“UPACARA ADAT MOTAYOG” Desa Bilalang Baru Bolaang Mongondow

_MG_3006

Tim Perekeman Film : Rocky Koagouw, Steven Sumolang, Dedi Martasen, Arman, Jhon Kindangen.

Motayog Adalah salah satu Kegiatan Adat Bolaang Mongondow yang sudah sangat tua diperkirakan kegiatan ini dilakukan oleh mayarakat sejak zaman Pemerintahan Punu’ Tadohe’/Sadohe’ sekitar Tahun 1600. Terinformasi oleh sumber bahwa tujuan utama dilakukannya kegiatan ini adalah untuk mengobati orang yang sakit, dalam kepercayaan Masyarakat Bolaang Mongondow bahwa roh para leluhur masih tetap ada dan menjaga seluruh masyarakat sehingga kapan saja masyarakat lebih khusus keturunan para leluhur dengan melakukan upacara-upacara sesuai dengan yang sudah diwariskan bisa memanggil dan meminta bantuannya, termasuk upacara pengobatan Motayog.

Motayog dilakukan oleh 4 orang pemain musik, 1 orang sebagai doduataan (orang yang akan dirasuki roh leluhur dan yang akan melakukan pengobatan) dan 4 orang sebagai monenden (orang-orang yang akan mengikuti  doduataan untuk menyanyi), karena cara pengobatan ini dilakukan dengan menari dan bertanya terhadap roh leluhur dalam bentuk syair-syair nyanyian. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan bahan : Ayam Jantan 2 Ekor, Ayam Betina 3 Ekor, Tubu/ daun Oka, Kulipot/daun untuk membungkus nasi, Telur 10 Butir, Beras Ketan 5 Kilo Gram, Beras 10 Kilo gram, Sagu Khusus dipesan untuk Kepentingan Ritual (terbuat Dari Pohon Nira), Tolatak (tempat untuk disajikan sesajen terbuat Dari Anyaman Bambu), Bambu untuk menanak nasi, Kelapa, Damar, Cengkeh, Tengkelan /Kelapa Muda, Kemenyan, Serta rempah – rempah untuk memasak kebutuhan sesajen, Tembakau yang diracik menjadi Rokok dengan menggunakan daun Oka. Dan alat : Alat musik Gong 2 Buah, Alat musik Gimbal / tambo, Dan peralatan memasak. Bahan-bahan tersebut diatas diolah menjadi makanan untuk kebutuhan sesajen bagi para roh leluhur yang akan dipanggil.

Upacara ini berlangsung selama 2 hari yaitu hari pertama berlangsung dari jam 8 malam sampai dengan selesai, biasanya sampe jam 3 dini hari dan hari kedua dimulai jam 7 pagi sampai dengan selesai biasanya sampai jam 6 sore.

Tahapan upacara sebagai berikut : Hari pertama, diawali dengan tambor dan gong dibunyikan dengan irama-irama yang teratur bertujuan untuk meminta ijin kepada roh leluhur untuk memulai kegiatan. Kemudian dodutaan dirias mengenakkan kebaya dengan warna sesuai dengan permintaan leluhur. Selanjutnya damar dibakar sehingga mengeluarkan aroma, pada posisi musik tetap dimainkan(musik bisa berhenti total apabila kegiatan sudah selesai)saat itu pula si dodutaan tadi mengalami kerasukkan dan menyampaikan nyanyian syair-syair seperti dijelaskan diatas sambil menari. Kondisi akan berlangsung sampai larut malam dan bahkan dini hari sampai dodutaan menyampaikan secara detail tentang apa penyakit pasien dan bagaimana serta dengan menggunakan apa untuk mengobatinya. Kemudian roh yang merasuki dodutaan tadi menyatakan untuk pergi/pulang, ini menjadi signal bahwa kegiatan hari pertama sudah akan berakhir.

Hari kedua, diawali dengan dengan mengolah bahan-bahan makanan tadi menjadi makanan untuk sesajen pengobatan, hal yang paling mutlak adalah tersedianya nasi dan sagu yang ditanak di bambu hijau dan kuning, kemudian ayam yang diolah menjadi lauk (sama seperti kondisi pesta). Daun woka dirancang menjadi piring untuk menyajikan makanan-makanan tadi, kemudian sajian itu ditaruh di atas anyaman bambu (tolatak). Setelah sesajen siap dodutaan kembali di dandani dengan kebaya untuk melakukan ritual menari dan menyanyi seperti hari pertama. Berbeda dengan hari pertama, syair-syair yang dilantunkan adalah mantra-mantra untuk mengobati diikuti dengan gerakan-gerakan seperti membasuh muka dan sebagian badan pasien dengan air kelapa, mengasapi pasien dengan asap kemenyan dan kemudian memberikan sesuatu kepada pasien (biasanya buah cengkih) yang dipercayai sebagai pegangan yang bisa melindungi pasien dari penyakit. Tahapan terakhir masih pada hari ke-2 suami dari dodutaan dengan tetap menggunakan sesajen akan menyampaikan mantra-mantra atau bahasa kepada para leluhur untuk bisa menyembuhkan pasien, melindungi semua orang yang hadir dalam kegitan tersebut dan membahasakan bahwa kegiatan tersebut sudah akan di akhiri.

Sesuai dengan hasil wawancara dengan seorang pasien yang diobati saat itu bahwa penyakit yang diidapnya langsung sembuh dan secara fisik pasien menyatakan bahwa telah sembuh.