You are currently viewing LEGENDA TOAR LUMIMUUT DAN TURUNANNYA

LEGENDA TOAR LUMIMUUT DAN TURUNANNYA

Oleh : J.E. Jasper (1916)
Naiwakalu-In-Tanah (suami) dan Rengan (isteri) adalah penduduk pertama Minahasa. Pada masa keturunan ke-sembilan dari penduduk pertama ini terjadilah suatu letusan dahsyat dua gunung berapi Manimbah dan Makatimbah selama beberapa hari yang mengakibatkan timbulnya danau Tondano. Di samping itu  muncul juga dari lautan gunung-gunung Tamporok atau Kalabat, Soputan, Lokon, Rumengan, Masarang, Tampusu dan Kaweng berupa pulau-pulau kecil.
Sebagai akibat letusan gunung ini seluruh penghuni Minahasa musnah terkecuali dua orang wanita, Kareima dan Lumemuut, yang selamat karena sempat berlindung didalam goa dibawah gunung.  Mereka hidup bersama dalam waktu lama dengan tenang dan damai sampai Lumemuut meninggalkan Kareima dan menemui seorang pria di perbatasan kerajaan Bolaang-Mongondow yang kemudian menjadi ayah  seorang anak dari Lumemuut, dinamai Kinembut atau Toar.
Pulang kembali kepada Kareima, Lumemuut menyerahkan anaknya  kepadanya untuk dipelihara dan dibesarkan. Setelah Toar menjadi dewasa, daerah mereka, Wulur Mahatus, mulai didatangi beberapa suku untuk dihuni. Sebagian dari mereka memilih Lumemuut dan yang lain memilih Kinembut sebagai pemimpin mereka. Kemudian suku-suku ini menyebar dan menduduki daerah-daerah sekitar.
Demikian kisah sejarah Lumemuut dan Toar.
Sebuah legenda mengisahkan Lumemuut telah dihamilkan oleh Angin Barat (Awahat) dan melahirkan anaknya Toar. Setelah ia menjadi dewasa, ibunya berkata kepadanya untuk mencari seorang isteri. Lumemuut mengambil sebuah cabang dari pohon Goloba, mematahkannya dalam dua tangkai yang sama panjangnya dan menyerahkan sebatang kepada Toar sambil berkata kepadanya: “Jika kamu menemukan seorang wanita yang memegang tangkai lainnya, ukurlah tangkaimu dengan tangkainya. Jika kedua tangkai itu sama panjangnya, janganlah mengambil dia sebagai isterimu, karena dialah saya  yang adalah ibumu.
Lalu mereka berpisah dan masing-masing pergi mengembara.
Jauh waktu kemudian mereka berdua bertemu kembali. Kedua tangkai cabang itu diukur, ternyata tidak sama panjang, maka Toar mengambil ibunya Lumemuut sebagai isterinya.
Tidak lama kemudian Toar dan Lumemuut menyatukan seluruh anak bala mereka masing-masing dan membagi mereka dalam empat kelompok suku yang besar:
  1. Se-makarua siouw (berarti dua kali sembilan);
  2. Se-makatelu pitu (berarti tiga kali tujuh);
  3. Se-makarua lima (berarti dua kali lima);
  4. Se-makarua telu (berarti dua kali tiga).
Mereka dari kelompok suku terbesar menyebar secara terpisah dibawah masing-masing penghulunya :
  • Mandei  dengan isterinya Rawenbene bersama kelima anak mereka menuju ke perbatasan Bolaang-Mongondow,  lalu mendirikan kerajaan Lompareng ;
  • Pinontoan dengan isterinya Ambilangan bersama ke-enam   anak mereka pergi menghuni gunung Lokon;
  • Rumengan dengan isterinya  Katiwiey bersama ke-enam anak mereka pergi ke gunung Rumengan;
  • Manaroisong dengan isterinya  Winenean bersama sembilan-belas anak mereka menuju ke bukit Wawo, dekat  Tomohon sekarang;
  • Kumiwel dengan isterinya Pahirangan dengan tiga anak mereka membangun perumahan mereka diatas bukit Kuranga dekat Sarongsong sekarang;
  • Lololing dengan isterinya Rinorotan bersama enam anak mereka menuju ke bukit Puser-In-Tanah dekat Tomohon sekarang;
  • Makaliwe dengan isterinya Winowatan-Tinonton bersama empat anak mereka ke Mongondow.
  • Mangulung dengan isterinya Panupuran bersama tiga anak mereka ke gunung Worotikan;
  • Manalea dengan isterinya Liangen pergi menghuni daerah pesisir pantai utara;
  • Manabeka dengan isterinya Pingkang pergi menghuni daerah pesisir pantai barat;
  • Manaweang dengan isterinya Winenean bersama tiga anak mereka ke pesisir pantai selatan dan timur;
  • Totokai dengan isterinya Tombarian, Tingkulending bersama isterinya Weworiye bersama delapan anak mereka ke wilayah Tuur-In-Tanah.
  • Soputan dengan isterinya Pariwukan bersama sembilan anak mereka ke gunung Soputan.
  • Makawalang dengan isterinya Tarebambang bersama empat anak mereka pergi menghuni dalam goa dekat gunung Rumengan.
  • Winowatan dengan isterinya Mongidawan bersama lima anak mereka berangkat ke Paniki.
  • Kumambang, Inawatan dan Mangilawan dengan anak-anak mereka ke arah Timur.
Mereka dari suku kedua menyebar sebagai berikut :
  • Rumoyoporong  dengan isterinya Payaporong pergi ke pulau Puntenalu – Rumoyoporong, sekarang pulau Lembeh.
  • Tumewan, Rumibuuk dan Sioukurur tiba di Kema, kemudian   Sioukurur pindah ke Pinaras.
  • Roringsepang dengan isterinya Sundei dengan empat anaknya naik ke gunung Awukan, sekarang Dua Sudara
  • Pangerapan dengan isterinya Kureisima, Ponto Taendalang dengan isterinya Rameipotola menuju ke tanjung Lumelengkei dekat tanjung Pulisan; dari sana Pangerapan  dengan isterinya pindah ke gunung Masarang.
  • Talumangkun dengan isterinya Sindowene bersana dua anaknya tinggal di Malawatan, dekat Kalabat.
  • Sumendap dengan isterinya Matinempung berangkat ke  Kasosoran dekat Tuur-In-Tanah.
  • Makarawung dengan isterinya Marinendan menuju ke  Elehan Nindoh di sebelah barat Tuur-In-Tanah.
