Kesenian Dhadungawuk: Merangkul Generasi Muda Melestarikan Seni Tradisi

0
2331
Salah satu adegan dalam pertunjukan Dhadungawuk

Yogyakarta, adalah daerah istimewa yang menawarkan banyak hal yang berkaitan dengan seni dan budaya. Setiap melangkahkan kaki di kota istimewa ini, tentunya akan disambut dengan banyak penampilan yang mengesankan untuk para wisatawan. Salah satu bentuk seni pertunjukan yang masih eksis di Yogyakarta hingga saat ini salah satunya adalah kesenian Dadungawuk. Keberadaan Dhadungawuk belum banyak dikenal oleh masyarakat luas, khususnya masyarakat Yogyakarta sendiri meskipun keberadaanya telah lama muncul.

Jika dilihat sepintas, kesenian ini hampir mirip dengan ketoprak. Kesenian ketoprak memiliki tema dan alur cerita yang lebih luas dan cenderung “bebas” dalam memilih judul, tetapi tidak dengan kesenian Dhadungawuk yang hanya berkisah tentang Dhadungawuk dan Jaka Tingkir. Dhadungawuk mempunyai cerita tersendiri yang masih menjadi “pakem” dari dahulu hingga saat ini. Seiring perkembangan zaman konsep penampilanya sedikit berkembang namu tetap tidak merubah inti cerita. Kesenian rakyat ini mulai muncul di Yogyakarta sekitar tahun 1950an. Jenis teater tradisional ini menempatkan dialog lebih mendominasi dibanding tarian dalam setiap pementasannya.

Dhadungawuk meruapakan salah satu bentuk teater rakyat yang masih eksis hingga saat ini.

Kesenian ini bercerita tentang tokoh yang bernama Dhadungawuk yang berasal dari dusun Kedhung Pingit. Dhadungawuk mempunyai keinginan kuat untuk menjadi prajurit Demak. Dalam perjalanan untuk mewujudkan keinganannya menjadi seorang prajurit Demak, Dadungawuk harus berhadapan dengan lawan yang cukup kuat yaitu Jaka Tingkir. Dalam pertempuran tersebut Dhadungawuk berhasil dikalahkan oleh Jaka Tingkir. Sejak peristiwa tersebut Jaka Tingkir diangkat menjadi prajurit Demak hingga akhirnya menempati posisi lurah tamtama di Demak.

Dilihat dari aspek penampilan, sebagain besar setiap tokoh terlebih dahulu menari sebelum melakukan adegan, meskipun tidak semuanya. Hal ini tergantung dari situasi dan menyesuaikan alur cerita. Setiap peran yang dimainkan dalam kesenian ini mempunyai karakter yang identik dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain itu penonton juga dapat mengambil hikmah dari setiap peran baik itu tokoh yang berkarakter baik atau buruk. Hal inilah yang menjadikan kesenian Dhadungawuk mampu bertahan hingga saat ini.

Salah satu adegan dalam pementasan kesenian Dhadungawuk. Dalam foto terlihat tokoh Dhadungawuk (foto kanan).

Setiap grup mempunyai cara dan aturan sendiri dalam menampilkan Dhadungawuk, namun tetap pada inti cerita yang sama. Untuk menampilkan cerita utuh dari kesenian ini dibutuhkan waktu sekitar 4-5 jam. Alat musik pengiring kesenian Dhadungawuk di antaranya adalah saron, gong, terbang, angklung, bedug, kendang, dan rebana. Sedangkan untuk pakaian adalah gaya Mataraman dengan cirikhas memakai iket dan surjan.

Salah satu adegan dalam penampilan kesenian Dhadungawuk.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti siapakah pencetus kesenian Dhadungawuk. Salah satu grup kesenian Dhadungawuk yang masih ada hingga saat ini adalah Tri Mudo Budaya yang berada di Desa Karangjati, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Grup kesenian ini berdiri sejak tahun 1971 yang saat ini digawangi oleh Bapak Sukirno. Banyak anak muda yang bergabung ke dalam grup kesenian ini, meskipun tidak mudah mengajak para anak muda untuk mngembangkan kesenian yang notabene belum begitu dikenal. Namun karena para pegiat kesenian ini memiliki tujuan yang sama, yaitu melestarikan kebudayaan Jawa, akhirnya Bapak Sukirno mampu mengajak beberapa anak muda untuk melesatarikan dan mengembangkan kesenian Dhadhungawuk hingga saat ini.

Salah seorang pemain sedang melakukan persiapan sebelum tampil.

Banyak alasan mengapa dadhungawuk masih bertahan, salah satunya karena kesenian ini adalah aset budaya Bangsa Indonesia khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Maka dari itu sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk tetap menjaga dan melestarikan kesenian tradisional Dhadungawuk.

Kontributor: Subiyantoro