You are currently viewing Seni-Budaya Kawasaran Desa Serasi Dumoga Bolmong, Eksis di tengah Keterisolasian Pemukiman dan Peralatan Tidak Memadai
Seni-Budaya Kawasaran Desa Serasi Bolmong (Sanggar Tuama Malesung)

Seni-Budaya Kawasaran Desa Serasi Dumoga Bolmong, Eksis di tengah Keterisolasian Pemukiman dan Peralatan Tidak Memadai

Terisolirnya wilayah perkampungan dan keterbatasan fasilitas peralatan seni budaya, tidak mengurangi kemampuan manusia untuk berkarya dan menghasilkan karya seni budaya yang tinggi. Tersebutlah kelompok seni budaya Kawasaran Tuama Malesung. Sanggar seni yang didirikan beberapa tahun yang lalu di Desa Serasi atau yang sering disebut kampung Ikarat Kecamatan Dumoga Kabupaten Bolaang Mongondow. Sebuah desa yang masih tergolong sulit untuk dijangkau karena sarana transportasi jalan yang rusak, terletak di atas perbukitan yang jauh dari kampung sekitar. Meski demikian Sanggar Budaya Kawasaran Tuama Malesung menjadi satu-satunya seni Kawasaran atau tarian perang khas budaya Suku Minahasa yang tetap eksis di Bolaang Mongondow.

Penari Kawasaran Tuama Malesung dan Tim Kemdikbud

Direktorat Kesenian dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) dalam lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam kunjungannya ke desa Serasi, harus melalui jalan panjang melewati perbukitan, sekaligus disuguhi beberapa titik jembatan yang rusak. Namun tim berhasil mengunjungi sanggar seni budaya Tuama Malesung bagian dari objek pendataan Inventarisasi Potensi Kesenian tahun 2017 yang dilakukan secara serentak di Indonesia, dimana kabupaten Bolaang Mongondow Tim Pencacah ditugasi mengunjungi 202 desanya. Tim pencacah yang diturunkan berjumlah 15 orang dengan koordinator sejumlah 3 orang yakni Steven Sumolang, Lily Saud, dan Aneke Suoth.

Tim Direktorat Kesenian dan BPNB Sulut Istirahat sesudah melewati jembatan rusak Desa Serasi

Menurut Robie Kaparang, Ketua Kawasaran Tuama Malesung sanggar budaya Kawasaran mereka dilatar belakangi bahwa pemukiman desa Serasi yang berasal dari suku Minahasa. Robie menceritakan masyarakat Desa Serasi kebanyakan berasal dari desa Tinoor dan sekitarnya di Kota Tomohon, datang ke tempat tersebut karena dipindahkan pemerintah melalui program transmigrasi setelah desa asalnya mendapat musibah bencana letusan gunung Api Lokon pada era tahun 1980-an.

Ketika berada di pemukiman Ikarat dan sekarang disebut desa Serasi, seni Budaya dari daerah asal tetap dibawa mereka seperti tarian Maengket, alat musik kolintang, dan tarian kawasaran. Keberadaan seni budaya yang tumbuh terkadang berkembang dengan baik, terkadang mati suri karena anggaran dan fasilitas yang sangat tidak memadai. Beberapa tahun belakang, keberadaan Sanggar Seni Budaya Kawasaran Tuama Malesung boleh tetap bertahan, salah satunya ada pembinaan dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Manado yakni Maesa’an Tou Malesung (MTM).

Kaparang menerangkan keterisolasian desa Serasi justru membuat seni budaya Kawasaran bisa diminati, karena warga masyarakat mendapat hiburan dalam kesunyian desa tersebut.

Tempat Berkumpul Kawasaran Tuama Malesung

Sanggar Seni Kawasaran Tou Malesung selalu dihadirkan dalam acara-acara desa terutama kunjungan-kunjungan pejabat-pejabat pemerintahan baik kabupaten maupun provinsi, acara keagamaanpun sanggar ini dilibatkan. Beberapa kali mereka menampilkan atraksi tarian perang Minahasa Kawasaran dalam acara-acara di luar desa juga baik diminta oleh desa lain maupun oleh pemerintah kabupaten Bolaang Mongondow. Atraksi Kawasaran oleh Tuama Malesung menggunakan kawasaran khas Tountemboan, mengingat desa asal mereka di Tinoor adalah pemukiman para peladang dari daerah Minahasa Tountemboan (Tompaso, Langowan, Kawangkoaan, dsb) bermukim di tengah-tengah suku Minahasa sub Etnis Tombulu (Tomohon).

Kelompok Kawasaran Tuama Malesung desa Serasi selain mengembangan tradisi tari perang Minahasa, mereka juga turut dalam pelaksanaan pembanguna desa seperti giat dalam kelompok tani, membantu membangun jembatan yang menghubungkan desa Serasi dengan desa tetangga, membina anggota kelompok, membuat pertemuan rutin disertai ibadah, dan lain sebagainya. “Kami berupaya komunitas budaya ini, bisa berguna dalam berbagai macam hal untuk kepentingan masayarakat desa karena budaya juga mencakup semua aspek kehidupan manusia”, kata Robie Kaparang

Ketua Sanggar Tuama Malesung, Robie Kaparang

Irawan, staf Direktorat Kesenian Kemdikbud yang mengunjungi desa ini mengapresiai eksisnya seni budaya Kawasaran Desa Serasi, meski terbatas dalam anggaran, dan fasilitas, Tuaman Malesung tetap berkreasi. Ia berharap semua pihak dapat membantu keberadaan sanggar budaya ini, dengannya kebudayaan nasional akan selalu lestari. *** (Steven Sumolang)