BEBERAPA PERISTIWA PENTING YANG BERKAITAN DENGAN PEREBUTAN KEKUASAAN DI KOTABARU 7 OKTOBER 1945

0
2749
Pertempuran Kotabaru

BPNB DIY, Oktober 2020 – Menurut catatan pelaku sejarah R.P. Soedarsono yang pada waktu itu menjabat sebagai komisaris polisi, berbagai kegiatan di Daerah Istimewa Yogyakarta setelah Proklamasi dapat kita simak pada rangkuman peristiwa di bawah.

Tanggal 31 Agustus 1945 malam hari, R.P. Soedarsono didatangi oleh Sujatno dari Solo. Malam itu beberapa kawan dari Yogya seperti Sumantoro, Ir. Sardono Dipokusumo, Mr. Sudarisman Purwokusuma, menyanggupi akan memberikan bantuan untuk membuat maklumat yang disiarkan melalui Kedaulatan Rakyat tanggal 1 September 1945 untuk menyerobot kekuasaan Tyokan. Pada tanggal 1 September 1945 itu R.P. Soedarsono terpilih sebagai ketua Dewan Pimpinan bekas kantor Kotyi.

Tanggal 12 dan 13 September 1945, bersama beberapa pengurus KNI (Komite Nasional Indonesia) menyiapkan kekuatan bersenjata yang terdiri atas Polisi Istimewa dan laskar rakyat untuk menghadapi serdadu Jepang yang bermaksud menurunkan bendera merah putih di kantor Tyokan Kantai sekarang Gedung Negara. Tanggal 14 September 1945 R.P. Soedarsono terpilih sebagai Ketua Gabungan Pegawai Negeri daerah Yogyakarta. Tanggal 22 September 1945 R.P. Soedarsono berhasil mempertahankan pelucutan senjata yang dilakukan oleh Jepang atas Polisi Kota dan Polisi Istimewa.

Tanggal 25 September 1945 bersama beberapa anggota Dewan Pimpinan bekas kantor Kotyi: dr. Sjamsudin, Ir. Ali, Kyai Adjid, Adam Basari, Latjuba, Budiman; Abdul Karim, Danu Warsito, dan Kartono serta R.P. Soejono dapat menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan pelucutan senjata itu.

Tanggal 6 Oktober 1945 dari jam 19.00 hingga jam 03.00 pagi bersama dengan Ketua KNI Moh. Safeh dan pengurus BKR (Badan Keamanan Rakyat) saudara Sundjojo, Umar Djoy dan Sukardi berunding dengan Sihata Tjihanbuto dan Asoka Butaitjo untuk meminta senjata dari Butai Kotabaru. Perundingan ini gagal. Akhirnya R.P. Soedarsono mengulangi sekali lagi permintaannya agar Butaitjo Mayor Otzuka rela menyerahkan senjatanya ke pihak Indonesia.

Saat perundingan sedang berlangsung ratusan rakyat dan pemuda yang digerakkan oleh KNI, BPU, BKR dan Polisi menuju ke Kotabaru. Berbagai macam senjata yang mereka miliki seperti golok, tompak, keris, bambu runcing maupun senjata senapan dipergunakan dalam usahanya mengepung markas Jepang ini dengan semangat yang menyala-nyala. Pertemuan tak dapat dihindarkan, bersamaan dengan padamnya penerangan di sekitar Butai Kotabaru dengan diawali letusan granat dan senapan, massa rakyat dan pemuda menyerbu. Teriakan-teriakan yang terdengar “siap maju” dan “gempur”. Pertempuran berlangsung sangat seru. Jepang mengadakan perlawanan dan memuntahkan tembakan-tembakan mitraliur ke massa penyerbu. Pertempuran akhirnya makin mengendor dan pukul 10.30 siang hari tanggal 7 Oktober 1945 berkibarlah bendera merah putih di atas markas tentara Jepang, Butai Kotabaru menyerah.

Pertempuran Kotabaru

Pertempuran Kotabaru ini ternyata memberikan arti yang besar untuk terhadirnya semangat membela tanah air khususnya di kalangan pemuda di Yogyakarta. Tidak demikian bagi militer Jepang, pertempuran Kotabaru yang mengakibatkan tewasnya 9 orang Jepang dan 15 luka-luka melemahkan semangat orang-orang Jepang baik yang ada di Pingit maupun di Gentan. Pada hari itu berhasil juga ditawan 1100 orang Jepang beserta perlengkapan yang mereka miliki. Hasil rampasan berupa senjata dan amunisi ternyata dapat melengkapi kekuatan BKR untuk memikul tugas membela negara. Peristiwa Kotabaru rupanya memperlancar berbagai aksi pelucutan senjata pasukan Jepang yang ada di Yogyakarta.

Kaigun di Maguwo juga berhasi dilucuti, sehingga secara otomatis pemerintah daerah dapat bekerja dengan lancar tanpa halangan. Tanggal 7 Oktober setelah terjadi pertempuran Kotabaru wakil R.A.F ( Royal Air Force), yakni kopral Francis ditugaskan mengawasi lapangan terbang itu. R:P. Soedarsono berhasil mendekati dan mengadakan perundingan dengan mayor Hajino Sosya untuk secara baik-baik bersedia menyerahkan senjata mereka.

Usaha ini berhasil, sebanyak 15 truk senjata api seberat kurang lebih 25 ton beserta ratusan peti granat tangan diserahkan ke pihak pemerintah Republik Indonesia. Dengan kejadian ini, berakhirlah riwayat kekuatan Jepang di daerah Yogyakarta.