  • Repi dan kedua isterinya Matinonton dan  Toutonbene bersama lima anak mereka menuju ke  Rano Lahendong, dekat Elehan Nindoh.
  • Pangibatan dan isterinya Tinoring dan lima anak mereka menetap di Walelaki, dekat Rano Lahendong.
  • Muntu-untu, Marinoya, Panauran, Tamatular, Miohiohoya dan Maniolah dengan isteri-isteri mereka Rinuntunan, Sinendonan, Sinendengan, Sendangkoti, Merikundap, Tendewene dan Lingkanbene pergi ke Kasendukan.
  •  Mamarimbing, Makarau, Tumilaar dan isteri-isteri mereka Tinutulan, Kalelewan, Kauwelan bersama anak-anak mereka mendirikan rumah-rumah mereka di Karondoran, dekat Tuur-In-Tanah.
Juga mereka dari kelopmpok suku yang ketiga menyebar luas:
  • Rumawei dengan isterinya Sumarieh bersama tiga anak mereka menuju ke gunung Lengkoan; kemudian salah seorang anaknya bernama Turang pergi ke bukit Kasuratan.
  • Timbeler dengan istrinya Raupotola dan kedua anak mereka menuju ke puncak gunung Tampusu.
  • Kawatak dengan isterinya Rauntenden bersama dua anak mereka menetap di gunung Kawatak.
  • Tiwatu Wata-in Kaweng dengan isterinya Mewekasuindei  bersama tiga anak mereka mendiami gunung Kaweng. Salah seorang anak bernama Kiroyan, menemukan sebutir telur ayam dari mana menetas seekor ayam jantan yang dinamai Lakah-In-Banua. Setelah Kiroyan kemudian berangkat ke selatan, ayam itu menggali tanah di suatu tempat sehingga keluarlah  mata-air; tempat itu dinamai Kinakas dan kemudian Kakas.
  • Manimporok dengan  isterinya Kateweyan tetap mendiami gunung Manimporok.
  • Karimenga dengan  isterinya Lakowulan dan ketiga anak mereka menuju ke Roong; dua anak mereka bernama Golumbatu dan Mailoor berpindah ke Wawoh atau Likongkom. Disini terkenal sebuah legenda bahwa salah satu turunan dari suami-isteri tersebut diatas, yakni Sarisei, diangkat oleh angin puyuh dan dibawa ke Ternate.
  • Makareak  dan isterinya Marambulan dengan ketujuh anak mereka pergi ke pegunungan yang kemudian dinamai Makalunsoi, sesuai nama anak mereka.
  • Tumiworang  dengan isterinya Woloan bersama dua anak menetap dekat  Tuur-In-Tanah.
  • Welong dengan isterinya Rinaitalan, Talainang dengan isterinya  Rinengan bersama tujuh anak pergi ke tempat dekat sumber air panas Welang pada sungai Leleko disebelah utara Remboken. Bersama mereka ikut Tikul, Wawanolan dan Lawangirung, tetapi Tikul berpindah ke tempat yang disebut sesuai namanya sedangkan keduanya yang lain berpindah lagi  ke  tempat lain.
  • Kumanimboto dengan isterinya Randoibuatan tinggal menetap di Paleweten, dekat Kawangkoan.
Akhirnya kelompok suku keempat menyebar sebagai berikut :
  • Sambolean dengan isterinya Wehambene pergi ke bukit Nolu di barat-daya Lokon-Tombariri.
  • Tumongkar dengan isterinya Lumoling, Sumabiwit dengan isterinya Rauntenden beserta anak mereka Watulelei pergi menetap di Pakasingen dekat Tondano.
  • Watulumandei dengan isterinya Watusionan pergi ke gunung Timampas  ke suatu tempat yang dinamakan sesuai namanya  Watulumandei.
  • Lumangka dengan isterinya Rumaweibene dan tiga anak menuju ke tempat sesuai namanya Lumangka dekat air terjun Tonsea-Lama.
  • Makarende dengan isterinya  Pahapoan dengan satu anak pergi menetap disebelah barat  tempat tersebut diatas.
  • Keempat suku ini hidup bersama secara tenteram-damai di wilayah luas Minahasa sampai ketenteraman itu diganggu oleh  seorang bernama Mahawetik yang terkenal gila kuasa.
Suku-suku itu kembali berkumpul dekat Tuur-In-Tanah yang kini dikenal Pinawetengan. Pada pertemuan ini Mahawetik mengancam mereka tidak akan selamat jika mereka hendak mengikatnya dengan berbagai aturan. Akhirnya mereka mufakat akan bertemu kembali dua kali sembilan hari pada waktu mana akan diputuskan suatu hukuman terhadap Mahawetik.
Pada hari sidang yang penting ini dijatuhkan putusan hukuman mati terhadap Mahawetik. Tonaas Petek Watan dan tonaas  Pekang Watu, dua manusia pemberani dan cucu-cucu dari  dua hulubalang Timbeler dan Soputan, telah ditunjuk untuk membunuh Mahawetik. Ketika mereka datang pada Mahawetik yang sementara itu telah mengetahui rencana mereka, ia bertanya secara mengejek apakah sebenarnya maksud mereka berdua. Petek Watang menjawab: “Saudara Mahawetik, kamu tahu kesalahanmu, akuilah saja dan kami tidak akan membunuhmu”. Tetapi Mahawetik dengan merasa congkak tidak mau mengakui kesalahannya ,  akibatnya  ia langsung dibunuh oleh Petek Watang.
Peristiwa ini diumumkan kepada semua turunan  Lumemuut dan Toar dengan suatu peringatan supaya jangan sekali-kali mencontohi tabiat yang tercela dari Mahawetik itu.
Kemudian Toar dan Lumemuut sekali lagi memanggil seluruh keturunannya untuk berkumpul di Tuur-In-Tanah, tempat mana mendapat nama Pinawetengan-In-Nuwu, (yang berarti : pembagian bahasa), atau Siniwoan-In-Posan ( yakni : penetapan igama).
Toar dan Lumemuut menyuruh membangun empat pondok dimana fosso atau persembahan akan diselenggarahan. Pertemuan akan diadakan sesudah hari kesembilan setelah pembangunan pondok-pondok termaksud selesai.
Pondok fosso pertama mengarah ke  tenggara, menandakan Nuwu (bahasa) dan Posan (agama), diuntukkan bagi suku Tou Rikeran (Tou Sendangan). Pondok fosso kedua mengarah ke timur-laut diuntukkan bagi suku Tewoh (Tonsea). Pondok fosso ketiga mengarah ke barat-laut diuntukkan bagi suku Mayesu (Tombulu) dan Pondok fosso keempat mengarah ke barat-daya bagi suku Tou Kinembut (Tounpakewa atau Toutemboan).
