TRADISI WALA DALAM BUDAYA ORANG MATBAT DI RAJA AMPAT

0
5464

A.PENGERTIAN WALA   

 Wala dapat diartikan sebagai nyanyian yang dibawakan dengan gerak tari dalam budaya orang Matbat. Wala merupakan tradisi lisan dalam budaya suku matbat atau orang matbat sebagai suku asli di Misool, kabupaten Raja Ampat. Masyarakat di Misool secara luas mengenal wala sebagai lan batan o atau lagu tanah yang mengandung pengertian nyanyian yang dibawakan dalam bentuk tarian pada orang matbat yang berkisah tentang asal usul batan me/batan msool dan  persebaran asal usul dan kehidupan orang matbat dan segala bentuk peristiwa yang mereka alami. Wala  sendiri mengandung arti bernyanyi dan  bagi orang matbat wala dipandang  sebagai sesuatu yang dianggap sakral berkaitan dengan upacara sebagai bagian dari kehidupan mereka.

         Wala dianggap sebagai sesuatu yang sakral yaitu pada proses mendalami tradisi Wala dan peruntukan wala itu sendiri sendiri seperti untuk upacara adat tertentu. Pada proses seorang matbat mendalami wala maka ia akan dihadapkan pada  persyaratan-persyaratan yang akan dan harus dilewati sebagai seorang pemimpin atau pembawa Wala. Sedangkan peruntukanya, ada Wala yang hanya dibawakan pada saat upacara tertentu. Ada anggapan seorang pembawa wala hidupnya selalu dekat dengan alam dan juga sebagai seorang yang dapat berkomunikasi dengan dunia lain.

Kenyataan yang dapat kita temui pada kelompok suku yang ada di Papua, setiap proses ritual upacara adat selalu diikuti atau diiringi dengan nyanyian dan tarian. Konsep wala pada orang matbat pada sisi tertentu sangat kuat dengan prosesi upacara baik yang berkaitan dengan masa remaja dimana seorang anak muda matbat memilih untuk mendalami tradisi wala dan juga peruntukan saat membawakan wala tersebut .

Wala dalam tradisi orang matbat di Misool dibagi dalam dua mode wala berdasarkan wilayah sebaran yaitu Wala yang dibawakan oleh kelompok matbat yang berada di bagian matahari naik atau Pun Munsa dan Wala yang dibawakan oleh kelompok matahari turun atau Pun Muncai. Perbedaan yang sangat mencolok pada dua wilayah ini yaitu pada hentakan kaki dan irama yang dibawakan yaitu dibagian matahari naik (pun munsa) irama sedikit halus dengan hentakan kaki mengikuti irama sedangkan pada kelompok matahari turun irama atau tempo agak cepat dan sedikit kasar diikuti dengan adanya hentakan kaki sebagai antara.

 Dalam penyampainnya wala dilakukan  secara lisan diikuti dengan gerak yang oleh orang matbat disebut sibilwala (dansa wala). Sebagai kajian  folklor wala merupakan tradisi  lisan di mana dalam kajian isi dari  wala ditemukan berbagai pesan dan nilai  berupa kritik ataupun nasehat  yang berkaitan dengan aspek-aspek tertentu dalam  kehidupan orang matbat  yang sifatnya simbolik, juga isi dari wala  menceritakan kejadian yang di dukung dengan berupa bukti tempat-tempat tertentu sebagai penguat kejadian  atau sebagai pengingat yang dibawakan dalam wala tersebut (mnemonic device).

Tulisan ini hanya sebagai pengantar atau pintu masuk untuk lebih memahami dan mendalami wala terutama berkaitan dengan struktur dan analisa semiotic dalam wala.

B.Asal Usul Wala

Berbicara asal usul Wala berkaitan dengan mitologi orang Matbat yang berhubungan  dengan  asal usul terjadinya Batanme atau pulau Misool dan orang Matbat. Dalam pelaksanaan dansa adat wala  ada tahapan-tahapan, saat sebelum seorang baut  memimpin wala kemudian persyaratan ataupun kehususan pada marga tertentu sebagai penutur merupakan bagian dari cerita asal usul orang Matbat yang tertuang dalam wala terutama wala batano yang menceritakan kejadian asal mula terjadinya pulau Misool atau Batanme dari gunung ke gunung, tanjung ke tanjung, sungai atau kali-ke kali dengan kejadian-kejadian. Jadi berbicara wala berarti berbicara sejarah asal usul orang Matbat.

