Andong, Warisan Budaya Tak Benda D.I. Yogyakarta (2)

0
2356
Andong, Warisan Budaya Tak Benda D.I. Yogyakarta (2)
Andong Yogyakarta Buatan “Bengkel Andong Arjuna” (Sumber Foto: Koleksi Th. Ani Larasati)

 

 

BPNB DIY, Maret 2019 – (lanjutan dari bagian pertama…)
Kereta yang ditarik kuda ada berbagai macam jenisnya. Untuk membedakan andong dengan kereta kuda lainnya, maka dapat dikatakan bahwa ciri khas dari andong adalah menggunakan empat roda dengan ukuran roda depan lebih kecil dibanding roda belakang. Dapat dideskripsikan bahwa andong memiliki empat roda, dua roda di bagian depan dan dua roda di bagian belakang. Ukuran roda depan lebih kecil jika dibandingkan dengan dua roda di bagian belakang. Masing-masing roda memiliki jeruji yang berjumlah dua belas batang untuk roda depan, dan empa belas jeruji di bagian belakang. Jumlah roda inilah yang membedakan bendi, dokar, atau delman yang hanya memiliki dua  roda.

Adapun nama bagian-bagian dari andong antara lain meliputi: payonan, cagak, awak-awak, bangkon, boks, alang-alang, kenekan, buntutan, dan palangan. Untuk bagian roda antara lain meliputi: ruji, gulung, cincin, pelah, mangkokan/kuningan, dan cupon/tutup mangkokan. Sedangkan bagian understir terdiri dari pikulan, urang-urang, per, dulang-dulang, piringan, begel per, dan  as roda. Salah satu bagian yang paling rumit dari pembuatan andong adalah pada bagian ban. Setelah semua jeruji ban terpasang, kemudian bengkok dipasang mengitarinya. Ban yang berbahan kayu tersebut kemudian dihaluskan dan dirapikan. Pada saat bersamaan, pelah yang berbahan besi dibentuk dengan cara ditempa. Ukuran pelah disesuaikan dengan ukuran bengkok. Setelah ukuran sesuai, pelah akan dibakar sampai berwarna merah. Kemudian saat masih berwarna merah, harus segara dilekatkan pada bagian ban. Setelah melekat, barulah disiram air agar saling mencengkeram dengan kuat.

Bahan utama untuk membuat andong adalah kayu dan besi. Jenis kayu yang digunakan biasanya kayu jati atau kayu waru karena kayu tersebut memiliki kualitas yang kuat dengan serat kayu yang halus. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah andong berkisar antara 3 – 4  bulan. Untuk membuat sebuah andong sangat diperlukan ketelitian karena banyak sekali komponen dan bagian yang harus dikerjakan satu-persatu. Tahapan dalam mewujudkan sebuah andong dimulai dari membuat bagian sasisnya terlebih dahulu, kemudian membuat roda, menyetel roda, kemudian terakhir adalah membuat bagian atap. Semua tahapan dalam membuat andong dilakukan secara manual. Setelah andong terwujud, memasuki proses pewarnaan biasanya didahului dengan proses mendempul terlebih dahulu. Hal tersebut bertujuan untuk menutup atau meratakan pori-pori kayu, sehingga nantinya warna yang diperoleh akan merata dan tampak lebih indah. Bagian yang telah selesai di cat kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Warna cat andong Yogyakarta adalah kuning, hijau, dan coklat tua.
(bersambung)

 

Lestari Budayaku Lestari Negeriku,
Salam Budaya ??

 

sumber : pencatatan WBTB, dokumentasi BPNB D.I. Yogyakarta
(bpw)