DARI INTERNATIONAL PERFORMING ARTS FESTIVAL PADANG BAGALANGGANG – 2 (II)

0
1359

Usai penampilan Rianto Dewandaru, satu persatu peserta luar negeri kemudian unjuk kebolehan. Diawali dengan Nicolle Legette dari Chicago, USA menampilkan tarian yang berjudul “Dream Adrift”.

Gambar 1: Nicolle Legette dalam “Dream Adrift”, Dok: BPNB-Padang
Gambar 1: Nicolle Legette dalam “Dream Adrift”, Dok: BPNB-Padang

Selanjutnya ada Anna Estelles (Akar Dance Theater Company) dari Spanyol. Anna Estelles menampilkan Tarian yang berjudul Rojo/Merah. Dalam tarian ini, Anna Estelles menampilkan perjalanan sensoris menuju kedalaman indra rasa manusia, menemukan dunia kesenangan dan sensualitas tubuh feminism wanita. Tiga wanita, tiga gelas, elemen air dan tiga mangkok siap membuka diri mereka pada dunia indra rasa dan emosi.
Gambar 2: Rojo/Merah (Anna Estelles) Dok: BPNB-Padang
Gambar 2: Rojo/Merah (Anna Estelles) Dok: BPNB-Padang

SU-EN dari Swedia menampilkan karya yang berjudul “Air Keemasan Re-mix”
Tarian ini berusaha untuk menyelidiki hubungan antara tubuh penari dan area sekitar tarian. Tarian ini mencerminkan kesan-kesan yang didapat saat terjadi pertemuan dan tumbukan antara suara-suara, bebauan dan warna-warni wilayah sekitar lokasi tarian. Judul ini terinspirasi dari nama pulau sumatera, yakni Swarnadwipa, yang berarti pulau emas dan kata samudera yang berarti pertemuan air. Memuji kehidupan dan kematian, cahaya dan kegelapan, yang di dalam dan yang di luar, dalam antara dan di seberang dan semua yang ada diantaranya. Memuji air, hutan, gunung, makhluk hidup, bagaimana hidup harmoni bersama alam liar dan yang lainnya, serta memuji semarak 52 bahasa.
Gambar 3: Air Keemasan Re-Mix (SU-EN), Dok: BPNB-Padang
Gambar 3: Air Keemasan Re-Mix (SU-EN), Dok: BPNB-Padang

Kana ote menampilkan tarian dengan judul “Shell”. Melalui Shell, penari asal Jepang ini bertujuan untuk membuat penonton masuk pada pengalaman reversibilitas wujud. Karya ini juga bertujuan untuk mencari tahu arti subyektivitas dan obyektivitas keberadaan diri.
Gambar 4: Kana Ote dalam “Shell”  Dok: BPNB-Padang
Gambar 4: Kana Ote dalam “Shell” Dok: BPNB-Padang

Krithika Rajagopalan menampilkan beberapa jenis tarian khas india seperti “Mallari” yang merupakan tarian pemujaan yang berisikan tarian murni. Biasanya tarian ini digelar di kuil sebagai laku sesaji kepada dewa dan dewi di kahyangan pada ratusan tahun lalu. Selanjutnya “Nayika” yaitu seruan cinta umat manusia kepada dewa siwa. “keserakahan” yang dilatari keserakahan Bhasamasura lalu berusaha memperdaya dewa siwa. “Kirtanam” merupakan tarian ekspresional yang jenaka menggambarkan krisna muda nakal saat menggoda ibunya. Yang terakhir adalah “Tillana” yaitu tari yang begitu hidup dan abstrak dengan corak khas rentak kaku yang perkusif dan ragam gerakkan ritmik yang diselang-selingi rupa-rupa sikap tubuh serupa patung.
Gambar 5: Kritika Rajagopalan, Dok: BPNB-Padang
Gambar 5: Kritika Rajagopalan, Dok: BPNB-Padang

Ileana Citaristi dengan tari yang berjudul Tari Odissi. Penampil kedua dari India ini memperkenalkan suatu item bernama mangala charan yang merupakan eulogia atau puja-puji pada dewa surya yang diikuti tarian murni bernama pallavi dan dua gerakan yang ekspresif disebut dengan nama abhinaya. Karya diakhiri mokshya atau gerakan ritmik yang menyimbolkan keheningan dan penyerahan mutlak.
Gambar 6: Ileana Citaristi, Dok: BPNB-Padang
Gambar 6: Ileana Citaristi, Dok: BPNB-Padang

Paul Adolphus dari Australia adalah seorang musisi, composer dan actor seni pertunjukan. Dia menunjukkan kebolehannya dengan mamadukan ragam alat musik. Karya yang ditampilkan pada kegiatan Padang Bagalanggang-2 ini berjudul “subuh” A suite for a Trio, Fluites, Guitar and Percussion.
Gambar 7: Paul Adolphus dan trio, Dok: BPNB-Padang
Gambar 7: Paul Adolphus dan trio, Dok: BPNB-Padang

Selanjutnya peserta dalam negeri/lokal…