Pada hari yang ditentukan semua suku telah terkumpul. Toar dan Lumemuut  berdiri diatas  ketinggian datar tempat musyawarah dan salah seorang  dari mereka berbicara: “Dengar, anak-cucu kalian! Lihat pada pondok-pondok fosso ini yang ditetapkan bagi jumlah suku, bahasa dan igama kalian”.
Lalu mereka diminta untuk pergi menyiapkan makanan supaya tiga hari sesudah pertemuan dapat diselenggarakan fosso kepada Empung Wangko.
Tiga hari kemudian masing-masing suku membawa sajian perjamuan untuk fosso mulia itu. Pada kesempatan ini Toar dan Lumemuut membagi-bagikan tanda jati-diri kepada masing-masing suku. Tou Rikeran (Tou Sendangan) mendapat tiga ujung bambu masing-masing  beruas-dua, dua yang dipotong rata dan yang satu miring. Kepada suku Tewoh (Tonsea) diberikan daun woka muda, demikian juga kepada suku Mayesu (Tombulu) tetapi bagi yang terakhir ini untuk digantung pada persembahan fosso.. Kepada suku Tou Kimembut (Tompakewa/Tontemboan) diberi dua ujung bambu, yang satu beruas lima dan yang lainnya beruas tiga. Bambu-bambu ini disisipkan diantara sela lantai pondok fosso.
Setelah berbagai suku itu  menuju  ke masing-masing pondok fosso  dengan tanda jati-dirinya, Toar dan Lumemuut membagi tanah negeri ke empat jurusan bagi mereka masing-masing untuk ditempati sebagaimana ditetapkan oleh pondok fosso masing-masing itu.
Toar dan Lumemuut memberkati keturunan mereka melalui doa berikut: “Linglingan ni Empung Wangko Winerengan nei imposan, nuwu wo nawohan wia se suru palumpung nai; ya ranua toroh wehan kamong sea wia nendoh peneuneuan  nera, pahapoan ya nikou si nimamuali Empung Wangko paopoan, wo paempungan, wo paregesan ne suruh palumpung mei wo karengan nikou simamuali ririor nu muanuri nera tumuur wia nendoh yai, wo nendoh mei; ya wehan kamang sea wia rondoran nera wo sea makapalumpung waranei in tuama, ya ipoayou sea wana sambouan wo  ririmpuruan in langit witu kaampit intikoman, esa, rua, telu, epat, lima, enem, pitu, uwalu, siou, ewailan, pakatuan pakalawiren”.
Artinya : “O, Empung Wangko, perhatikanlah pembagian suku, bahasa dan agama ini; berkatilah anak-anak dan cucu-cucu kami setiap hari, karena engkau maha besar dan maha baik. Keturunan kami akan menyembah,  menghormati dan takut padamu demi kejayaan mereka. Semoga mereka memperoleh putera-putera yang perkasa dan puteri-puteri yang cantik; dan angkatlah mereka padamu pada tingkat: satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan!
Semoga  mereka panjang umur. Amin!”
Setelah Toar dan Lumimuut menyampaikan salam damai kepada hadirin sekalian mereka membubarkan diri dan menyebar ke segala jurusan. Suku-suku itu berpisah dalam berbagai tumpuk kecil:   – Tou Sendangan terdiri dari kelompok Kinakas, Rimembok, Kauner (Toulian) dan Temboran (Toulimambot).
  • Suku Tewoh terbagi dalam kelompok Tonsea, Kalabat-Atas, Kalabat –Bawah dan Likupang.
  • Suku Toumbulu terbagi dalam kelompok: Talau (Sarongsong), Muhung  (Toumuung), Wariri (Tombariri), Kinilow, Kakaskasen, Ruru-Ares (Ares), Titiwungen dan Manarou.
  • Suku Toukinembut terbagi sebagai berikut:: Langowan, Tompasso, Kawangkoan, Touwasian, Rumoyomg dan Sonder.
Setelah pembagian ini para tonaas dari masing-masing kelompok itu mulai membangun rumah-rumah tinggal dan merombak hutan untuk membuka kebun-kebun, dan dengan demikan lahirlah hak pasini atau pemilikan tanah warisan perorangan.
Suku Tou Rikoran (Tou Sendangen) dibawah tonaas-tonaas Tiwatu, Rumawei, Welong, Timbelor dan Tumangkar segera mendirikan negeri Roong-Wangko, Roong-Oki, Samberong, Toumasem dan Pakasingen. Bagian lain dari suku ini, turunan dari Talainang, mendirikan negeri-negerinya  pada gunung Tampusu, sedangkan bagian lainnya , turunan dari Rumawei, pergi menghuni gunung Lengkoan, kemudian  mereka menamakan diri suku Tou Sendangen. Kelompok-kelompok ini melalui perkawinan bersatu dibawah tonaas Welong, Watulumondei dan Talainang, sehingga terbentuklah Tou Rimembok (warga Remboken), yang mendirikan negeri Parepei, Bekel,  Kasuratan, Palelolohan dan negeri-negeri lain di pantai timur Minahasa.
Sebagian Tou Sendangen mendirikan negeri Tanahki sebelah selatan Tondano. Warga dari negeri ini dibawah tonaas Senduk  menyebar, kemudian berpisah dan mendirikan negeri Minareng Toulengko, Timbukar dan Maawuh. Beberapa kelompok dibawah tonaas Tiwatu mendirikan Karekian dan menuju ke bagian pantai timur, dimana mereka mendirikan Ipus, Wiau dan Tounsingel. Banyak warga Tounsingel meninggalkan negeri mereka untuk mendirikan Kayuwatu, sedang sebagian dari mereka dibawah pimpinan Bolungbailan berangkat ke danau Tondano untuk mendirikan disana Tonelet (sekarang Kaweng) dan Tewoh-Oki. Kemudian menyusul negeri-negeri Taniki, Minareng, Toulengko, Timbukar, Maawu dan Karikian, sehingga lahirlah banyak kelompok suku. Salah satu kelompok menyebut diri Tounuungan (penduduk Kakas).
