Jurnal Patrawidya Vol. 17 No. 2, Agustus 2016

0
2806

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena perkenanNya Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dapat menerbitkan hasil penelitian yang dikemas dalam jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 17 No. 2, Agustus 2016. Jurnal Patrawidya edisi ini memuat tujuh artikel dalam bidang sejarah dan budaya dan satu tinjuan buku. Jurnal Patrawidya sampai kehadapan para pembaca berkat bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini Dewan Redaksi Patrawidya dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada para Mitra Bestari yang telah meluangkan waktu untuk membaca semua artikel dan memberi pertimbangan terhadap isi artikel. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada editor bahasa Inggris.

Pada tahun 2016, Patrawidya terbit dalam tiga (3) edisi yakni bulan April, Agustus dan Desember. Patrawidya edisi No. 2, Agustus 2016 diawali dengan artikel yang membahas tentang jaipong, kesenian Sunda yang awal kemunculannya dimotori oleh H. Suwanda dan Gugum Gumbira. Jaipong saat ini berkembang dan menyebar ke daerah dan banyak sanggar seni yang mengajarkan kesenian ini kepada para muridnya. Ulasan secara lengkap dapat ditemui dalam tulisan Rosyadi berjudul Menelusuri Asal Usul dan Perkembangan Kesenian Jaipong.

Artikel menarik tentang hubungan persahabatan antara anjing dengan manusia dilihat oleh Tetty Mirwa. Relasi antara manusia dengan anjing (hewan yang memiliki rasa setia terhadap majikan, jujur dan memiliki indera penciuman yang tajam) dapat dilihat dari berbagai literatur yang menggambarkan tentang persahabatan tersebut. Kesetiaan anjing menjadi sumber inspirasi para seniman dalam penciptaan karya seni. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kesetiaan Anjing sebagai Subyek dalam Penciptaan Karya Seni Patung dapat di temukan di dalam artikel yang ditulis oleh Tetty Mirwa.

Siti Munawaroh hadir dengan artikel yang berjudul Song-osong Lombhung Masyarakat Desa Kotah Sampang Madura. Menurut Munawaroh song-osong lombhung atau gotong royong di masyarakat Kotah terimplememtasikan dalam kehidupan di bidang ekonomi, tehnologi, dan religi, yang muncul dalam bentul tos-atosan, royongan, rembugan, jung rojung, ka’jegan, thok-othok dan pak- opak eling se ekapajung. Song-osong lumbhung juga sarat dengan nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, kekeluargaan, saling menghormati, nilai ekonomi, kepedulian sosial dan kedisiplinan.
Suwarno menulis tentang sebuah tradisi unik yang berasal dari Desa Loram Kulon, Jaten, Kudus, Jawa Tengah tentang Tradisi Manten Mubeng Gapura. Menurut Suwarno, tradisi tersebut masih bertahan dan dilakukan oleh masyarakat karena tradisi itu diyakini dapat membawa kemaslahatan dalam kehidupan. Tradisi Manten Mubeng Gapura adalah sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di Loram Kulon, Kudus, yakni pengantin yang sudah melakukan upacara ijab qobul kemudian berjalan mengelilingi gapura masjid di Loram Kulon searah jarum jam. Pada masa Hindhu dan Budha ada istilah pradaksina atau mengelilingi candi searah jarum jam. Tradisi Manten Mubeng Gapura memiliki kemiripan dengan konsep pradaksina dalam kepercayaan Hindu dan Budha.

Bambang H. Suta Purwana menyumbang sebuah artikel yang berjudul Sintuwu Maroso Ri Tana Poso. Artikel tersebut menganalisis kapasitas modal sosial yang terbentuk dari pranata adat sintuwu maroso dalam proses rekonsiliasi pascakonflik di Poso. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa modal sosial yang terbentuk dari pranata sintuwu maroso memiliki fungsi social bounding yang mengikat ke dalam kelompok kekerabatan dan komunitas. Namun juga bersifat intrakomunal sehingga gagal untuk membangun rekonsiliasi masyarakat Poso yang plural.

Artikel berikutnya membahas tentang praktik pristitusi dan perdagangan wanita dan dampak nya terhadap korban maupun terhadap lingkungannya di masa kolonial. Artikel yang di tulis Indra Fibiona tersebut menemukan bukti-bukti bahwa bentuk eksploitasi wanita di Hindia Belanda dikemas melalui kesenian dan melalui perekrutan tenaga kerja. Belanda bersikap mendua dalam memerangi prostitusi. Satu sisi melarang praktik tersebut tetapi disisi lain menarik pajak dari para pelaku dalam bisnis tersebut. Kegiatan prostitusi membawa dampak sosial berupa penurunan nilai moral, sehingga banyak reaksi yang muncul dari masyarakat dan organisasi pergerakan yang menentang praktik prostitusi. Maraknya kegiatan prostitusi mendapat sorotan yang tajam hingga menjadi bahan perbincangan di Konferensi Liga Bangsa-Bangsa di Bandung tahun 1937.

Edisi kali ini juga memuat artikel yang berjudul Pengembangan Institusi Budaya Alek Nagari sebagai Penguatan Modal Sosial tulisan Noni Sukmawati yang berisi ikatan-ikatan sosial yang menopang anak nagari di dalam konteks “kembali ke nagari”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh tahun sejak dicanangkannya ‘kembali ke nagari” tahun 2000, proses penguatan nagari masih banyak menemui kendala yakni partisipasi soaial anak nagari yang masih lemah.

Edisi ini ditutup dengan sebuah artikel menarik yang mengupas tentang Modernisasi Kota-Kota Indoonesia. Artikel yang ditulis Sarkawi tersebut merupakan sebuah tinjuan buku yang berjudul Cars, Conduits, and Kampongs: The Modernaization of the Indonesian City, 1920-1960, dengan editor Freek Colombijn & Joost Coté . Buku terbitan Brill tahun 2015. Menurut Sarkawi kehadiran buku itu penting untuk diapresiasi . Buku tersebut membahas situasi Indonesia tahun 1920- 1960 an dan pembaca dapat menemukan berbagai aspek lain dari kehidupan masyarakat yang jauh dari ‘riuh-rendah’ politik. Selain itu, para penulis yang berasal dari berbagai negara dan disiplin ilmu, membuat buku ini berhasil menyuguhkan berbagai perspektif dalam memahami beberapa bagian dalam sejarah Indonesia, khususnya pada dekade kedua hingga ke enam abad XX. Buku ini tidak hanya penting bagi sejarawan, tetapi juga bagi sosiolog, antropolog, perencana kota, dan bagi mereka yang tertarik pada persoalan masyarakat, teknologi, dan ruang.

Ibarat pepatah “tiada gading yang tak retak”, penerbitan jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 17 No. 2, Agustus, 2016 ini masih ada kekurangannya. Namun begitu kami berharap semoga hasil terbitan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan jurnal ini. Selamat membaca.

selengkapnya, silahkan unduh PDF Jurnal Patrawidya, Vol.17, No.2, agustus 2016