Etnografi Masyarakat Desa Randualas: Kajian Budaya Santetan-Jagong

0
2374
Buku Etnografi Masyarakat Desa Randualas: Kajian Budaya Santetan-Jagong

Penulis: Emiliana Sadilah, Mudjijono, Noor Sulistyo Budi

Keberadaan hajatan mantenan, khitanan, dan “tedak siten” di Desa Randualas, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun menarik perhatian untuk diteliti karena telah mengalami pergeseran bentuk undangan hajatan dari bentuk kertas undangan ke makanan, yang dikenal dengan istilah “santetan“. Penelitian ini bertujuan menggambarkan bagaimana masyarakat di Desa Randualas melakukan hajatan santetan-jagong, dan bagaimana mereka memberi makna terhadap hajatan tersebut sehingga mempengaruhi keberadaan hajatan tersebut. Melalui studi etnografi, telah dikumpulkan data dan informasi lewat wawancara mendalam terhadap informan kunci di Desa Randualas, yang dilengkapi dengan observasi langsung pada hajatan tersebut, dan dicek kembali kebenaran informasinya melalui “focus group discussion” maka penelitian ini telah menemukan bahwa masyarakat tetap akan mempertahankan hajatan santetan-jagong. Hal ini disebabkan oleh kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam hajatan tersebut yang merupakan warisan nenek moyang mereka. Mereka juga memaknai hajatan ini sebagai wujud dad nilai saling balas-membalas kebaikan, sating menghargai, dan saling tolong menolong meringankan beban dari hajatan tersebut. Meski demikian, tidak semua kalangan masyarakat yang mampu membiayai hajatan tersebut, teriebih masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi. Dalam kondisi tekanan ekonomi tersebut, masyarakat dihadapkan pada tawaran pemilik modal untuk memberi pinjaman uang membantu membiayai hajatan dan mengambil keuntungan dan hajatan tersebut. Masyarakat yang meminjam uang dari pemilik modal, tetap merasa terbantu meskipun harus menanggung beban mengembalikan modal dengan bunga yang relatif besar. Nilai, kondisi tekanan ekonomi dan keberadaan pemilik modal telah berperan melanggengkan hajatan tersebut. Penelitian ini menyarankan kepada peneliti yang tertarik terhadap topik ini untuk tidak hanya menggunakan pendekatan budaya dan sosiologi, tetapi juga ekonomi-politik agar lebih memaknai hajatan santetan-jagong secara lebih utuh. Pemerintah dan tokoh masyarakat serta tokoh adat harus mengevaluasi dampak dari keberadaan hajatan tersebut, dan membantu masyarakat mengatasi beban mereka tetapi tidak mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam hajatan tersebut.

Selengkapnya :buku digital