Garebeg Mulud di Kesultanan Yogyakarta

0
1589
GAREBEG MULUD di KESULTANAN YOGYAKARTA

 

 

Garebeg Mulud – Dahulu kala para raja selalu menyelenggarakan wilujeng nagari (slametan kerajaan) yang dirayakan pada setiap tahun baru. Slametan kerajaan disebut rojomedo (hewan kurban raja). Untuk merayakan upacara ini sering dipilih hari Selasa Kliwon atau jumat Kliwon. Tujuan dari dilaksanakannya upacara kurban ini adalah agar diberikan keselamatan kepada raja, kerajaan, dan rakyat. Raja pada upacara ini keluar dari kraton menuju Bangsal Ponconiti diiringi oleh para putra dan segenap para punggawa (pegawai). Raja bersemayam di Dampar Kencana (singgasana keemasan) menerima sembah bakti rakyat yang sowan (datang menghadap) raja.

Gambaran ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa saat itu sudah ada adat kerajaan untuk merayakan upacara kurban pada setiap permulaan tahun atau tahun baru. Cerita sejarah lain mengatakan bahwa kerajaan Pengging semasa pemerintahan Prabu Haji Pamoso pernah dilanda wabah penyakit menular yang disebarkan oleh makhluk halus tentara Batari Durga yang bersemayam di hutan Krendowahono. Setelah Prabu Haji Pamoso menyelenggarakan upacara kurban untuk dipersembahkan kepada Batari Durga maka lenyaplah wabah penyakit itu. Upacara kurban ini disebut mahesolawung dan yang dijadikan hewan kurban adalah kerbau liar, sesuai dengan nama upacara tersebut (mahesa berarti kerbau dan lawung berarti liar).

Penyelenggaraan upacara kurban ini dilestarikan oleh para raja sampai akhir masa Kerajaan Majapahit yaitu sekitar tahun 1522 Masehi. Pada saat Raden Patah dinobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Demak dengan gelar Syah Alam Akbar Panembahan Jimbun (1478M) penyelenggaraan upacara kurban dihapuskan. Kebiasaan ini dianggap bertentangan dengan kaidah- kaidah Islam karena banyak unsur upacara yang dijiwai oleh nilai-nilai Hindu. Akan tetapi, tindakan penghapusan upacara kurban ini membawa dampak yang tidak diharapkan karena timbulnya keresahan di kalangan masyarakat. Rakyat tidak dapat menerima tindakan raja karena menghapus begitu saja kepercayaan lama yang sudah dianutselama berabad-abad. Keresahan menjadi semakin bertambah dengan berjangkitnya wabah penyakit menular. Atas saran Wali Songo, kepercayaan lama itu diselenggarakan kembali, namun disesuaikan dengan nilai-nilai Islam dan doa keselamatan dipanjatkan menurut ajaran Islam. Pengalaman sejarah ini sangat mempengaruhi para raja di Jawa yang menyebabkan mereka tidak mudah melepaskan kepercayaan lama. Upacara kurban pada awal tahun atau tahun baru ini dirayakan oleh Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram, dan Kesunanan Surakarta.

Di Kesultanan Yogyakarta perayaan Upacara Garebeg tidak dapat dipisahkan dengan berdirinya Kraton Yogyakarta pada tahun 1755 Masehi. Atas jasa-jasanya selama delapan tahun melawan Belanda , maka Kanjeng Pangeran Haryo Mangkubumi dinobatkan menjadi Sultan dengan gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati ing Ngalogo Ngabdurrahman Sayidin Panotogomo Khalifatullah I (pertama). Sultan inilah yang pertama kali menyelenggarakan Upacara Garebeg di Kesultanan Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono I (pertama/kesatu) sebagai putra dari Susuhunan Prabu Amangkurat IV (1719-1726) sejak kecil sudah memiliki perhatian yang besar terhadap tatacara dan adat Kraton. Oleh karenanya tidak mengherankan jika setelah menjadi Sultan beliau hendak menyelenggarakan dan melestarikan upacara dan adat Kraton Jawa. Usaha ini memperlihatkan sikap Sultan memuliakan para leluhur. Selain itu upacara kerajaan juga mencerminkan kemuliaan dan kewibawaan suatu kerajaan.

