Tampil Rapi dan Nyeni dengan Blangkon Surakarta

0
21502
Blangkon Surakarta

Surakarta yang biasa di sapa kota solo merupakan kota terbesar ketiga di pulau Jawa bagian selatan setelah Bandung dan Malang menurut jumlah penduduk. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Surakarta merupakan pewaris Kesultanan Mataram yang dipecah melalui Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755. Dari Perjanjian Giyanti tersebut, mengakibatkan Kasultanan Mataram dibagi mejadi dua pemerintahan atau wilayah kekuasaan. Yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.

Jika berbicara mengenai Kota Surakarta, terbayang jelas karakter dari masyarakat yang halus dan ramah. Selain itu hal yang paling erat kaitanya dengan Kota Solo adalah kebudayaan. Apabila kita telisik lebih mendalam mengenai kebudayaan Kota Solo, ada salah satu cirikhas unik yang masih eksis hingga saat ini, yaitu blangkon.

Bentuk mondolan trepes merupakan salah satu ciri dari blangkon Surakarta.

Blangkon merupakan salah satu bagian dari pakaian adat khas Jawa yang digunakan untuk penutup kepala bagi pria sebagai pelindung dari sengatan matahari atau udara dingin. Awalnya blangkon terbuat dari kain iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar, berukuran kurang lebih 105 cm x 105 cm. Kain yang kemudian dilipat dua menjadi segitiga dan kemudian dililitkan di kepala dengan cara dan aturan tertentu. Mengenakan iket dengan segala aturannya ternyata tidak mudah dan memerlukan waktu, maka timbullah gagasan seiring dengan kemajuan pemikiran orang dan seni untuk membuat penutup kepala yang lebih praktis, yang kemudian dikenal dengan nama blangkon.

Sebelum menjadi blangkon, kain dipakai dengan cara jingkengan. Blangkon merupakan barang jadi dari iket yang diwiru. Lalu dibulatkan dengan cetakan yang namanya klebut. Cara menggunakan blangkon harus diukur lingkar kepala di atas alis dan lingkar di kedua telinganya. Blangkon Solo dikenal mulai Pakubowono III, setelah terjadinya Perjanjian Giyanti. Sebelum itu blangkon Solo seperti memiliki bentuk seperti blangkon Jogja. Setelah perjanjian Giyanti, ada revolusi kebudayaan besar yang menyebabkan Pakubuwono III membuat beragam blangkon. Jika Jogja hanya memiliki 1 model blangkon, Solo mempunyai 6 model blangkon.

Keberadaan blangkon sebagai hasil budaya Jawa sebenarnya tidak sekedar sebagai pelengkap berpakaian saja namun memiliki makna yang dalam. Blangkon memiliki berbagai motif kain batik, seperti: motif gurda, kawung, truntum, wahyu tumurun, sido mukti dan sebagainya. Beragamnya motif blangkon sesuai dengan beragamnya motif kain batik tradisional di Jawa. Setiap motif memiliki makna dan aturan tertentu dalam pemakaianya.

Beberapa jenis kain batik sebagai bahan baku untuk membuat blangkon.

Beberapa motif blangkon Solo antara lain; motif solo muda atau motif keprabon, motif kasatrian, motif perbawan, motif dines , motif tempen. Motif tempen digunakan untuk abdi dalem yang diutus ke Loji atau ke kantor karisidenan atau kantor Belanda pada zaman dahulu. Model ini memakai sunduk jungkat dari penyu atau tanduk kerbau. Kemudia ada juga motif wulung kemolo, cacaran moncip ompak, dan yang tertinggi adalah motif modang.

Motif modang menggambarkan kedudukan seseorang. Bentuk stilasi lidah api atau blencong mempunyai arti seseorang sudah memiliki kekuatan pikir/nalar. Banyak jenis modang sesuai dengan peruntukannya. Sebagai contoh modang pangkur yang digunakan ketika masuk ke kraton dan modang stoppres yang digunakan jika di luar kraton.

