WONDAMA: TEMPAT PERTAMA PENDIDIKAN MODERN ORANG PAPUA (1924 – 1945)

0
2530

Cover Buku 15x21 ariev(Ana Maria F. Parera, Handono Kusumo, Yance N. Lopaty) Editor: Dr. Bernardia Meterai

Kehadiran injil di Wondama tidak terlepas dari masuknya injil pertama kali di Mansinam pada 5 februari 1855 oleh Ottho Herdring dan Pendeta Johann Gottlob Geissler. Masuknya injil di Manisinam, bukan saja merupakan awal dari agama Nasrani diterima orang Papua. Pentingnya peran agama Nasrani ini dapat dilihat dari berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat Papua di seluruh Tanah Papua hingga dewasa ini. Berbeda dengan pendidikan yang diselenggarakan di Mansinam yang muridnya bukan hanya berasal dari Papua tapi juga dari Ambon, Sangir dan keturunan Cina, maka di Wondama pendidikan hanya dikhususkan bagi anak-anak asli Papua yang berasal dari Biak, Serui, Numfor, Sorong, Jayapura dan Nabire.
Wondama sebagai tempat pertama kali pendidikan modern orang Papua pada 1925 – 1944, karena pertama kali dibukanya pendidikan guru desa di Wondama tepatnya di kampung Miei distrik Wasior Kota. Sekolah pendidikan guru desa ini didirikan khusus bagi putra-putra asal Papua di wilayah bagian Barat dan Utara Papua. Pembukaan sekolah guru ini untuk menjawab kebutuhan guru dengan dibukanya beberepa sekolah kampung-kampung di Papua. Melalui lembaga pendidikan ini kelompok awal elit Papua bukan hanya menerima materi secara perlahan-lahan mulai menyadari makna kepapuan diantara mereka. Namun perlu ditegaskan bahwa pendidikan awal ini yang dilaksanakan hanya sebagai sarana untuk memperkenalkan dan menjadikan orang Papua menjadi Kristen. Pendidikan berfungsi untuk menempatkan siswa sesuai tujuannya namun sebaliknya pendidikan dapat menghasilkan sesuatu yang tidak diharapkan. Sebagai konsekuensi dari terselenggaranya pendidikan oleh pihak gereja, pendidikan yang berlangsung di Papua akhirnya menimbulkan perubahan pada orang Papua. Di Miei Kabupaten Teluk Wondama telah membawa perubahan yang sangat mendasar diantara orang Papua yang berbeda suku dan yang berkumpul di Miei.
Pendidikan guru desa di Miei ini berpola asrama mereka dididik untuk hidup mandiri sehingga mereka sendiri dapat berprestasi. Pelajaran yang diajarkan adalah membaca, menulis dan berhitung di samping itu pelajaran agama yang diajarkan yaitu mendengarkan bacaan-bacaan Alkitab, belajar bernyanyi dan berdoa.