Sebagian besar suku Tou Sendangen mendirikan negeri-negeri Mapangingi dan Sumambuwit, sesuai nama tonaas dan ayah mereka. Salah seorang dari warga ini bernama Pinontoan, saudara dari Waruribanasou, lalu  Walewangko (berasal dari Roong-Wangko) berpindah dan mendirikan  negeri Kinasing. Di sini ia menikahi wanita bernama Barimbing Makawua, yang menurut legenda muncul dari pohon waringin sewaktu pohon itu digoyang oleh Pinontoan. Dari perkawinan mereka  lahir 18 anak, 9 diantaranya  menjadi dotu dari warga Tountemberan dan yang 9 lainnya  menjadi dotu dari Tounkauner.
Juga lahir sekelompok suku dibawah tonaas Lowusingel, berasal dari Touwidu. Kelompok suku lain datang dari Batuputih, dekat tanjung Pulisan; kelompok suku ini agaknya berasal dari pulau Taifore bersama dengan kelompok suku Lowusingel. Di Batuputih  mereka bentuk kelompok-kelompok suku Lumiang dan Lumambot. Tetapi negeri-negeri ini dimusnahkan oleh angin puyuh lalu penduduk itu berpindah ke Pakasingen. Dari negeri-negeri yang dibangun ini mereka diusir, setelah mana mereka pindah ke danau Tondano dan disebut Toumayuren (orang rakit). Mereka bergabung dengan suku-suku Toukuuner dan Tountemberan, yang melahirkan suku Toulour (Tondano) yang pula terbagi menjadi Touliang dan Toulimambot.
Dari suku-suku yang dikatakan berasal dari Taifore diceritakan bahwa mereka juga berasal dari Toar dan Lumemuut. Dulu pada waktu melintasi lautan menuju Minahasa-Selatan mereka terhanyut dan terdampar di Taifore.
Tentang suku Tewoh (Tonsea), mereka mendirikan negeri-negeri Kembuan, Koho, Sinaloan, Maodon, Kumelembuai, Kema dan Kanigoran. Kemudian datang lagi di negeri-negeri ini  suku-suku lain dibawah tonaas-tonaas Talumangkun, Tumewan, Talingpongoh dan Makarewa, sehingga desa-desa mereka menjadi lebih besar.
Di Kanigoran terjadi persengketaan hebat antara penduduk; seorang tonaas bernama Rogi dengan para pengikutnya berpindah ke selatan. Di tengah jalan salah seorang anaknya memisahkan diri lalu menuju ke Kemelembuai dan Maodon, yang lain jalan terus dan mendirikan negeri Kinembuan dan Tousinalaan.
Kemudian lahir desa-desa Tiwoho, Regesan dan Telete sehingga suku Tewoh menjadi lebih besar lagi dan akhirnya menyebut diri Tounsea atau Tonsea.
Seorang warga bernama Deeng bersama anak-anaknya  pada suatu hari meninggalkan Kinembuan dan mendirikan Kalawat Kaleosan, negeri mana kemudian dipimpin oleh tonaas-tonaas Watuna, Wanta dan Pepa. Warga dari Kalawat Kaleosan menamakan wilayah mereka Kalawat-Atas (kemudian Maumbi). Dibawah tonaas Saumanuan, Wangko dan Kundor  banyak warga Kalawat Kaleosan pergi ke dataran Wenang, yang suku Tombulu telah menduduki sebelumnya. Bersama-sama mereka membentuk kelompok suku Kalawat-Wawah.
Pada waktu orang-orang Barat (Eropa) pertama mendarat di Tumpaan Wenang (pelabuhan Wenang), tonaas Tangkudung bersama anak-anak dan para pengikutnya berpindah ke utara dan membangun negeri-negeri baru pada daerah pesisir, yakni Watu Kokoleh, Likupang-Atas dan Likupang-Wawah. Penduduk negeri-negeri ini menyebut diri mereka Tou Likupang.
Suku Mayesu memisahkan diri dalam tujuh kelompok, yakni Touwariri (Tombariri), Tousarongsong, Toumuhung, Toukakaskasen, Touares, Toumanarou (warga Manarou atau Manado) dan Toutitiwungen.
Touwariri adalah keturunan Toumbelwoto yang datang dari Toulou dan pergi ke utara dimana mereka tiba pada sebuah mata-air yang keluar dari dataran  yang berumput wariri. Dari tempat ini mereka berpindah lagi ke Katinggolan;  negeri-negeri mereka berkembang dibawah para tonaas Aper, Karundeng, Karumba dan Lokonmangundap menjadi  wilayah Tombariri. Kemudian suatu suku lain bergabung dengan mereka, yakni anak-anak dari Walansendau dan Matinempung. Bersama-sama mereka membangun negeri Woloan, Ranotongkor, Tara-Tara dan Ranowangko (sekarang Tanahwangko).
Kelompok suku Tousarongsong mendirikan dibawah tonaas Walean negeri Kuhun, yang diperluas oleh para tonaas Tumurang, Mandagi. Rarakutan dan Sumakul. Juga didirikan negeri-negeri  Pinankeyan dan Korar.
Kelompok suku Toumuhuung terdiri dari keturunan tonaas-tonaas Rumengan dan Manaroisong yang telah mendiami daerah Muhung. Sebagian dari penduduk Kinilow datang dibawah pimpinan Mokoagouw dan mendirikan negeri Tousaru. Penduduk negeri ini, dan yang dari Muhung dan dari Tousingel, yang tersebut terakhir dibawah pimpinan Deeng, saudara dari Bolung Bailan dan Matindas, datang menghuni dekat gunung Wawo dimana mereka mendirikan negeri Lingka dan menggabungkan diri dengan suku Tounsaru.
Sebagian dari suku Toutewoh, keturunan dari Talumangkun dan datang dari Toutelete, pergi ke gunung Rumengan untuk bergabung dengan warga Muhung, dibawah Tonaas-tonaas Mamengko, Gosal, Koleleh, Tosuma, Tinemberan, Mopolendeng dan Mangangantung dan sangat berkembang biak.
Kelompok suku Toukakaskassen terdiri dari keturunan  Pinontoan (dari gunung Lokon) dan Adolan (dari gunung Lokontouburi). Mereka mendirikan Kinilow dibawah tonaas Sirang, Impel, Kokoli, Mumek dan Mamohe yang berkembang pesat. Kemudian mereka mendirikan Kalewangko. Tetapi negeri Kalewangko kemudian dimusnahkan oleh suku-suku lain dan tonaas Ruru dengan para pengikutnya mendirikan Nawaleh. Di waktu masa pimpinan Tiko Nuwor datanglah suku-suku dari Mandolang bergabung dengan penduduk Kinilow dan bersama mereka membentuk kelompok suku Kakaskassen.
