MONUMEN PERANG DUNIA KE II PARAI – BIAK NUMFOR

0
10123
M2U00801.MPG_snapshot_00.08_[2015.04.03_14.06.51]
Objek Wisata Sejarah Monumen Perang Dunia Ke-II Parai Biak Numfor

Monumen Perang Dunia ke II terletak di Kampung Paray/Anggraidi  Distrik Biak Kota. Letak monument ini berada di pinggir pantai yang sering dikunjungi sebagai tempat rekreasi di kota Biak. Akses ke lokasi ini cukup mudah dan dapat di tempuh dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh 15 menit dari pusat kota Biak ke arah timur. Dipilihnya Parai sebagai lokasi Monumen tentu dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

      Arsitektur Monumen Perang Dunia Ke-II di Parai ini dirancang oleh Hiroshi Ogawa. Monumnen ini  terlihat  unik karena banyak simbol yang dimunculkan pada bagian-bagian kawasan monumen dan bentuk bangunannya. Dalam kawasan Monumen Perang Dunia Ke II secara garis besar terdiri dari beberapa bagian seperti  pada  bagian utama berupa tembok yang dibuat sedikit melengkung terlihat tulisan “MONUMEN  PERANG DUNIA  KE  II”  dalam tiga bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang, pada bagian depan  terdapat delapan batu besar dengan bentuk dan ukuran bervariasi yang  letaknya di atas semacam Altar dengan menghadap potongan patok beton yang  tersusun rapih   melambangkan para prajurit tentara Jepang sedangkan delapan batu besar tersebut melambangkan delapan Jenderal Jepang yang gugur di medan perang antara lain ;

  1. Jenderal Kirohito
  2. Jenderal Yakoyama
  3. Konodera
  4. Sumakikatrada
  5. Yukiyama
  6. Shoukiyaka
  7. Selanjutnya belum di dapat

Pada bagian kanan terdapat bangunan berbentuk lekukan menyerupai cangkang keong yang melambangkan mulut goa dan sudut pada ke dua ujungnya berbentuk Alfa dan Omega. Bangunan ini terkesan melindungi 3 set meja marmer lengkap dengan 16 balok marmer sebagai  tempat duduk, salah satu di antara ke tiga meja tersebut berbentuk telapak kaki kiri sebagai simbol yang  melambangkan pendaratan tentara Jepang pertama di Pulau Biak. Pada bagian depannya berbaris secara simetris dan teratur dua belas balok marmer, serasa mengawal kita menuju pada bagian utama “Monumen Perang Dunia Ke II” dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang. Pada bagian kiri atas dari tugu utama terdapat tiga prasasti dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang yang bertuliskan “MONUMEN PERANG DUNIA KE II. MONUMEN UNTUK MENGINGATKAN UMAT MANUSIA TENTANG KEKEJAMAN PERANG DENGAN SEGALA AKIBATNYA AGAR TIDAK TERULANG LAGI” sedang pada bagian samping dari tugu utama terdapat sebuah lorong berkelok yang didalamnya kita temui sisa perlengkapan dari para serdadu Jepang, foto-foto dan sisa-sisa tulang yang diletakkan dalam kotak-kotak besi. Untuk memasukinya anda harus melewati pintu kecil yang tidak setiap waktu terbuka. Dulunya lorong kecil tersebut adalah gua alam, yang berfungsi sebagai tempat persembunyian tentara Jepang saat diserang oleh tentara sekutu. Pintu keluar dan pintu masuk pada lorong ini menuju ke goa Sumberker. Pada bagian depan pintu melambangkan bendera Jepang (Hinomaru). Pada lorong ini tiap tahun ada keluarga dari serdadu yang datang untuk melakukan sembahyang mengenang keluarga mereka yang gugur.

Sejak dibangun sampai saat ini sesuai dengan kesepakatan kerjasama, jumlah tulang belulang yang sudah diserahkan ke pemerintah Jepang sebanyak 3500. Tiap tahunnya  pasti ada yang datang sampai 3 kali dan setiap tahun ada tulang belulang yang diserahkan ke pemerintah Jepang semenjak 1994. Banyak benda peninggalan  berupa panser-panser yang dulunya dapat kita temui namun saat ini tidak ditemukan lagi karena sudah dijual sebagai besi tua (bestu) termasuk pesawat Dakota Duapura. Monumen  ini dibangun pada  24 Juli 1992  dan diresmikan pada hari kamis tanggal 24 April 1994 oleh Gubernur Drs. Jakob Pattipi dan Parliamentary Vice Minister of Health and Welfare serta Ambassador Extraordinary and Plenipotentiary of Japan. Untuk mengenang serdadu Jepang yang telah gugur di medan perang, maka sesuai harapan Kementerian dan Kesejahteraan Jepang di bangun sebuah Monumen Perang Dunia Ke-II berdasarkan “Memorandum of Agreement” anatara Pemerintah Jepang dan Pemerintah Republik Indonesia.

          Parai saat ini  dengan pantainya dan monument Perang dunia ke- II  merupakan salah satu objek wisata dan daya tarik wisata “sejarah” dari antara ke 29 objek dan daya tarik  wisata yang ada di Kabupaten Biak Numfor.