Pemakaian blangkon disesuaikan menurut adatnya, misal blangkon bermotif byur dipakai khusus dengan kain panjangnya/kain jaritannya. Motif wahyu temurun sebaiknya juga memakai kain jarit wahyu temurun. Orang dapat memakai blangkon modang motif ompak jika merasa sesorang tersebut belum memiliki “ilmu” yang memadai. Tingkatan di bawahnya ada jenis wulung kemodo hanya pinggirnya saja. Jika seseorang menganggap dirinya tidak mampu maka blangkon yang dikenakan adalah jenis blangkon wulung.

Jika berbicara mengenai blangkon, maka umumnya orang akan menyebut blangkon gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta. Adapaun perbedaan antara blangkon Yogyakarta dengan blangkon Solo secara fisik terletak pada mondolan di belakang blangkon. Dahulu orang Jawa tidak mengenal pangkas rambut baik laki-laki maupun perempuan rambutnya digelung terlebih dahulu baru kemudian ditutup iket bagi pangkat rio andap/rio ke bawah. Namun jika rio ke atas memakai iket blangkon dengan cunduk jugkat kadal menek. Ada juga jenis adu muncung yang biasanya hanya digunakan orang yang bisa memerintah atau memiliki jabatan. Pada intinya terdapat beberapa bagian yang tentunya mempunyai makna yang mendalam dan erat hubunganya dengan diri manusia.

Blangkon terdiri dari beberapa bagian, seperti bagian dalam yang disebut congkeng. Lalu di bagian depan disebut wiron yang jumlanya wironya dibuat ganjil. Apabila orang berwajah oval biasa pakai wiron berjumlah 11, tapi yang berwajah bulat biasanya memakai wiron yang jumlahnya 9. Bagian lainnya adalah waton, tutupan, tampingan, jebeh, kantong mondol, dan cunduk jungkat.

Di Kota Surakarta terdapat sebuah kampung yang disebut sebagai kampung blangkon, yaitu Kampung Potrojayan yang merupakan wilayah Kelurahan Serengan, Kecamatan Serengan Kota Surakarta. Pembuatan blangkon di kampung ini dipelopori oleh Mbah Joyo sekitar tahun 70-an yang sampai saat ini sudah diteruskan oleh generasi ke-tiga, yang bernama Bapak Wardoyo dan ibu Rusmiyati. Keberadaan pengrajin blangkon di Kampung Potrojayan tidak lepas dari jasa Mbah Joyo. Karena, pengrajin blangkon yang ada sekarang merupakan “siswa” yang pernah bekerja di tempat Mbah Joyo.

Proses pembuatan blangkon

Pembuatan blangkon melalui berbagai proses, antara lain pemilihan bahan motif kain, pengukuran, dan model. Bahan kain untuk pembuatan blangkon merupakan kain bermotif batik. Setelah ditentukan motif maka pembuatan disesuaikan dengan ukuran si pemakai. Agar cara pemakaiannya praktis maka pembuatannya diatur sedemikian rupa dengan penguat dan pengeras sehingga ketika dilepas tidak terurai. Proses tersebut selesai kurang dari 30 menit dan harus dijemur di bawah sinar matahari yang terik selama 3-4 jam. Proses terakhir adalah dijahit agar lebih kuat. Alat-alat yang digunakan antara lain tang, jarum, sumpit, congkeng. Sedangkan bahan yang dibutuhkan berupa jarit, kardus, dan lem.

Saat ini blangkon mengalami perkembangan dalam hal kreasi corak dan tidak hanya digunakan sebagai pakaian adat, melainkan juga digunakan sebagai souvenir. Jika dahulu digunakan harus sesuai kedudukan atau pakemnya, saat ini blangkon bisa digunakan oleh siapapun dari kalangan manapun serta tidak terikat dalam acara acara tertentu. Seiring berkembangnya produksi blangkon di Surakarta yang semakin pesat, memberikan dampak positif bagi pengrajin blangkon dari segi perekonomianya.

Pada intinya blangkon adalah sebuah representasi diri melalui tampilan depan yang rapi, sopan dan berseni dari sebuah pengendalian diri yang kuat serta pengendalian diri yang juga berbasis atas hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Video teaser Blangkon Surakarta: https://www.youtube.com/watch?v=vWPZ2BKHMOQ

Kontributor: Subiyantoro