Jurnal Patrawidya Vol. 16 No.2, Juni 2015

0
2375
Jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No.2, Juni 2015

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena perkenaanNya, Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dapat menerbitkan hasil penelitian yang dikemas dalam Jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No.2, Juni 2015. Jurnal Patrawidya edisi ini memuat beberapa artikel dalam bidang sejarah dan budaya, basil penelitian Balai Peiestarian Nilai BudayaYogyakarta, peneliti tamu dan peneliti undangan.

Jurnal Patrawidya yang sampai kehadapan para pembaca berkat bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini Dewan Redaksi Patrawidya dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada para Mitra Bestari yang telah meluangkan waktu untuk membaca semua artikel dan memberi pertimbangan terhadap isi artikel. ucapan terima kasih jugs kami sampai kepada editorbahasa Inggris.

Patrawidya edisi Juni kali ini hadir dengan tujuh artikel yang terangkum dalam rumpun kajian tentang sejarah dan budaya. Abdul Wahid menulis tentang The Bloody Sunday of Batavia: Re-examining The Chinese Massacre of 1740. Pembantaian orang-orang Cina di Batavia tahun 1740 merupakan salah satu peristiwa kekerasan terburuk dalam sejarah modern awal Indonesia. Abdul Wahid bermaksud menilai ulang interpretasi dan pemahaman historis tentang peristiwa tersebut dan meneoba menawarkan penjelasan alternatif mengenai sebab dan konsekuensi jangka panjang dari peristiwa kekerasan etnik dan rasial berskala besar pertama dalam sejarah modern di Indonesia. Artikel selengkapnya dapat dibaca dalam edisi ini.

Indentitas kolektif komunitas orang Sawang di Pulau Belitung dilihat dari ritual Muang Jong menjadi perhatian Bambang H. Suta Purwana yang dituliskan dalam artikel ini untuk para pembaca. Bagi orang Sawang, ritual Muang Jong menjadi penanda identitas kolektif yang menunjukkan bahwa mereka keturunan para pelaut tangguh dan penjelajah samudera. Ritual tersebut juga menjadi simbol solidaritas yang mempersatukan orang-orang Sawang dari berbagai daerah di Provinsi Bangka Belitung.

India Fibiona hadir dalam artikel yang mengupas tentang sejarah “lotere legal” sumbangan berhadiah di DIY tahun 1970-an hingga 1993. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dana dari daerah banyak tersedot ke Jakarta untuk pengundian lotere. Keberadaan KSOB dan TSSB yang kemudian bermetamorfosis menjadi SDSB banyak menyulut protes dari berbagai kalangan, karena dampak negatif yang ditimbulkan dari lotere tersebut. Pemerintah akhimya menutup SDSB di tahun 1993, namun begitu masyarakat DIY ada yang masih merindukan lotere tersebut hingga muncul lotere ilegal.

Permasalahan perdagangan lintas batas di perbatasan Indonesia-Filipitta menjadi kajian Pristiwanto. Hasil temuan dalam penelitiannya bahwa ada pungutan liar atas barang bawaan para pelintas batas. Di sisi lain, aktivitas perdagangan lintas batas berorientasi untuk memasok barang-barang perdagangan ke pusat kecamatan atau kabupaten bukan ke pulau-pulau kecil di sekitar garis perbatasan.

Rois Leonard Aries mengangkat permasalahan konflik vertikal yang terjadi antara masyarakat Desa Ketenong II dengan pemerintah terkait pemanfaatan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Konflik disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dari pemerintah, serta klaim masyarakat terhadap lahan pertanian yang termasuk dalam wilayah Taman Nasional Kerinci Sebtat berdasarkan hukum adat Rejang. Konflik yang timbul bisa diredam dengan kegiatan sosialisasi pemerintah Kabupaten Lebong dan pengelola TNKS. Selain itu, peran lembaga adat kuteui sangat penting untuk menjembatani sosialisasi pemerintah kepada warga Desa Ketenong II.

Interpretasi mengenai wong pinter menurut masyarakat Temanggung diangkat Sartini. Wong pinter memiliki perbedaan dengan kyai dan dukun. Perbedaan antara wong pinter dan dukun terletak pada bentuk imbalan yang diberikan, sedangkan wong pinter dengan kyai terletak pada penguasaan ilmu agama Islam. Kyai yang merangkap sebagai wong pinter memahami agama Islam secara benar, sedangan wong pinter yang bukan kyai tidak selalu paham dengan ajaran agama Islam.

Sudrajat mengkaji perilaku sosial budaya terkait peningkatan kesejahteraan rumah tangga tani lahan kering di Desa Bedoyo Ponjong. Keragaman perilaku sosial-budaya rumah tangga tani dalam srategi peningkatan kesejahteman maupun dalam mempertabankan kelangsungan hidupnya tampak seperti pada strategi peningkatan pendapatan untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga ditemukan 9 (sembilan) jenis perilaku sosialbudaya yang dipraktikan rumah tangga tani. Perilaku tersebut antara lain tidak lagi berperinsip mangan ora mangan sing penting kumpul, menghindari ramalan dukun/ orang pintar/ kyai, berusaha untuk lebih rasional dan bekerja, membudayakan anggota rumah tangga untuk bekerja keras, memotivasi anggota keluarga untuk merantau, berprinsip bahwa semua hari adalah hari baik untuk produksi, mengubah prinsip bahwa wanita tidak hanya melakukan pekerjaan di dapur/domestik, berprinsip modal pendidikan anak lebih berharga daripada memberikan modal finansial, dan menekan jumlah anak yang dilahirkan.

Ibarat pepatah “tiada gading yang tak retak”, penerbitan jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No. 2, Juni 2015 ini masih ada kekurangannya. Namun begitu kami berharap semoga hasil terbitan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan jurnal ini. Selamat membaca.

Dewan Redaksi

Selengkapnya download file pdf:Patrawidya Vol 16 No 2 Juni 2015