Pengobatan Tradisional Masyarakat Siahari Kabupaten Maluku Tegah; Daun Gatal (Laportea Ducumana)

0
1903

Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai  suku yang tersebar diseluruh kepulauan Indonesia, memiliki berbagai macam produk kebudayaan salah satunya pada  bidang kesehatan. Kesehatan merupakan salah satu hal yang mendasar dan sangat diperlukan. Sebab produk budaya kesehatan terwujud pada pengobatan tradisional dan menggunakan cara tradsisonal. Pengobatan secara tradisioal yang dipergunakan oleh masyarakat tradisional sangat beragam,karena memiliki keanekaragaman hayati yang terdapat lingkungan mereka hidup serta kearifan lokal yang mereka miliki sehingga menjadi penyebab munculnya produk-produk budaya. Keanekaragaman hayati yang terdapat dilingkungan mereka hidup menjadi sumber alam yang sangat potensial untuk membuat obat-obat tradisional yang mampu menyelesaikan permasalahan kesehatan mereka. Mengobati orang sakit dalam kondisi seperti masyarakat yang ada di Siahari tidak lain dari pada mengobati secara tradisional. Demikian juga sampai saat ini kebiasaan untuk membaca mantera atau mengusir roh-roh jahat dan meminta bantuan roh-roh baik serta mempergunakan daun dan akar-akar pohon masih berlaku,sehingga masih dianggap sebagai obat yang sangat mujarab. Selain masalah kesehatan juga keberadaan ekonomi masyarakat Siahari masih sangat minim sehingga membuat mereka tidak dapat berobat ke tempat kesehatan yang layak(rumah sakit,puskesmas). Menurut masyarakat Siahari mereka memiliki beberapa jenis daun tradisional yang dapat dipakai untuk mengobati  orang sakit salah satunya adalah  Daun Gatal sebgai obat Lelah atau Pegal-pegal.

Daun Gatal – Laportea Ducumana

Cara pengobatannya yaitu: daun gatal tersebut ditepuk-tepuk pada bagian tubuh yang lelah dan seketika bagian tubuh tersebut akan terasa gatal sehingga bermunculan bitnik-bintik merah yang terasa perih,namun beberapa saat kemudian bagian tubuh yang telah digosok daun gatal akan terasa sangat hangat dan selanjutnya rasa lelah yang kita rasakan akan hilang. Daun gatal sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat di Siahari dan juga masyarakat Ambon dan kepulauan Lease. Tanaman daun gatal tumbuh bebas di hutan kampung Siahari . Secara fisik panjang daun sekitar 20 cm dan lebarnya 15 cm. Ujung daun gatal meruncing dan bagian pangkalnya membulat warna daun hijau tua.

Namun, di bagian tengahnya terdapat pola warna daun yang lebih muda. Permukaan daun bagian atas dan bawah tidak rata dan berbulu-bulu kecil. Bulu-bulu ini seperti jarum kecil yang akan menempel pada kulit. Itu yang terkenal dari daun ini. Menurut masyarakat Siahari mereka  mengatakan daun gatal yang dihasilkan dari hutan Seram sudah digunakan masyarakat lokal menjadi obat alternatif tradisional untuk mengatasi sakit-sakit badan dan kelelahan karena kesibukan bekerja keseharian. Daun gatal banyak dijumpai di hutan-hutan tanah Seram dan tumbuh subur secara liar. Secara ilmiah tumbuhan famili Urticaceae umumnya memang memiliki kandungan kimiawi, seperti monoridin, tryptophan, histidine, alkaloid, flavonoid, asam formiat, dan authraguinones. Masyarakat Siahari  mengharapkan kekayaan hutan alam Seram harus tetap dijaga dan tidak boleh dirusak karena memberikan manfaat secara ekonomi, sosial, budaya, dan adat istiadat.

Piter A. Syaranamual, S.Sos