Mitos Kyai Candra Bumi Kajian Nilai Magis Relegius Bagi Masyarakat Pendukungnya

0
3366

Mitos Kyai Candra Bumi Kajian Nilai Magis Relegius Bagi Masyarakat Pendukungnya

Oleh: Suyami

 

Penelitian yang berjudul “Mitos Kyai Candrabumi: Kajian Nilai Magis Religius bagi Masyarakat Pendukungnya,” berangkat dari permasalahan adanya kepercayaan dan keyakinan masyarakat di wilayah Dusun Gupitan dan sekitarnya mengenai kekeramatan makam Kyai Candrabumi di Dusun Gupitan, wilayah Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa-Tengah, yang konon bisa memberi berkah kepada siapa pun yang mengajukan permohonan dengan niat dan maksud baik.

Adapun yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah siapa sebenarnya Kyai Candrabumi tersebut dan bagaimana awal mulanya, sehingga beliau menjadi begitu dikenal di kalangan masyarakat luas, serta diyakini bisa memberi berkah demi terkabulnya suatu keinginan; bagaimana pandangan masyarakat pendukungnya terhadap keberadaan Kyai Candrabumi; dan bagaimana nilai magis dan nilai religius dari mitos Kyai Candrabumi tersebut sehingga terus mendorong minat masyarakat untuk memohon berkah kepada beliau atau bernazar atas nama beliau dalam menginginkan sesuatu.

Setelah diadakan penelitian dan wawancara kepada beberapa pihak, di sini dapat diketahui bahwa mengenai siapa sebenarnya Kyai Candrabumi tersebut sampai saat ini belum ada penjelasan secara pasti. Tentang tokoh Kyai Candrabumi tersebut di kalangan masyarakat setempat masih terjadi kesimpang-siuran pendapat. Ada sebagian pihak yang mengatakan bahwa Kyai Candrabumi tersebut semula adalah pengikut Pangeran Diponegoro. Pada saat Pangeran Diponegoro tertangkap Belanda di Magelang, dia melarikan diri ke pedalaman wilayah Magelang, hingga akhirnya tiba di suatu tempat yang tersembunyi (nggupit). Di tempat tersebut dia menyepi hingga mencapai muksa. Sebagian lain berpendapat bahwa Kyai Candrabumi adalah seorang putra raja Yogyakarta yang bernama Gusti Amat. Oleh karena suatu sebab, beliau lolos dari istana, lalu mengembara ke wilayah pedalaman hingga sampai di suatu tempat yang tersembunyi (nggupit), kemudian beliau menyepi di tempat tersebut hingga mencapai muksa.

Mengenai hal itu, setelah dikonfirmasikan ke pihak Kraton Yogyakarta, didapatkan informasi bahwa untuk nama Kyai Candrabumi, di Kraton Yogyakarta tidak dikenal. Namun, untuk nama Gusti Amat, menurut penjelasan dari pihak Tepas Darah Dalem Kraton Yogyakarta, nama tersebut adalah sebutan lain dari Gusti Pangeran Harya Suryaningalogo, yang merupakan satu-satunya putra Sri Sultan HB V yang lahir dari permaisuri. Akan tetapi, beliau lahir setelah ayahandanya wafat sehingga tidak bisa diangkat menjadi HB VI karena sudah terlanjur mengangat adik HB V yang bernama Gusti Raden Mas Mustojo sebagai HB VI. Gusti Pangeran Harya Suryaningalogo juga tidak diangkat menjadi HB VII karena HB VI mempunyai putra yang lahir dari permaisuri sehingga yang diangkat menjadi HB VII adalah putra HB VI sendiri.

Selengkapnya: Patra-Widya, Vol. 4 No. 2, Juni 2003.