Jurnal Patrawidya Vol. 16 No.1, Maret 2015

0
2601
Jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No.1, Maret 2015

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena perkenaanNya Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta dapat menerbitkan hasil penelitian yang dikemas dalam Jurnal Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No.1, Maret 2015. Jurnal  Patrawidya edisi ini memuat beberapa artikel dalam bidang sejarah dan budaya, hasil penelitian Balai Peiestarian Nilai BudayaYogyakarta, peneliti tamu dan peneliti undangan.

Jurnal  Patrawidya yang sampai kehadapan para pembaca berkat bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini Dewan Redaksi Patrawidya dengan segala kerendahan hati mengucapkan terima kasih kepada para Mitra Bestari yang telah meluangkan waktu untuk membaca semua artikel dan memberi pertimbangan terhadap isi artikel. ucapan terima kasih juga kami sampai kepada editor bahasa Inggris.

Mengawali edisi tahun 2015, Patrawidya menghadirkan delapan artikel sejarah dan budaya. Dua artikel membahas tentang bertemunya penduduk lokal dengan pendatang. Artikel Cahyo Pamungkas yang menjadi pembuka edisi Maret ini, membahas tentang hubungan antar umat beragama di Kaimana, yang dilihat dari perspektif sejarah. Perjumpaan antara pendatang baik yang Muslim, Kristen dan yang lainnya tidak menjadi masalah bagi orang Kaimana sebab mereka memiliki identitas keluarga yang menjadi pemersatu. Tulisan lainnya dari Jumhari yang membahas tentang integrasi sosial antara penduduk lokal dengan pendatang di Kota Bengkulu. Tulisan Jumhari juga memakai perspektif sejarah untuk mengupas masalah tersebut. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa realitas sosial masyarakat multietnik dibangun oleh ikatan dan identitas kesukuan di Bengkulu merupakan manifestasi dari adanya interaksi, komunikasi dan integrasi sosial.

Masih dalam ranah artikel kesejarahan, Lucia Juningsih hadir melalui hasil penelitiannya tentang transformasi sosial ekonomi migran kembali di Kabupaten Grobogan. Babagan waktu yang diambil antara tahun 1990-2010. Migran tersebut semula bekerja di Malaysia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa para migran-kembali dapat dibedakan dalam dua kelompok, yakni kelompok yang mengalami mobititas sosial vertikal dan kelompok yang tidak mengalami transformasi sosial ekonomi (hanya mengalami mobititas horisontal) dari buruh kembali ke buruh, posisi mereka tetap di pinggiran. Kontestasi Pelestarian Warisan Budaya di Trowulan menjadi pertahatian Sugih Biantoro. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa relasi antar pihak yang berkepentingan dapat menciptakan kontestasi antar mereka dan besar pengaruhnya terhadap keberhasilan upaya pelestarian di Trowulan. Artikel Wacana “Satu Bahasa” dalam Historiografi Pendidikan Indonesia ditulis oleh Hieronymus Purwanta yang menggali kepentingan dan ideologi yang berada di balik wacana “satu bahasa” yang diproduksi dan reproduksi oleh pemerintah Orde Baru. Menurut Purwanta wacana “satu bahasa” menjadi salah satu sebab ditinggalkannya identitas yang bersifat tradisional dan kesukuan untuk digantikan dengan identitas nasional yang yang modem.

Artikel yang lainnya berasal dari Heksa Biopsi Puji Hastuti yang mengupas tentang Aktualisasi adat Suku Tolaki yang dilihat dari simbol Kalo dalam mitos Oheo. Hasil penetitiannya menunjukkan bahwa dalam mitos Oheo simbol kalo hadir dalam pokok adat sara mbedulu (pokok adat dalam hubungan keketuargaan dan persatuan) dan sara mandara (pokok adat peketjaan ketrampilan dan keahlian). Sumintarsih menulis tentang Makna Sapi Kerapan dari Perspekti Orang Madura Kajian Sosial, Ekonomi, Budaya dengan pendekatan etnosains. Menurut Sumintarsih sapi kerapan bagi orang pengerap tidak hanya hanya menunjukkan sebagai orang kuat dari segi sosial ekonomi tetapi sekaligus sebagai simbol prestise keluarganya di masyarakat, serta simbol kebanggaan sebagai penerus tradisi nenek moyang. Pada gilirannya sapi kerap juga memiliki nilai jual yang tinggi. Kemenangan sapi kerap menjadi simbol keberbasilan dan kebanggan bagi joki dan perawatnya. Dalam praktiknya sapi kerapan terkandung makna relasional, dan ambisi juragan pemilik sapi untuk memperoleh kemenangan.

Edisi nomor ini ditutup oleh Surono melalui artikelnya berjudul Kentongan: Pusat Informasi, Identitas dan Keharmonisan pada Masyarakat Jawa. Hasil penelitian Surono menunjukkan bahwa kentongan di masyarakat Jawa berfungsi sebagai pesan ritual keagamaan. pesan akan terjadinya sesuatu, dan saran mengundang seseorang untuk hadir dalam acara tertentu. Di samping itu juga bermakna sebagai identitas masyarakat, status sosial dan menjaga keharmonisan masyarakat. Untuk Iebih detailnya dapat dibaca dalam artikel utuh yang ada di jurnal  ini.

Ibarat pepatah “tiada gading yang tak retak”, penerbitan jurnal  Patrawidya Seri Sejarah dan Budaya Vol. 16 No. 1, Maret 2015 ini masih ada kekurangannya. Namun begitu kami berharap semoga hasil terbitan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan jurnal  ini. Selamat membaca.

Dewan Redaksi Patrawidya

Selengkapnya: Patrawidya Vol 16 No 1 Maret 2015