasi. Kemudian dilanjutkan dengan sajian wayang oleh Sunardi dan grupnya yang berasal dari Yogyakarta. Sebagai guru dan seniman, Sunardi telah menjajal berbagai bidang keahlian. Ia adalah penari sekaligus dalang. Ia juga seorang penggendang dan penembang. Ia menata gerak tari dan gending iringannya. Pun ia menyusun naskah untuk pentas wayang orang, wayang kulit, dan drama tari. Namun, yang paling penting, ia adalah seorang pengajar yang tak henti berkarya dan mengaryakan murid-muridnya demi keberlangsungan ekosistem gamelan seni karawitan (laman igfsolo.com; tokoh; Sunardi). Sunardi membawakan lakon “Tripomo / Tripama / Tiga Teladan ”, yang memiliki nilai-nilai dalam kehidupan yang patut diteladani oleh kita semua pada umumnya dan oleh para pengemban tugas negara pada khususnya, yang pada saat sekarang ini mulai jarang ditemukan.

Dua penyaji terakhir menutup acara pada malam hari ini, yaitu Wendo Setiyono dan grupnya dari Purbalinngga serta penampil dari tuan rumah (Solo), Dwi Priyo Sumarto dengan grupnya. Alunan musik calung dan lantunan tembang dari penyanyinya membuat Wendo Setiono dan grup mampu menyuntikkan lagi semangat para penonton untuk tetap berada di tempat. Suara yang indah dari sang penyanyi diiringi calung bambu dengan suaranya yang khas, dan sedikit dialog khas purbalingga, mampu membuat penonton tersadar dari kantuknya, semangat dalam irama-irama yang disajikan begitu terasa, menghibur para penonton yang ada. Dan kemudian sebagai penutup, Dwi Priyo Sumarto dan grupnya mampu memberikan sajian yang begitu rampak nan bersemangat, dengan kreativitasnya memberikan nuansa baru pada sajian seni budaya yang dipertontonkan. Mengakomodir hal kekinian dengan nuansa jiwa muda, tidak berbentur dengan seni konvensional, membuat sajiannya apik untuk dinikmati, menjadikannya sajian penutup yang mendapatkan aplaus yang besar tanda kepuasan dari para penonton.

 

 

Di penghujung acara, diumumkan pula lima penampil terbaik yang dikelompokkan menjadi dua yaitu sanggar seni/grup/paguyuban dan komposer, Di mana untuk sanggar seni/grup/ paguyuban adalah sanggar seni/grup/paguyuban yang tetap nguri-uri budaya yang hampir punah. Dengan tiga pengamat yaitu, Djaduk Ferianto (Djaduk Ferianto & Kuaetnika, Yogyakarta), Gondrong Gunarto, S.Sn., M.Sn. (Ghost Gamelan, Solo), dan Bambang Sukmo Pribadi (Maestro). Lima penampil tersebut adalah :
1. Lembaga Incling Krumpyung – Kulon Progo (sanggar seni)
2. Sanggar Kesenian Tradisional Moro Seneng – Kebumen (sanggar seni)
3. Joko Porong Winarko – Surabaya (komposer)
4. Omah Cangkem – Yogyakarta (komposer)
5. Sunardiyanto & Blambangan Art School Rogojampi – Banyuwangi (sanggar seni)

 

Lestari Budayaku Lestari Negeriku,
Salam Budaya ?
(bpw)