Gelar Seni Komunitas Budaya dalam Rangkaian Acara IGF 2018 (Platform Indonesiana)

Gelar Seni Komunitas Budaya 2018 "Revitalisasi Komunitas Seni-Budaya sebagai Wahana Penguatan Jatidiri Bangsa" bertempat di Surakarta, 9-11 Agustus 2018, sub Kegiatan International Gamelan Festival (IGF) 2018

0
2069
Gelar Seni Komunitas Budaya 2018

 

 

Gelar Seni Komunitas Budaya, BPNB DIY 2018 – Bangsa Indonesia dibangun dalam keragaman budaya. Keragaman itu diantaranya terwujud dalam keberadaan komunitas budaya di masyarakat. Mereka hidup serta berkembang menghidupi nilai budaya dan aktivitas tradisinya masing-masing. Nilai-nilai khas tersebut merupakan pegangan hidup dan prinsip aktivitas sehari-hari bagi anggotanya. Komunitas Budaya adalah kesatuan sosial yang masih memegang tradisi budaya dan mempunyai ikatan geneologis, kesadaran wilayah sebagai kesatuan daerah teritorial, dan identitas sosial dalam berinteraksi berdasarkan nilai, norma, aturan dan adat-istiadat serta memiliki berbagai aktivitas sosial menurut pola tertentu. Komunitas Budaya terdiri atas: Komunitas Tradisi (Keraton, Desa Adat, Komunitas Adat, Lembaga Adat) dan Komunitas Kepercayaan (Organisasi Penghayat Kepercayaan).

Nilai budaya dan aktivitas tradisi ini kemudian disebut sebagai kearifan lokal, merupakan warisan nenek moyang bangsa dalam tata nilai kehidupan yang menyatu dalam bentuk praktik religi dan adat istiadat. Dalam adat istiadat yang ada di Komunitas Budaya, ada rangkaian kesenian yang mengiringinya ataupun tumbuh dalam kehidupan budaya masyarakat Komunitas Budaya, baik yang berhubungan dengan religi ataupun sebagai hiburan semata.

Untuk itu maka dirasa perlu memberi ruang ekspresi untuk mengenalkan pada masyarakat tentang budaya tersebut melalui pentas seni komunitas budaya. Pada kesempatan ini kegiatan Gelar Seni Komunitas Budaya 2018, yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (BPNB DIY) akan melebur pada sebuah acara besar dari “Platform Indonesiana” , yaitu International Gamelan Festival (IGF) 2018.

International Gamelan Festival 2018 sendiri adalah sebuah festival berskala internasional yang dihelat pada salah satu lokus terpenting (Solo), yang bertujuan untuk menciptakan arena mudik atau “homecoming” bagi kelompok-kelompok gamelan yang telah menyebar ke berbagai belahan dunia dalam beraneka corak perkembangan dan fungsi. Sekurang-kurangnya 19 kelompok gamelan luar negri dan 33 kelompok gamelan dalam negeri, serta belasan peneliti/ ahli gamelan, akan pulang kampung (home coming) ke Solo untuk tampil di IGF 2018 antara tanggal 9-16 Agustus 2018.

Mengapa IGF 2018 menjadi peristiwa mudik/ mulih? Kita mungkin sudah tahu, bahwa gamelan diduga telah ada di Jawa, lebih dari seribu tahun lalu. Bukti arkeologisnya terdapat pada salah satu panel candi Borobudur yang yang menggambarkan tentang orang menari diiringi tabuhan seperangkat alat musik dan disaksikan oleh orang yang duduk dengan pendamping di sisinya. Candi itu sendiri, diperkirakan dibangun pada abad IX-X, yang artinya telah lebih dari seribu tahun dari sekarang. Selanjutnya, kultur gamelan dalam beragam corak dan nama, bisa kita temukan di hampir seluruh penjuru Nusantara, mulai dari Aceh di barat hingga Flores, di Timur. Bahkan, sejak penghujung abad XIX, gamelan mulai dibawa ke Expo Paris, dan selanjutnya muncul kelompok-kelompok gamelan di berbagai Negara Eropa, Amerika, Asia, Australia. Singkatnya, gamelan telah menjadi diaspora sejak berabad lampau.

Fakta bahwa gamelan hidup, berkembang dan menemukan bentuk ekspresi terbaiknya di Nusantara kiranya cukup untuk memberi landasan klaim bahwa, Indonesia adalah rumahnya gamelan, dan Solo-Jogja adalah salah satu rumahnya terbaiknya. Mudik untuk apa? Peristiwa mudik adalah peristiwa kultural untuk melakukan bersilaturahmi, berziarah dan memikirkan masa depan bersama. Bersilaturahmi antar komunitas-komunitas gamelan, untuk menziarahi keindahan dan akar asal kultur gamelan dan memikirkan masa depan bersama yang bisa diberikan dan diwujudkan untuk dunia. Arena mudik komunitas gamelan pada IGF 2018 diharapkan akan menjadi arena untuk merayakan keindahan gamelan, keindahan berbangsa dan keindahan dunia.

Kegiatan Gelar Seni Komunitas Budaya tahun 2018, dengan tema “Revitalisasi Komunitas Seni-Budaya Sebagai Wahana Penguatan Jatidiri Bangsa”, yang menjadi sub kegiatan dari IGF 2018 diharapkan dapat menghasilkan outcome berupa Pengenalan khasanah budaya kepada masyarakat khususnya generasi muda melalui Gelar Seni Komunitas Budaya, serta dapat menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya yang dimiliki. Kegiatan ini diikuti oleh 12 grup seni/sanggar seni/paguyuban peserta, meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang masing-masing diikuti oleh 4 sanggar seni/grup/ paguyuban. Adapun jumlah anggota peserta sebanyak 120 orang. Dua belas grup tersebut terdiri dari :

1. Lembaga Incling Krumpyung – Kulon Progo (DIY)
2. Sunardi – Yogyakarta (DIY)
3. Y. Subowo – Yogyakarta (DIY)
4. Omah Cangkem – Yogyakarta (DIY)
5. Sanggar Seni Iromo Turonggo – Magelang (Jateng)
6. Sanggar Kesenian Tradisional Maraseneng – Kebumen (Jateng)
7. Dwi Priyo Sumarto – Solo (Jateng)
8. Wendo Setiyono – Purbalingga (Jateng)
9. Sanggar Seni Kikana Rahman Art Production – Sampang (Jatim)
10. Sanggar Seni Jaranan Kudha Manggala – Tulungagung (Jatim)
11. Joko Porong Winarko – Surabaya (Jatim)
12. Blambangan Art School Rogojampi – Banyuwangi (Jatim)

Dari 12 grup seni tersebut di atas, 7 grup seni/sanggar diampu oleh panitia IGF 2018 dan 5 grup seni/sanggar seni diampu oleh BPNB DIY. Kegiatan IGF 2018 akan berlangsung dari tanggal 9 s.d. 16 Agustus 2018, di mana sub kegiatan yang diampu oleh BPNB DIY (Gelar Seni Komunitas Budaya 2018) termasuk di dalamnya dan akan di gelar dari tanggal 9 s.d. 11 Agustus 2018.

Lestari Budayaku Lestari Negeriku,
Salam Budaya

(agus, subiyantoro, bpw)