BPNB PAPUA MENGGELAR PAMERAN TERBATAS SENIMAN TERDAMPAK CORONA VIRUS (COVID-19)

0
606
Martha Ohee, pekerja seni pengrajin kulit kayu (Khombow) dan noken dari Sentani Dalam Pameran Terbatas yang difasilitasi BPNB Papua

Jayapura, Masa pandemi virus corona (covid-19) begitu banyak menimbulkan permasalahan, bukan saja masalah utamanya dengan jumlah penderita dan kematian yang terlihat terus mengalami peningkatan dari hari ke hari tetapi berdampak pula di berbagai sekmen kehidupan masyarakat terutama ekonomi.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah guna pencegahan, deteksi dan respon terhadap Covid-19. Salah satunya adalah kebijakan pembatasan  ruang gerak atau sosial distancing sebagai langkah yang tepat dalam memutus mata rantai persebaran Covid-19. Pembatasan interaksi sosial masyarakat ini berakibat terhadap roda kehidupan terutama ekonomi tak terkecuali  berdampak pula bagi pekerja seni di tanah Papua.

Dalam menyikapi permasalahan ini Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Papua sebagai unit pelaksana teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tanah Papua bersikap dengan menggelar pameran terbatas yang tentunya tetap mengacu pada prosedural kesehatan seperti mencuci tangan, menjaga jarak dan menggunakan masker yang disiapkan oleh panitia.

Kegiatan ini masih berkaitan dengan kegiatan sebelumnya dalam dialog dengan para pekerja seni di tanah Papua dalam “ Bincang Budaya” yang mengangkat tema seniman Papua bertahan dalam masa pandemi virus corona  (Covid -19).  

Pameran terbatas ini dilaksanakan di kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Papua, Isele Waena kampung Kota Jayapura. Pameran terbatas bagi pekerja seni yang yang terdampak ini sebagai bentuk fasilitasi dari BPNB Papua agar mereka para pekerja seni tetap eksis walau dengan ruang gerak yang terbatas.

Kegiatan pameran terbatas ini digelar tanggal 18 dan 19 Mei 2020 dengan menghadirkan delapan pekerja seni di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Keerom. Di hari pertama Ibu. Martha Ohee (pengrajin kulit kayu dan noken), Denis Koibur (pengukir, pembuat tifa dan miniatur perahu), Thomas Maay (pelukis), dan Yusuf Dawan (pematung dan ukiran).