C.JENIS, BENTUK DAN FUNGSI WALA

Jenis-jenis Wala dari hasil identifikasi karakteristik wala dapat kami uraikan berdasarkan pada teks atau isi dengan kriteria-kriteria yang kami pakai untuk menyusun kategori-kategori jenis-jenis Wala adalah berdasarkan isi / kandungan teks Wala dan, berdasarkan ranah atau situasi saat pembawaan Wala tersebut. Berdasarkan kandungan atau isi teks, Wala dapat kami kelompokkan menjadi :

  1. Wala Batan o / Wala Sejarah; adalah Wala yang mengisahkan tentang asal usul terjadinya  pulau Misool. Selain Wala yang mengisahkan tentang asal usul pulau Misool ada juga Wala yang mengisahkan peristiwa tentang pemimpin adat orang Matbat seperti bagaimana mereka mengisahkan Sangaji Mathafi sebagai  seorang pahlawan pemberani.
  2. Wala Nasihat dan Puji-pujian ; adalah wala yang isinya berisi nasihat dan biasanya menunjuk langsung pada masalah. Seperti bila ada konflik antar keluarga biasanya mereka membawakan wala yang isinya bagaimana menghindari konflik dan suasana yang indah dalam hidup bersama. Sedangkan Wala puji-pujian biasanya masih berkaitan dengan tanah leluhur, orang tua, pengagungan kepada tamu dan saat kedukaan. Ke dua Wala ini paling sering di temui dalam teks Wala dalam kehidupan orang matbat
  3. Wala Rekreatif; adalah Wala yang teksnya berisi ungkapan-ungkapan sebagai pembangkit semangat, memberi motifasi dalam melaksanakan pekerjaan tertentu yang membangkitkan kesenangan bagi yang mendengar. Seperti saat mereka membangun rumah terutama pada saat menutup bagian atap dan saat menarik perahu baru yang selesai dibuat.                                                                                           D.FUNGSI DAN TUJUAN WALA

Dalam teori folklor, fungsi folklor lisan khususnya nyanyian rakyat menurut Bascom mempunyai empat fungsi utama yaitu ; (1) sebagai sistem proyeksi atau sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif, (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan, (3) sebagai alat pendidikan anak, dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi oleh anggota kolektifnya (Dananjaya 2002:19). Penentuan fungsi Wala didasarkan pada fungsi folklor sebagai tradisi lisan menurut Dananjaya dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu (1) fungsi rekreatif; (2) fungsi pembangkit semangat dalam bekerja; (3) fungsi pemelihara sejarah, baik sejarah klan atau masyarakat dan sebagainya dan (4) fungsi sebagai sarana protes sosial.

Dari keempat fungsi yang dikemukakan dikaitkan dengan fungsi Wala dalam tradisi orang matbat maka fungsi paling menonjol adalah fungsi sebagai pendukung dalam ritual upacara adat .  Wala sebagai  bagian dari suatu ritual adat walaupun suasana Wala memang menunjukkan suasana pesta tetapi pada hakekatnya kereligiusanya nampak dan dirasakan para peserta yaitu dengan tertib tidak banyak bertingkah saling mengganggu. Ada semacam kontak dan komunikasi khusus antara penutur yang membawakan Wala dan para hadirin. Dan ciri lain yang paling terasa yaitu cara ba ut atau  si penutur  menuturkan wala. Upacara adat dengan wala yang sering dilakukan seperti saat pengukuhan, perkawinan, penyambutan tamu, dan upacara seputar lingkaran hidup.

Wala sebagai fungsi pembangkit semangat  banyak di jumpai pada saat melakukan pekerjaan baik individu maupun kolektif. Aktifitas pekerjaan seperti saat melaut, mengayuh perahu, bekerja di kebun atau di hutan saat membuat perahu dan sebagainya.

Salah satu fungsi yang berkaitan dengan konteks lokal pada orang Matbat yaitu fungsi kontrol sosial dan fungsi pengayaan bahasa dan budaya orang Matbat. Dalam teks atau isi dari wala banyak terkandung pesan-pesan dan nasihat dari para orang tua agar bagaimana menjaga hidup antara manusia dengan alam, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan sang pencipta.

Saat penyajian atau pertunjukan wala merupakan unsur hiburan yang tak kalah penting, bagaimana penyampaian wala dengan akselerasi hentakan kaki dan nyanyian yang dituturkan dengan irama yang harmonis sebagai suatu hiburan  dengan penghayatan yang di dalamnya terkandung pesan  nilai dalam teks yang dapat menghilangkan ketegangan-ketegangan dan menciptakan keseimbangan yang luar biasa dalam lingkungan sosial orang Matbat.