Tonaas Lolong bersama anak-anaknya berangkat ke Kaliwangko dan mendirikan Pinapoan dekat sungai Ares. Lolong menyebutkan diri Ruru Ares.
Ketika negeri-negeri Kalawat-Wawah dan Ares berkembang maju, datang lagi ke Wenang suatu kelompok suku lain dibawah Sindulang, putera dari Mokodompis. Mereka bergabung di Wenang dengan suku Tombulu yang lebih dulu telah menetap di Wenang, dan menyebutkan kerajaan mereka Manarou (sekarang Manado).
Mengenai suku Toukinembut (Tompakewa, Tontemboan), mereka ini mendirikan dibawah Tonaas mereka masing-masing Soputan, Tingkulendeng, Makaliwe, Totokai dan Kawatak, negeri-negeri Tumaratas dan dari sini mereka menyebar dalam lima kelompok: Tou Langowan, Tompasso, Tou Kawangkoan, Tou Wasian dan Tou Rumoon. Mereka membangun negeri-negeri Waleure, Walewangko, Pelios, Kawatak-Ure, Tounsekoan, Tonelet, Salimumut, Toka Lowian dan Langowan.
Kelompok suku Tompasso, keturunan dari Soputan dan Tingkulindeng, berasal dari Tumaratas; mereka menuju  ke Barat dan mendirikan rumah tinggal dekat sumber air panas yang mereka temukan. Kemudian mereka berpindah ke Kemanga dan Sinapi lalu mendirikan Tompasso.
Sebagian dari suku Toukinembut terdiri dari keturunan Totokai, Tingkulendeng dan Soputan meninggalkan Tumaratas dan mendirikan negeri Pawelaten dan kemudian bergabung dengan keturunan dari Mangantas yang datang dari Rumoyong dan bersama-sama mereka mendirikan negeri Kinali, Lona, Kiawa dan Kawangkoan. Kelompok suku ini disebut Tou Kawangkoan.
Sebagian lain dari suku Toukinembut, terdiri dari keturunan Lampoupalit mendirikan negeri Rumbaraan, kemudian  berpindah dengan semua tonaas mereka ke Wasian sehingga mereka disebut Tou Wasian (sekarang Tombasian).
Tou Romoon mendirikan Nimanga. Dalam banjir sungai Nimanga telah tewas tonaasnya  Pakolumutu dengan saudara perempuannya Wulansinde dan inilah menyebabkan  Tou Romoon untuk berpindah ke Kotumon atau Teep. Namun kemudian  mereka masih lagi mendirikan negeri baru dekat sungai Nimanga, namanya Rumoyong dan satu negeri lain lagi dekat Ranoyapo. Penduduk negeri-negeri ini disebut Tou Romoon.
Waktu mendirikan negeri Wenang kedua negeri Lona dan Kiawa memisahkan diri dari Kawangkoan. Hal ini dikerjakan oleh  seorang tonaas pemberani bernama Mokalu. Sesudah pemisahan ini kedua negeri ini berkembang maju dan penduduknya disebut Tou Sonder.
Pada suatu hari seorang bernama Diensuatan, anak dari  Walalangi (dari keturunan Tou Sendangen) pergi ke daerah pesisir sebelah timur Kakas dan mendirikan negeri Ipus. Penduduk negeri Ipus  banyak kali diganggu oleh para perompak  laut tetapi setiap kali dapat bertahan bahkan menghalaukan mereka. Diensuatan dengan  para pengikutnya yang pemberani itu melukiskan   pada batu-batu gunung segala kemenangan yang diperoleh dengan berbagai gambar manusia.
Namun karena mereka tetap diganggu oleh bajak laut maka penduduk Ipus dibawah pimpinan Rumimpunu berpindah lebih ke pedalaman dan mendirikan negeri Wiau. Rumimpunu menikahi wanita bernama Rimba dan anak mereka bernama Rumambi mengambil wanita  Pinapangkahu sebagai isterinya. Karena Rumambi kemudian  dengan rakyatnya masih diganggu oleh bajak laut, mereka  pindah lagi lebih jauh ke daerah pedalaman yakni ke negeri Tounsingel yang mereka perkuat dengan tanggul-tanggul yang ditanami dengan bulu berduri.
Rumambi kawin lagi di Tounsingel dengan isteri kedua bernama Matinempung dan menyebut diri sebagai suaminya, Runturambi.
Dari isteri Pinapangkahu Rumambi memperoleh enam putera:  Lipan, Kuhu, Deen, Rungian, Angkol dan Wangke, serta seorang puteri bernama Mokei. Sedang sebagai Runturambi dari isteri Matinempung ia memperoleh dua putera bernama Balungbailan dan Matindas.
Balungbailan ini dengan gagah berani bersama para pejuangnya menghalaukan sepasukan bajak laut yang mencoba menyerang benteng Tounsingal. Bahkan ia mengejar pasukan itu sampai ke Pulisan. Disini para bajak laut bertahan dan memperoleh ijin dari tonaas setempat untuk menetap sebagai penduduk.
Setelah kematian Rumambi, Pinapangkahu dan Matinempung kesembilan putera bersaudara itu mulai bertengkar. Matindas dan Angkol menetap di Batuputih  di wilayah Tonsea, dimana Matindas kawin dengan Mogogunoi-lumeno, puteri dari Ratunuman dan Sepionbatak.
Tentang Matindas diceritakan bahwa ia sangat mencintai isterinya yang cantik, sehingga ia tetap tinggal bersamanya di rumah, takut Mogogunoi-lumeno akan diculik orang. Pada suatu waktu isterinya meminta supaya ia ke laut  untuk menangkap ikan karena ia sangat ingin  memakannya. Untuk tidak mengecewakan isterinya, Matindas  bersedia memenuhi permintaannya, tetapi sebelum melaut ia membuat patung yang sama indah rupanya seperti isterinya yang ia turut bawa sertanya didalam perahu. Tetapi suatu badai laut menimpanya dan patungnya jatuh di laut. Waktu Matindas selamat kembali ke rumahnya ia mendengar sebuah ramalan dari seorang wanita, bahwa jika patung itu diketemukan akan mengajak penemunya untuk mencari  manusia penyandangnya, yakni Mogogunoi-lumeno tersebut.
Patung wanita cantik ini ditemukan oleh beberapa nelayan dari Bolaang-Mongondow. Mereka membawanya pulang ke rumah dan menyampaikannya kepada raja Mokoagou. Raja ini sangat terkesan tentang keindahan paras patung ini dan mendengar dari para nelayan tersebut tentang caranya patung itu ditemukan di laut dan  dari jurusan mana angin waktu itu bertiup. Ia memerintahkan kepada para nelayan itu untuk pergi ke daratan  dari mana tiupan angin itu datang dan mencari wanita asli dari patung itu.
