Makan Saro , Doa dan Harapan Pengantin Baru

0
313

Penulis : Umi Hidayati, S.S – Pamong Budaya Pertama

Makan saro merupakan salah satu tradisi makan  bersama masyarakat kesultanan ternate. Tradisi ini tidak hanya di gelar di kalangan keluarga kesultanan, masyarakat ternate juga melaksanakannya baik dalam upacara pernikahan, aqiqah ( cukur rambut ), tahlil, dan acara adat lainnya. Dalam upacara pernikahan, tradisi makan saro sarat akan doa dan harapan kepada pengantin baru.makanan saro-saro yang di hidangkan dalam tradisi ini terdiri dari : kobo atau ketupat kerbau, ketupat nanas, pali-pali atau nasi jaha, dan atau nasi kuning,ikan dan terong, gulai, tamelo atau bubur kacang hijau, bubur srikaya, boboto. Kobo atau ketupat berbentuk kerbau di ibaratkan seperti hewan kerbau yang rajin dan kuat, sebagaimana seorang suami harus gigih dalam mencari nafkah. Nanasi atau ketupat berbentuk buah nanas seperti karakter istri yang berhati lembut dan manis yang kokoh menjaga kesetiaannya untuk sang suami.

Bubur sirkaya yang bertekstur lembut dan manis melambangkan budi pekerti suami istri yang baik,lemah lembut dan saling menyayangi. Dada atau nasi kuning mempresentasikan kematangan seseorang istri untuk berbakti kepada suami dan mengurus rumah tangganya. Nasi jaha pali-pali di potong menjadi 10 bagian layaknya kekuatan suami istri dalam menjaga keutuhan rumah tangganya. Tamelo atau bubur kacang hijau merupakan symbol kekayaan hasil pertanian masyarakat ternate. Ikan dan terong (fofoki) yang di masak dalam empat saus berwarna kuning, merah, hitam dan putih dengan penataan terong berada sebelah kanan dan ikan berada pada pada sisi kiri. Perempuan tercipta dari tulang rusuk kiri laki-laki. Kepala ikan dan tangkai terong si letakkan menghadap kepala meja atau pengantin agar kehidupan rumah tangganya menjadi harmonis atas dasar cinta dan kasi sayang. Gulai (sapi atau kambing) menandai kekayaan laut yang melimpah seperti banyaknya keberkahan dalam rumah tangga. Boboto di buat sebanyak emapat buah karena ternate dahulu di kuasai oleh empat momole, sehingga makanan ini hanya dijamu untuk empat orang per paket makanan saro.