E.PELAKU DALAM WALA

Mereka  yang terlibat atau  pelaku dalam pelaksanaan tarian dan nyanyian wala adalah pemimpin wala dan pengikut wala  yaitu ba ut sebagai pembawa atau pemimpin yang mengetahui wala dengan baik  dan penutur utama dalam dansa sibilwala. Saat pelaksanaan tari wala seorang ba ut bisa dua orang  namun yang satunya kadang hanya bertindak sebagai asisten tergantung nyanyian wala apa yang dibawakan. Bila salah seorang membawakan maka yang satu sebagai penyambung yang diikuti dengan kelompok penari wala. Setiap penari wala juga yang menyanyikan disebut sebagai anak wala yang terdiri dari pemimpin  dan anggota penari Wala. Penari dalam  wala merupakan bagian penting dalam tari dan nyanyian wala, karena pada saat membawakan wala irama yang berasal dari hentakan kaki para penari sangat mendukung keselarasan antara nyanyian dan tarian wala. Penari dan penyanyi wala  diikuti baik laki-laki maupun perempuan dewasa, tua maupun remaja.

     F.PERLENGKAPAN DALAM TRADISI WALA

Tarian Wala harus dibawakan di tempat seperti di atas papan atau kulit pohon nibung yang dijadikan sebagai dasar  yang dimaksudkan dapat  menimbulkan bunyi saat ada hentakan kaki. Hal ini sangat penting karena suara atau bunyi yang dihasilkan dari hentakan kaki merupakan bagian dari irama pengiring saat pelaksanaan tari dan nyanyian Wala. Selain tempat, atribut yang digunakan  para penari saat menari dan membawakan Wala lebih kepada asesoris yang mereka gunakan untuk laki-laki berupa noken, ikat kepala berupa kain, cawat yang terbuat dari kulit kayu dan  kain, ikatan tali pada lengan, manik-manik dan gelang-gelang kaki dan tangan dari kulit biah dan gelang besi. Sedang pada perempuan menggunakan kain yang diikat sampai bagian dada (sabutun) dan sisir yang terbuat dari bambu (se kabalam ) dengan hiasaan daun daunan.   

G.KEBERADAAN WALA SAAT INI

Keberadaan Wala saat ini   merupakan suatu pertanyaan berkaitan dengan  eksistensi Wala  pada orang matbat di Misool Raja Ampat. Dan untuk menjawab ini perlu melihat atau mengikuti  perkembangan Wala  selama lintas perjalanannya sejak masa lalu sampai era dewasa ini dan pendapat dari beberapa tokoh adat matbat. Terdapat banyak perubahan pada Wala dalam keberadaannya sebagai  tradisi lisan yang dibawakan dalam bentuk dansa adat pada budaya orang Matbat. Ada beberapa alasan sebagai akibat  perubahan pada Wala yang dikemukakan tua adat Matbat dan secara umum mereka mengatakan  masuknya unsur budaya luar sangat berpengaruh terutama pada generasi muda dan perkembangan pembangunan dengan semakin terbukanya isolasi dengan arus informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang suka atau tidak suka diterima sebagai bagian dari proses peradaban.

Menurut bapak  Kristian Mjam  (tokoh adat matbat)  mengatakan  masuk atau diterimanya pekabaran injil di daerah Misool yang dibawa oleh guru-guru injil berdampak pada pelaksanaan dansa adat Wala. Dan ketika terang Kristus menaungi hati orang-orang  matbat, maka di saat itu terjadi secara alamiah pula perubahan-perubahan pada dansa wala seperti ;wala  yang dulunya dilaksanakan ketika ada orang meninggal agak jarang dilakukan bahkan ada yang sama sekali hilang.

Wala yang dulunya hanya dibawakan pada acara-acara adat yang sifatnya khusus saat ini kapan saja bisa dilaksanakan terutama saat penyambutan tamu-tamu pejabat yang sifatnya menghibur. Keberadaan wala saat ini, berkaitan dengan tokoh atau penutur wala bisa dihitung dengan jari  seperti penutur di bagian matahari naik (pun munsa) hanya 2 orang penutur dan di bagian matahari tenggelam (pun muncai) juga tinggal 2 orang penutur.

Secara garis besar  pergeseran di waktu sekarang  dalam keberadaan  Wala   adalah  peruntukan pelaksanaan, tempat pelaksanaan, fungsi dan suasana dalam pelaksanaan dansa adat wala dan diantara penutur ini ada yang tidak menghafal tetapi menggunakan catatan.(ar.macap)