Dengan demikian mereka tiba di Batuputih dan berjumpa dengan Mogogunoi-lumeno. Kepada suami Matindas diberitahukan oleh para nelayan bahwa raja mereka akan datang bersama pasukannya dalam 2 x 9  sembilan hari ke tempat ini untuk mengambil wanitanya.
Untuk melaksanakan rencana ini raja itu mengerahkan lima perahu dengan pasukannya yang paling berani untuk menempuh pelayaran termaksud.
Mogogunoi-lumeno yang telah mendengar rencana ini menyuruh Matindas untuk menanggalkan pakaiannya dari kulit pohon dan menggantungkannya pada atap rumah mereka, lalu kepadanya diminta supaya ia bersembunyi di dalam sebuah peti.
Isterinya sedang duduk diatas peti itu setelah raja Mokoagou diterimanya dengan sangat ramah. Waktu ditanya tentang suaminya, dijawabnya bahwa Matindas sedang pergi berburu dan baru akan kembali pada hari keenam atau kesembilan.  Ia menambahkan lagi akan sangat senang mengikuti raja itu ke negerinya. Raja Mokoagou gembira mendengarnya dan berjanji akan memenuhi segala permintaannya.
Kemudian Mogogunoi memintanya untuk memanjat pohon pinang untuk mengambil beberapa buah untuknya, tetapi ia perlu memakai dulu pakaian kulit dari Matindas, supaya siapa saja dapat melihat betapa besar cinta suami terhadap isterinya. Raja itu lalu memanjat pohon pinang, tetapi Mogogunoi menembakkan sebuah panah ke arahnya  dan membunuhnya. Sumber lain bercerita bahwa Mogogunoi segera  pergi menghubungi anak buah  raja itu dan mendesak mereka untuk membunuh Matindas yang sedang menaiki pohon, permintaan mana mereka laksanakan karena mereka pikir bahwa yang dibunuh itu adalah suaminya  yaitu Matindas.
Setelah hal ini terlaksana, Mogogunoi  membuka peti dan Matindas mengambil pedangnya, memotong kepala raja itu dan juga beberapa dari anak buahnya, hal mana membuat sisa musuh itu menjadi kacau balau karena ketakutan. Mereka lari ke segala jurusan dan seberapa yang mendapatkan kembali perahu mereka, langsung kembali ke kerajaan dan memberitahukan kepada seluruh keluarga raja Mokoagou tentang kekalahan mereka dalam perang melawan Matindas.
Setelah Angkol mendengar tentang kemenangan saudaranya  ia segera mengejar sisa musuh yang masih berkeliaran di hutan-hutan, menaklukkan serta menjadikan mereka menjadi anak balanya.. Mereka ini dibawa ke Koho dimana mereka membangun negeri Singkel dan menyebut diri mereka Tou’n Wantik.
Deeng yang mendengar tentang pertempuran Angkol, meninggalkan daerah Lingkomkom Wawoh dan pergi bersama para pengikutnya menuju ke utara untuk membantu saudaranya. Di tengah perjalanan mereka ditimpa  angin topan hujan deras dan cuaca buruk tetapi akhirnya mereka tiba di Winereyan dimana mereka bertemu dengan  suatu suku lain yang setelah diselidiki berasal dari suku Bantik Sumait, dan telah turun dari gunung Kure, karena ditugaskan untuk mencari anak buah raja Mokoagou dan membalas dendam terhadap Matindas. Deeng yang mengetahui rencana mereka segera menyongsong dan memerangi mereka. Ia berhasil mengalahkan Bantik Sumait, yang menyatakan bersedia menjadi anak balanya. Kemudian Deeng berangkat dengan para pengikutnya ke daerah pesisir dan mendirikan negeri Bahu Malalayang.  Bersama  rakyat dari daerah Singkel mereka  menyebut diri Tou’m Bantik.
Para anak buah Mokoagou yang lain yang berhasil menemukan perahu-perahu mereka pada pelayaran kembali berlabuh di Bentenan.
Saudara Matindas, Kuhu, yang mengetahui hal ini berhasil menaklukkan mereka, namun mereka minta untuk menjadi anak bala dan warganya. Mereka diijinkan  untuk  mengusahakan pembuatan garam pada kedua mulut sungai Makalu dan Palamba. Tidak lama kemudian mereka pindah ke tepi sungai Molompar, lalu menuju lebih ke pedalaman dan mendirikan negeri Towunti. Maka lahirlah suku Pasan Wangko. Sebagian dari suku ini memisahkan diri dan dengan para tonaas mereka, mereka membangun negeri Ratahan.
Menurut Mayor Kakas-Remboken, bahwa  yang mendiami negeri-negeri  Towuntu, Passan dan Ratahan ada dua keturunan dari Kuhu, yakni Kawulusan dan Katimbang. Sekali waktu Kawulusan meminjam dari Katimbang sebuah kail dari emas, lalu ia pergi memancing di laut.
Tetapi pada saat ia mengira telah menangkap seekor ikan, rasanya ada yang putus dan segera diketahuinya bahwa kail emasnya telah hilang.
Setelah hal ini diceritakan Kawulusan kepada  Katimbang, temannya ini berkata: “Sekalipun anda gantikan kailnya itu dengan seratus kail lainnya, saya tetap tidak akan puas”. Maksud Katimbang  ialah untuk mengikat kawannya Kawulusan itu menjadi hambanya.
Lalu Kawulusan kembali ke laut dan melalui dewa-dewa ia berhasil turun ke dasar laut dan bertemu seorang wanita cantik yang mengeluh karena mulutnya luka. Kawulusan meyakinkan padanya bahwa ia dapat menyembukan lukanya itu. Ia menemukan kail emas dari Katimbang tersangkut dalam mulutnya, lalu melepaskannya dari daging  mulutnya itu. Sebagai tanda terima kasih Kawulusan  diberi selembar kain tenunan yang waktu Kawulusan tiba diatas air, ternyata hadiah itu hanyalah seikat rumput laut.
