Jurnal Patrawidya Vol. 16 No. 3, September 2015

0
1852
rnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No. 3, September 2015

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena perkenanNya Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dapat menerbitkan hasil penelitian yang dikemas dalam Jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No. 3, September 2015. Jurnal Patrawidya edisi ini memuat tujuh artikel dalam bidang sejarah dan budaya, hasil penelitian Balai Pelestarian Nilai BudayaYogyakarta, peneliti tamu, dan peneliti undangan.

Jurnal Patrawidya yang sampai kehadapan para pembaca berkat bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini Dewan Redaksi Patrawidya dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada para Mitra Bestari yang telah meluangkan waktu untuk membaca semua artikel dan memberi pertimbangan terhadap isi artikel, ucapan terima kasih juga kami sampai kepada editor bahasa Inggris.

Patrawidya edisi September kali ini hadir dengan tujuh artikel yang terangkum dalam rumpun kajian tentang sejarah dan budaya. Edisi kali ini diawali tulisan Damardjati Kun Marjanto yang mengupas tradisi Sasi ikan lompa di Haruku Maluku Tengah. Menurut Marjanto, tradisi sasi ikan lompa yang menjadi kegiatan masyarakat Haruku memiliki kandungan aspek ekonomi dan sosial. Aspek ekonomi karena hasil ikan lompa itu sendiri, dan aspek sosial terkait dengan solidaristas antarwarga yang tampak dalam kegiatan sasi ikan lompa. Di samping itu sasi ikan lompa juga menunjukkan ketaatan warga terhadap aturan adat dan menjaga harmoni dengan alam.
Keindahan, harmoni dengan alam dan eksotisme Karesidenan Priangan pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 dituliskan oleh Gregorius Andika Ariwibowo berdasarkan sumber yang didapat dari jurnal perjalanan para turis Eropa tatkala mengunjungi Priangan. Kesaksian para turis meruntuhkan stigma negatif tentang penduduk bumiputra (Hindia Belanda) yang malas dan terbelakang. Untuk mendapatkan gambaran yang rinci tentang Priangan dapat dibaca secara komplit dalam tulisan yang dimuat dalam jurnal ini.

Artikel yang cukup menarik ditulis bersama oleh tiga orang H. Purwanto, H. Hery Santosa dan Anton Haryono mengusung tentang wacana identitas nasional yang hadir melalui buku teks pelajaran sejarah yang ada Indonesia dan Inggris. Penulis menemukan bahwa di Inggris buku teks pelajaran sejarah mewacanakan bahwa bangsa Inggris adalah subjek dari berbagai peristiwa sejarah, menarasikan tentang pencapaian dan sukses yang diraih bangsa Inggris. Bahkan untuk menonjolkan wacana itu dilakukan mitologisasi pada beberapa tokoh dan peristiwa sejarah. Dalam buku teks pelajaran sejarah di Indonesia justru mewacanakan masyarakat Indonesia sebagai objek kekuatan asing khususnya bangsa Belanda.

Isni Herawati hadir melalui sumbangan artikel yang mengupas tentang potret usaha kerajinan yang dilakukan oleh para pengusaha kuningan di daerah Bejijong, Mojokerto. Daerah Bejijong dekat atau bahkan menjadi area dari peninggalan situs Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, model-model patung Budha dan Siwa menjadi sumber inspirasi bagi para perajin kuningan daerah Bejijong. Pengusaha di Bejijong dalam mempertahankan jaringan pasar yang telah terbentuk melalukan berbagai terobosan antara lain perbaikan kualitas, menjaga ketepatan waktu pembuatan dan pengiriman serta menjaga kepercayaan.

Apakah arti sebuah nama? Sering ada lontaran kata seperti itu. Di samping itu juga ada pendapat bahwa “di dalam nama ada sebuah doa atau pengharapan”. Menurut Moordiati nama menjadi sebuah fenomena yang unik di dalam masyarakat Jawa khususnya di wilayah Jombang. Perkembangan dan perubahan makna dalam pemberian nama untuk anak -anak yang lahir dari tahun 1950-2000 dikupas dalam artikel yang ditulis Moordiati. Menurut Mordiati, ada perubahan menarik yang terjadi di Jombang terkait dengan pemberian nama pada anak-anak yang lahir antara tahun 1950-2000, makna dan harapan tidak lagi mendominasi nama-nama anak karena ada masuk juga trend nama-nama yang popular pada
masa itu.

Su Ritohardoyo hadir dalam artikel yang menarik tentang pembangunan rumah susun sebagai salah satu model strategi pembangunan perumahan berkelanjutan. Menurut Su Ritohardoyo pembangunan rumah susun merupakan solusi penyediaan perumahan rakyat yang tepat dan rasional bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Patrawidya edisi September ini ditutup oleh artikel dari Suwarno yang membahas tentang relasi antara
Muhammadiyah dengan Masyumi di Yogyakarta dari tahun 1945-1960. Suwarno menunjukkan bahwa antara tahun 1945-1960 banyak anggota Masyumi yang berasal dari Muhammadiyah. Keterlibatan Muhammadiyah baik secara organisasi maupun secara perorangan ke dalam Masyumi menjadi salah satu kekuatan utama bagi Masyumi sehingga menjadi partai yang cukup diperhitungkan di dalam arena politik di Yogyakarta.
Ibarat pepatah “tiada gading yang tak retak”, penerbitan jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No. 3, September 2015 ini masih ada kekurangannya. Namun begitu kami berharap semoga hasil terbitan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini. Selamat membaca

Dewan Redaksi Patrawidya

Selengkapnya:Patrawidya vol 16, no 3 September 2015