Perayaan upacara garebeg melibatkan seluruh warga kraton dan segenap aparat kerajaan dari yang berpangkat tinggi sampai rendah. Kraton Yogyakarta dalam hal ini terlihat sebagai kerajaan Jawa-Islam karena secara formal upacara ini bersifat keagamaan yang dikaitkan dengan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabiulawal) dan kedua Hari Raya Islam yaitu Idulfitri (1 Syawal) serta Iduladha (10 Zulhijah). Garebeg Mulud dimaksudkan untuk merayakan hari maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 bulan Rabiulawal.

Memperingati Hari Kelahiran Nabi merupakan tradisi yang baru muncul setelah agama Islam berkembang di luar Jazirah Arab. Hari Kelahiran Nabi sebenarnya bukan Hari Raya Islam, karena di dalam Islam hanya mengenal dua Hari Raya yaitu Idulfitri dan Iduladha. Akan tetapi di Indonesia Hari Kelahiran Nabi sudah diakui sebagai Hari Raya Nasional. Peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah meluas dalam kehidupan masyarakat, karena setiap tanggal 12 Rabiulawal mereka mengadakan muludan (Upacara Kenduri di bulan Mulud) atau rasulan dengan menyajikan nasi tumpeng. Tujuan sebenarnya dari peringatan Kelahiran Nabi adalah untuk memetik hikmah dari sifat-sifat baik dalam kehidupan Nabi atau menjadikan Nabi sebagai suri teladan, dan bagi kerajaan peringatan Kelahiran Nabi ini merupakan suatu bentuk syiar agama Islam.

Pada Upacara Garebeg Mulud, kraton mengeluarkan lima gunungan sebagai sedekah atau kucah dalem. Kelima gunungan ini adalah Gunungan kakung, putri, darat, pawuhan, dan gepak. Garebeg Mulud yang tepat bersamaan dengan tahun Dal (tahun Jawa dalam siklus delapan tahun sekali/sewindu) akan dirayakan secara istimewa. Hal ini berdasar pada perhitungan tarikh Jawa-Islam yang ternyata menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada Hari Senin Pon tanggal 12 Mulud (Rabiulawal) di tahun Dal. Pada Upacara Garebeg ini, Sultan mengeluarkan pusaka Kraton yang paling keramat yaitu pusaka Kanjeng Kyai Ageng Pleret, serta beberapa pusaka lainnya yang hanya boleh ditampilkan pada saat perayaan Hari Kelahiran Nabi muhammad SAW. Pada Upacara Garebeg ini pula, gunungan yang dikeluarkan tidak hanya lima, melainkan enam, karena ditambah lagi dengan satu gunungan, yaitu gunungan Bromo (api) atau lazim disebut dengan kutuq (berasap).

 

 

sumber buku (koleksi Perpustakaan BPNB D.I. Yogyakarta) :

  1. B.Soelarto. 1979. Garebeg di Kesultanan Yogyakarta. Penerbit Proyek Sasana Budaya
    Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.
  2. Dr. Irwan Abdullah. 2002. Simbol, Makna dan Pandangan Hidup Jawa, Analisis Gunungan
    pada Upacara Garebeg. Penerbit Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Yogyakarta.

sumber foto (koleksi Perpustakaan BPNB D.I. Yogyakarta) :
Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. 2012. Garebeg : Gunungan Doa dan
Sedekah, Sebuah Dokumentasi Visual. Penerbit Jogja Heritage Society

Lestari Budayaku Lestari Negeriku,
Salam Budaya ?
(bpw)