Ia kembalikan kail emas itu kepada Katimbang dan menanam sebuah pohon pisang di dekat kolam tempat mandi. Waktu pohon itu sudah bertumbuh besar ia minta kepada para dewa supaya menurunkan hujan deras pada waktu ia bersama Katimbang  sedang mandi di kolam itu. Permintaan ini dipenuhi dan waktu  hujan turun deras Katimbang memotong sebatang daun pisang yang lebar untuk melindungi kepalanya. Tetapi Kawulusan memberitahukan kepadanya bahwa ia pemilik pohon pisang itu dan ketika Katimbang  mau mengembalikan daun pisang itu kepada pemiliknya, Kawulusan menjawab: “Sekalipun anda menyerahkan seratus  daun pisang untuk menggantikan  daun yang telah terpotong itu, saya tidak mau menerimanya”. Dengan demikian Katimbanglah yang dijadikan hambanya. Hidup sebagai hamba tidak membahagiakan Katimbang maka ia lari ke sebuah pulau antara Sulawesi dan Ternate yaitu pulau Biaro yang menjadi tempat huniannya yang baru. Dalam suatu serangan yang dilancarkan suku Mongondou, keturunannya di pulau itu lari kocar-kacir dengan perahu tetapi mereka tertangkap dan dijadikan budak dari raja. Salah seorang keturunan yang bernama Rogi berhasil lari ke selatan dan mendirikan Niagen dekat Kema sekarang ini.
Suatu kisah lain menerangkan ketika raja Ramapolei menguasai Bolaang, saudara perempuannya Sawulaon jatuh sakit karena berduka atas kematian anaknya Maidangkai. Lalu Ramapolei memerintahkan 25 anak buahnya yang pemberani untuk membawa Sawulaon ke arah timur-laut dan bilamana ia dalam perjalanan meninggal dunia, mereka harus menguburnya di tempat dimana ia menghembuskan nafasnya terakhir dan mereka harus pula menjaga makamnya itu. Ternyata Sawulaon tewas dalam perjalanan dan di tempat dimana jenazah dimakamkan oleh para pengikut raja ditanami sebatang pohon wulan didekatnya. Mereka juga rela menghentikan perjalanan mereka  dan mendiami tempat ini. Penduduknya bertambah banyak dan akhirnya terbentuklah suatu suku Panosakan. Di daerah bagian pesisir dibangun suatu negeri baru yang diberi nama pohon yang telah ditanami dekat makam Sawulaon, yakni Wulan yang kemudian disebut Belang.
Menurut sejarah di masa peperangan antara raja Bolaang-Mongondou dengan rakyat Taifore, suatu suku dari pulau ini dibawah pimpinan Matimbulang, suami dari Tindeyo, pindah  menuju ke pulau Lembeh.  (Catatan: Menurut Mayor Kakas , Matimbulang adalah keturunan dari Rogi yang berhasil lolos dari penyerangan Bolaang-Mongondou). Dari sini mereka ke daratan Minahasa dan tinggal dan hidup dekat Lour Oki sebagai nelayan, tetapi di tempat ini mereka diganggu oleh burung-burung bangau yang selalu memakan segala tangkapan ikan yang dijemur untuk dikeringkan. Mereka berpindah lagi ke Liwuian sebelah timur Remboken. Disini pun mereka merasa tidak tenang dan mereka pindah lagi ke negeri Passo yang sekarang. Juga disini mereka diganggu oleh serangan nyamuk dan akhirnya memutuskan untuk pindah ke Winewelan sebelah utara negeri Kakas. Juga di tempat ini mereka merasa diganggu oleh rongit atau lalat, disamping banyaknya kolombi dan renga. Mereka berpindah ke arah barat-daya dan dibawah pimpinan Rumbai mereka menempuh perjalanan  meliwati gunung berapi Soputan dan setelah turun dari gunung mereka tiba di sebuah danau dan di pinggirnya mereka mendirikan negeri Tombatu.
Kemudian mereka mendirikan negeri Tompiwiran dan Tou Watu-Weru lalu bergabung dengan suatu kelompok suku dari pesisir menjadi satu suku yang dinamai Tou-n Sawang.
Tentang Bolungbailan diceritakan oleh Mayor Kakas kepada saya bahwa Bolung-bailang  telah menikahi Wurenga dan mereka tinggal bersama di Kayuwatu. Pada waktu isterinya melahirkan seorang puteri bernama Kineke tidak ada air di kampung untuk mencuci anak itu. Danau Kayuwatu Oki letaknya jauh. Bolungbailan mengambil tombaknya dan menusuk di lereng gunung dengan mengucapkan doa supaya keluar suatu mata air. Para dewa menerima doanya maka timbullah sebuah kolam kecil yang sampai sekarang dikenal namanya Rakoi.
Waktu Bolungbailan bersama isteri Wurenga dan anaknya meninggalkan Kayuwatu mereka membangun negeri  Tewo. Di tempat ini Wurenga melahirkan seorang putera bernama Karangan yang kemudian menikahi Pateresan dan yang juga melahirkan  seorang putera Bolungoki. Keturunan mereka ini yang mendirikan Kakas dan Tondano.
Keturunan Talumangkun adalah Talingpongoh dan Lambogia. Yang disebut pertama menikahi dengan Ringkingbulaon-matonton dan memperoleh anak bernama Lotulung. Ia ini menikahi   Piringsaramathei dan memperoleh anak bernama Lutam Mokosambul, yang kemudian mengawini Makawangkabu, puteri dari Rumaha yang berasal dari lain pulau. Dari perkawinan ini lahir 9 anak, semuanya perempuan.
Lutam Mokosambul kemudian mendirikan negeri Muagen. Puterinya Mutuwailan Kuse kawin dengan Ringinbailan, dari pernikahan mana lahir 9 putera, yakni: Ramopolei (Ratupolei), Ratunuman, Ratulalas, Ratugigir, Ratumbanua, Ratuliu, Ratumbuisan, Ratumbatake dan Ratumonangen.
Ramapolei yang terkenal seorang pemberani yang sering melakukan perjalanan  darat dan pelayaran laut untuk berdagang, telah mengawini seorang puteri dari Taifore yang bernama Wawu Teteon. Setelah perkawinan ini ia menjadi  tonaas dari Muagen, menggantikan neneknya Lutam Mokosambul. Sekali waktu Ramopolei berangkat ke Gorontalo atau ke lain pulau, isterinya berhubungan gelap dengan Maidangkai, putera dari Sigar dan isterinya Ngisawulaon yang adalah saudara perempuan dari Ramopolei.