         Awal pendudukan Jepang di Biak pada 1942, pasukan Jepang berhasil mendaratkan tak kurang dari 10.400 orang serdadunya. Pada periode berikutnya, hembusan angin peperangan memang semakin memihak tentara Sekutu yang dibuktikan dengan rentetan kesuksesan mereka memukul pasukan Jepang di beberapa front Pasifik. Namun seperti halnya di tempat lain, tentara Sekutu memang terbilang cukup kerepotan untuk mengalahkan pasukan Dai Nippon di Biak yang terkenal pantang menyerah dan tak takut mati. Sampai pada akhirnya goa pertahanan terakhir Kolonel Kuzume Naoyuki berhasil disulap menjadi neraka oleh pasukan Sekutu, setelah menghujaninya dengan peluru, granat, minyak, dan lebih dari 850 pon TNT. “Ketika kami memasuki goa-goa itu, aroma mayat terpanggang yang menyengat datang menyambut kami; rupanya peluru, granat, gasoline, dan TNT telah melakukan tugasnya dengan baik, kata salah seorang veteran punggawa Sekutu, Letnan Jenderal Robert L Eichelberger, dalam buku Jungle Road to Tokyo.

             Anggraidi (Parai) dulunya merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan Jepang di Papua antara tahun 1919 – 1945 yang kemudian dipindahkan ke Bosnik pada 1945. Pada bulan April 1942, pecah Perang Dunia II yang juga sampai ke Irian Jaya  termasuk  Biak. Sejarah mencatat bahwa di kampung Parai dan sekitarnya sebagai saksi bisu dalam keganasan Perang Pasifik antara sekutu dan Jepang. Goa-goa alam dan  tebing ditempat itu sangatlah ideal sebagai basis pertahanan dan tempat persembunyian sejumlah tentara Jepang di bawa komando Kolenel Kuzume dari infantry 222.

            Setelah sekutu memborbadir Jayapura (sekitar Danau Sentani) dan melumpuhkan benteng pertahanan tentara Jepang di Sarmi (Wakde), maka pada tanggal 14 Juni 1944 jam 18.00 waktu setempat, Jenderal Walter Krueger bersama Jenderal Eichelbel mengadakan konfrensi dan mengutus Jenderal Walter Kruiger sebagai Komandan Angkatan Darat ke-VI untuk mengatur penyerangan ke Pulau Biak. Bosnik sebagai lokasi pendaratan awal oleh infantry 162 dan menyusul infantry 163 pada tanggal 27 Mei 1944 dilanjutkan dengan infantry 186 yang langsung menjalankan control tempur lewat darat menuju Parai.

            Pada tanggal 18 Juni 1944 infantri 34 Marinir dan Batalion Artileri ke 163 yang berkedudukan di Wakde (sarmi) tiba di Biak (Parai) di bawah pimpinan Jenderal Fuller yang pada saat tiba kontak infantry tentang daerah persembunyian tentara Jepang dengan devisi 41 yang pada saat itu sudah berada di lokasi (Parai dan sekitarnya). Pada tanggal 26 Juni 1944 daerah sekitar Parai sampai dengan kampung Sorido dikuasai oleh tentara sekutu. Dengan demikian pada tanggal 27 Juni dilaporkan kepada Jenderal Eichelbelger bahwa keadaan disekitar Parai dan Kota Biak sudah aman dan pada tanggal 28 Juni Jenderal Eichelbelger berangkat dari Biak menuju Hollandia (Jayapura)

Dikutip dari :

  1. History of Biak Operation
  2. Bloody Biak Chapter
  3. Biak Landing and Seizure of Mokmer Drome.
DSC_4077
Bangunan bentuk cangkang di sisi kanan bagian dari Monumen Perang Dunia Ke- II

M2U00845.MPG_snapshot_00.05_[2015.04.01_13.49.40]
Meja berbentuk tapak kaki Kiri simbol pendaratan tentara Jepang di Biak Numfor
M2U00846.MPG_snapshot_00.02_[2015.04.01_13.49.51]
Simbol Matahari pada salah satu sudut bangunan
M2U00851.MPG_snapshot_00.03_[2015.04.01_13.48.26]
Salah satu prasasti di Monumen dalam bahasa Jepang
M2U00853.MPG_snapshot_00.03_[2015.04.01_13.48.55]
Tiga prasasti dalam bahasa Indonesia,Inggris dan Jepang yang berisikan pesan kekerasan akibat dari perang
M2U00860.MPG_snapshot_00.04_[2015.04.01_14.38.11]
Beberapa foto milik tentara Jepang yang masih tersimpan di lorong yang Juga berfungsi sebagai ruang koleksi
M2U00850.MPG_snapshot_00.05_[2015.04.01_13.47.37]
Prasasti dalam bahasa Indonesia

DSC_4090
Ruang koleksi di Monumen Perang Dunia Ke-II di Parai Biak Numfor
M2U00852.MPG_snapshot_00.04_[2015.04.01_13.48.41]
Salah satu prasasti di Monumen dalam bahasa Inggris