Jurnal Patrawidya Vol. 16 No. 4, Desember 2015

0
2117
Jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No. 4, Desember 2015

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena perkenanNya Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dapat menerbitkan hasil penelitian yang dikemas dalam Jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No. 4, Desember 2015. Jurnal Patrawidya edisi ini memuat tujuh artikel dalam bidang sejarah dan budaya. Jurnal Patrawidya yang sampai kehadapan para pembaca berkat bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini Dewan Redaksi Patrawidya dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada para Mitra Bestari yang telah meluangkan waktu untuk membaca semua artikel dan memberi pertimbangan terhadap isi artikel. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada editor bahasa Inggris.

Mengakhiri edisi tahun 2015, Patrawidya menghadirkan tujuh artikel sejarah dan budaya. Dalam edisi Desember ini, Danang Bramasti menyumbangkan artikelnya tentang dampak sosial sebuah karya seni pada kaum miskin dan tertindas. Dengan menggunakan teori Dunia Seni dari Howard S. Becker diperoleh hasil bahwa situasi sosial pada 1920-an, terutama situasi pribumi dan para buruh, mempengaruhi Schmutzer bersaudara, untuk membuat rumah sakit, sekolah, panti asuhan, dan tempat peribadatan Katolik yang berbentuk candi yang kemudian dikenal dengan Candi Ganjuran. Setelah dibangun, candi ini terlupakan, baru kemudian pada 1990, Gregorius Utomo Pr, menggali kembali semangat pendiri candi ini dengan mencanangkan Deklarasi Ganjuran. Sejak itu, Candi Ganjuran menjadi tempat peziarahan Katolik yang terkenal di Indonesia. Para peziarah menyumbangkan uang yang kemudian digunakan untuk membantu mereka yang lemah secara ekonomi.

Artikel kesejarahan ditulis oleh Dwi Ratna Nurhajarini yang mengupas tentang biografi penari gandrung yang berasal dari Desa Kemiren, Banyuwangi bernama Temu. Sosok Temu oleh masyarakat Banyuwangi dianggap identik dengan gandrung. Oleh karena itu Temu pun mendapat predikat sebagai seorang maestro gandrung. Temu mendedikasikan dirinya kepada seni gandrung dengan cara melatih para calon penari gandrung. Sanggar “Sopo Ngiro” merupakan wujud dedikasinya pada dunia seni gandrung dengan tujuan untuk melestarikan, mencari calon penerus gandrung. Panggung pergelaran gandrung bagi Temu menjadi ladang ekonomi serta ruang untuk berekspresi. Mencintai gandrung dengan selalu menjaga penampilan tatkala di atas panggung dan didukung oleh kekuatan suara yang khas Using, keahlian dalam melontarkan wangsalan dan keluwesan gerak serta kemampuaannya mendidik para calon penerus gandrung menjadikan Temu sebagai seorang tokoh gandrung yang cukup popular.

Pewarisan tradisi membatik di Desa Kotah, Sampang, Madura menjadi perhatian Ernawati Purwaningsih. Hasil penelitiannya menunjukkan eksistensi membatik di daerah ini dipengaruhi adanya warisan tradisi membatik dari leluhur, kulitas SDM rendah sehingga kesempatan mencari kerja rendah, dan lingkungan alam yang mempengaruhi keterbatasan kesempatan kerja. Banyaknya ibu rumah tangga yang membatik menjadi salah satu pendorong anak-anak tertarik belajar membatik. Anak-anak terlibat dalam pembuatan isenisen.

Indra Fibiona bersama dengan Siska Nur Azizah Lestari mengupas tentang rivalitas jamu Jawa dan obat tradisional Cina pada abad XIX sampai dengan awal abad XX. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa Jamu Jawa (traditionele Javaanse geneeskunde) kurang memiliki daya saing dalam beberapa hal jika dibandingkan dengan obat tradisional Cina (Traditionele Chinese Geneeskunde). Kurangnya daya saing tersebut disebabkan oleh faktor, sistem distribusi dan branding jamu yang belum bisa meraih pangsa pasar potensial.

Penelitian Mudjijono mengupas mengenai sistem pengetahuan tentang prakiraan hari baik dan buruk. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ketepatan prakiraan esoso dipengaruhi oleh efek barnum yang terdapat dalam bagan esoso Ibnu Hajar dan epa’tarala Caneng. Ibnu Hajar mempunyai keahlian memperkirakan hari baik dengan pattiro (melihat), sedangkan Caneng memperkirakan hari baik dengan epa’ tarala atau empat laku. Dalam studi observasi yang dilakukan, penulis melihat bahwa prakiraan hari baik melalui esoso memiliki tingkat akurasi yang signifikan karena dibantu pengetahuan mengenai musim. Selain itu efek barnum yang terdapat dalam bagan esoso menjadi kunci utama dalam menentukan akurasi prakiraan hari baik dan buruk.

Muhammad Yuanda Zara mengupas tentang kampanye kebijakan-kebijakan Inggris dalam dua surat kabar, yakni The Fighting Cock dan Evening News. Tulisan ini mencoba menganalisis bagaimana kedua surat kabar itu dikelola dan bagaimana mereka melaporkan berbagai perkembangan politik dan militer di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa laporan The Fighting Cock dan Evening News menjustifikasi kehadiran
Inggris di Indonesia, kekerasan yang dilakukan pihak Indonesia, heroisme pasukan Inggris dan India, dan kemenangan yang diraih pasukan Inggris. Kampanye dalam dua surat kabar dijalankan sebagai konsekuensi atas pengiriman pasukan Inggris dan India ke Indonesia untuk melucuti pasukan Jepang dan menyelamatkan tawanan perang dan interniran berdampak pada pertempuran dengan pihak Indonesia karena Inggris mendukung kembalinya kolonialisme Belanda.

Tulisan Uji Nugroho Winardi mengungkap orientasi politik dan gagasan kebangsaan yang berkembang di Bali untuk menunjukan adanya partikularitas dalam merespon perkembangan nasionalisme Indonesia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perkembangan nasionalisme pada paruh pertama abad ke-20 sering dianggap sebagai hasil dari komitmen bersama yang berjalan linear dengan kemunculan elit modern Indonesia. Meskipun kelompok elit terdidik di Bali cukup giat dalam menyampaikan gagasannya mengenai kemajuan, orientasi politik mereka condong ke dalam menyangkut tentang persoalan domestik. Adanya kompleksitas dari dalam masyarakat Bali menyangkut kasta, adat dan tradisi menjadikan pemikiran masyarakat tidak tertembus oleh ide-ide modern.

Ibarat pepatah “tiada gading yang tak retak”, penerbitan jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No. 4, Desember 2015 ini masih ada kekurangannya. Namun begitu kami berharap semoga hasil terbitan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan jurnal ini. Selamat membaca.

Dewan Redaksi Patrawidya

Selengkapnya:Patrawidya Vol 16 No 4, Desember 2015