Setelah Ramopolei tiba kembali dan mendengar peristiwa ini, ia menyuruh membunuh Maidangkai. Ia memutuskan untuk bersama adik perempuan Ngisawulaon yang sangat marah kepadanya karena telah membunuh anaknya, untuk berangkat dengan perahu serta meninggalkan wilayah ini dan bersumpah untuk tidak akan menginjak kembali tanah ini. Ia memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan perjalanan ini lalu mereka berangkat menuju ke barat dan tiba di mulut sungai Rano-i-apo. Di tempat ini Ramopolei  menghentikan pelayaran dan mampir untuk mandi di sungai. Sementara mandi ia melihat sebutir buah pakoba menghanyut ke arahnya. Ia mengambilnya dan melihat ada bekas tanda gigi pada buah itu. Ia menelitinya dan menyimpulkan bahwa bentuk tanda gigitan yang munggil itu berasal dari seorang puteri. Ia segera menyuruh anak buahnya membuat rakit dan bersama dengan beberapa pengikut ia merakit menuju ke hilir sungai. Setelah sehari penuh melawan arus mereka mendengar seekor ayam jantan berkokok. Mereka tiba di suatu dusun dimana mereka  bertemu dengan seorang wanita tua yang memberitahukan kepada  Ramopolei bahwa tidak jauh dari tempat itu berdiam raja dari negeri itu. Ramopolei memikiri suatu cara supaya dapat bertemu dengan seluruh wanita dari negeri itu, ke mana ia harus pergi untuk dapat mengamati siapa diantara mereka yang memiliki gigi yang munggil seperti dilihatnya pada buah pakoba itu.
Wanita tua membantunya dengan menyerahkan kepadanya dua ekor ayam jantan untuk diadu yang atas permintaannya dicabut bulu-bulu mereka, dan dengan kedua hewan itu Ramapolei pergi ke negeri raja termaksud. Di tempat ini ia berkeliling untuk mempertontokan adu ayamnya. Semua pria, wanita dan anak-anak berdatangan dengan gembira untuk menikmati tontonan adu ayam ini. Suatu jendela dari rumah raja dibuka dan nampak seorang puteri cantik mengeluarkan kepalanya. Ia sedang sibuk dengan pekerjaan menganyam ketika ia mendengar keramaian diluar rumahnya. Waktu melihat adu ayam tanpa bulu itu ia juga turut ketawa. Pada saat itu Ramopolei mengeluarkan buah pakoba dan membandingkan tanda gigitan dengan rangkai gigit dari puteri cantik yang sedang ketawa dan baginya sudah nampak jelas ada  persamaanya. Dia adalah Wawuu, puteri raja yang segera dipinangnya kepada ayahnya dan mendapat persetujuannya.  Akad nikah dilangsungkan disertai upacara fosso (persembahan) besar-besaran. Ramopolei  yang berbahagia itu menunjukkan buah pakoba yang diketemukan itu dan menceritakan caranya ia telah mendapatkan puteri itu. Negeri itu yang letaknya dibagian utara Wulurmahatus diberi nama Pakoba.
Tidak lama kemudian, bersama isterinya dan para pengikutnya Ramopolei melakukan lagi perjalanan melalui laut ke arah barat dan tiba di depan Lombangin (Bolaang) yang rajanya Tindu Mokoagou diketahuinya telah dibunuh oleh Matindas.
Ia menyuruh salah seorang pengikutnya naik ke darat untuk mengambil air minum tetapi jogugu Bolaang bernama Mongahirai tidak mengijinkan. Sehari kemudian  dua anjing dari jogugu tanpa ketahuan berenang ke perahu-perahu dan berhasil mencopot mata dari beberapa pengikut Ramopolei. Tetapi Ramopolei menembak panahnya  dengan suatu perintah kepada senjatanya itu supaya membunuh jogugu Mongahirai lalu kembali ke tempat panah Ramopolei. Hal ini telah terjadi dan Ramopolei akhirnya diangkat sebagai raja Bolaang.
Juga Tou Singal yang sedang mendiami daerah sebelah barat Sombokei tidak dapat bertahan diri terhadap gangguan terus-menerus perompak laut, maka sebagian dari warganya dibawah tonaas Lipan, putera Rumambi dan Pinapangkahu, dan saudara dari Bolangbailan, Matindas, Kunu, Deeng, Angkol, Wangke dan Rugian, berangkat menuju ke barat dan tinggal menetap  di dekat  gunung Wulur Maatus lalu hidup dengan memburu babi dan sapi hutan.
Sekali waktu tonaas Lipan setelah  berburu, tiba di rumahnya dan mendapati bahwa makanan yang disimpan telah hilang. Ia tidak melihat tanda-tanda bahwa makanan itu dibawa lari oleh binatang. Jadi Lipan yakin bahwa manusia yang mencurinya. Pada kali-kali berikut makanan yang disimpan itu masih saja hilang lenyap. Lalu Lipan mengambil keputusan untuk menyaksikan sendiri dengan cara bersembunyi dan menunggu. Tidak lama ia melihat seorang gadis cantik menuju ke tempat simpanan makanan dan mulai memakannya. Diam-diam ia menuju ke gadis itu dan bertanya siapakah dia.Anak itu sangat kagit, hendak melarikan diri tetapi Lipan menangkapnya. Akhirnya gadis itu mengakui bahwa ia, Lipan, adalah ayahnya dan Wawuu ibuunya; ibunya ini sedang bertengger di ujung batang rotan. Lipan yakin bahwa Empung Wangko telah mengutus suatu mahluk dari kayangan kepadanya untuk menebus kehilangan  ayah, ibu dan saudara-saudaranya yang sudah begitu lama tidak lagi dilihatnya.
Gadis itu selanjutnya tinggal bersama Lipan sampai ia menjadi wanita dewasa yang cantik. Lipan yang sementara itu menjadi tonaas wangko dari seluruh penduduk Wulur Maatus mentaati sumpah yang pernah dibuatnya untuk menyelenggarakan pesta syukuran kepada Empung Wangko yang telah sangat membahagiakannya. Puterinya diberi nama panggilan Wang Rintek (pemilik gigi munggil).
Tonaas wangko Lipan mengawini seorang wanita terpandang yang memberinya beberapa  anak, putera dan puteri.
Waktu Wawuu atau Wang Rintek berusia 18 tahun, ia, sebagaimana telah dikisahkan terdahulu, diketemukan oleh Ramopolei, dan bersama-sama mereka pergi ke Bolaang, dimana Ramopolei setelah lama berpetualang, diangkat sebagai raja.
Kemudian ia berperang dengan Wantania, raja Mongondou. Setelah raja Mongondou ini dikalahkan, anaknya dari isteri Wang Rintek diberi nama Wantania.
Sumber : J.E. Jasper (1916)