Tari Zapin

0
33164

Seni Tari adalah gerak indah dan berirama yang mengandung dua unsur penting: gerak dan irama. Gerak merupakan gejala primer dan juga bentuk spontan dari kehendak yang terdapat di dalam jiwa; sementara irama adalah bunyi teratur yang mengiringi gerak tersebut. Gerak tarian biasanya diinspirasikan dari pengalaman hidup sehari-hari. Satu tari tradisional Melayu yang sangat mengakar dan populer adalah Tarian Zapin.

Zapin berasal dari bahasa arab yaitu “Zafn” yang mempunyai arti pergerakan kaki cepat mengikut rentak pukulan. Sebutan zapin umumnya dijumpai di Sumatera Utara dan Riau, sedangkan di Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu menyebutnya dana. Julukan bedana terdapat di Lampung, sedangkan di Jawa umumnya menyebut zafin. Masyarakat Kalimantan cenderung memberi nama jepin, di Sulawesi disebut jippeng, dan di Maluku lebih akrab mengenal dengan nama jepen. Sementara di Nusa Tenggara dikenal dengan julukan dana-dani.

Tari Zapin merupakan salah satu jenis tarian rakyat Melayu tradisional. Tari ini merupakan satu dari beberapa jenis tarian Melayu yang masih eksis sampai sekarang. Menurut sejarah, pada mulanya tarian ini adalah sebagai tarian hiburan di istana setelah dibawa dari Hadramaut, Yaman oleh para pedagang Arab pada awal abad ke-16. Pada masa itu negeri Johor menjadi pengganti peranan Malaka sebagai sebuah entrepot antarabangsa pada kurun ke-16. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan kreasi tari Zapin yang identik dengan budaya Melayu maupun dalam hal berpantun. Seniman dan budayawannya mampu membuat seni tradisinya, tidak berhenti tapi penuh dinamika yang selalu dapat diterima dalam setiap keadaan.
Tarian tradisional ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan. Musik pengiringnya terdiri dari alat musik petik gambus, rebana, gendang, rebab alat musik tabuh gendang kecil yang disebut marwas atau marakas. Biola tidak tergolong sebagai sejenis alat muzik tarian Zapin namun terdapat anggapan salah dalam kalangan rakyat. Ini disebabkan muzik yang dihasilkan rebab mempunyai persamaan dengan gesekan biola.

Tari Zapin telah mengalami penyesuaian dari segi bentuk dan ragamnya yang ternyata lebih tradisional sifatnya. Dengan itu tarian Zapin biasanya mempunyai pecahan tersendiri menurut tempat ia ditarikan, antaranya adalah:
• Tarian Zapin Arab
• Tarian Zapin Johor
• Tarian Zapin Lenga
• Tarian Zapin Pekan
• Tarian Zapin Tenglu

Tari Zapin yang ada di Indonesia, jelas terlihat bahwa gerakannya dirangkai dari gerakan-gerakan kaki. Gerak tangan terjadi secara wajar karena pengaruh gerak badan yang diakibatkan oleh gerakan-gerakan kaki. Pendapat ini menjadi lebih jelas lagi saat menarikan dan belalar tari Zapin. Pola lantai dan langkah-langkah kaki lebih banyak dibicarakan daripada bagian gerak tubuh yang lain. Misalnya dalam gerak titi batang, loncat belanak, tegagau, selimpat empat, selimpat delapan, sut patin, gencat, tahto, tahtim, bujur, serong, Pinang kotai, alip, pusing tengah, pecah delapan, ayam patah, bunga taman, catuk, geliat mata angin, dan sebagainya. Sedangkan untuk gerak tangan memberi panduan untuk bentuk-bentuk atau motif-motif tangan, seperti: sembah, ngempu dan genggam baro, serta beberapa gerak tangan antara lain siamang bejulat, bekayuh, lenggang sebelah, tepuk dan lainnya.

Di Indonesia dikenal dua jenis zapin, yaitu Zapin Arab dan Zapin Melayu. Zapin Arab disebut juga zapin lama, tumbuh dan berkembang di dalam kelompok-kelompok masyarakat turunan Arab yang berada di berbagai tempat di Indonesia, terutama di Jawa dan Madura. Tarian ini berkembang pesat dan dapat dijumpai di Jakarta, Tegal, Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Tuban, Gresik, Kraksan, Bondowoso, Situbondo, Sumenep, dan Pamekasan. Sementara di daerah lainnya terdapat dalam kelompok-kelompok kecil dan kurang berkembang seperti di Jambi, Pontianak, Mataram, Palu, Gorontalo, Ambon, dan Ternate. Zapin Arab terbagi dalam dua jenis, yaitu: zapin hajjir & lsquo (Hajjir, sejenis gendang yang mempunyai dua muka yang ditabuh menggunakan kayu berlilit tali ramin. Fungsinya untuk mengatur tempo musik) marawis dan zapin gambus. Perbedaan kedua jenis zapin tersebut terletak pada alat yang digunakan dalam iringan musik. “Zapin hajjir marawis” menggunakan marwas, hajjir’ dan madrut (Madrut suling terbuat dari bambu yang mempunyai lima lobang dan befungsi untuk melodi) sedangkan “zapin gambus” menggunakan gambus, marwas dan biola. Zapin Melayu banyak terdapat di luar Jawa dan Madura. Tarian ini telah mengalami akulturasi dengan budaya lokal di mana tarian tersebut hidup dan berkembang. Para seniman lokalnya telah menumbuhkan dan menciptakan bentuk-bentuk baru yang dipengaruhi dan dijiwai oleh budaya melayu setempat. Dalam perkembangannya, zapin Melayu terbagi pula dalam dua jenis, yaitu: zapin Melayu “Keraton” dan zapin Melayu “Rakyat”. Zapin Melayu Keraton diperuntukkan bagi kalangan istana seperti yang terdapat di Deli, Siak, Sambas, dan Pontianak. Karena adanya kesultanan dan istana di daerah tersebut. Zapin Melayu Keraton telah mendapat aturan-aturan yang disesuaikan dengan keinginan istana. Sementara Zapin Melayu Rakyat berkembang dalam masyarakat melayu di seluruh Indonesia yang mempunyai kebebasan ungkap dalam batas sopan santun dan adat istiadat setempat. Kedua jenis tari zapin, yaitu Zapin Arab dan Zapin Melayu menjadi warisan budaya Indonesia yang memperkaya budaya bangsa dan menjadi bagian dari kekuatan kesatuan bangsa yang tak dapat saling dipisahkan satu dengan yang lainnya. (Tom Ibnur, disampaikan dalam Seminar Tari Zapin di Johor Malaysia)

Tarian Zapin mementingkan pergerakan berkumpulan dan bukannya usaha individu. Sebelum tahun 1960, zapin hanya ditarikan oleh penari laki-laki namun kini sudah biasa ditarikan oleh penari perempuan bahkan penari campuran laki-laki dengan perempuan.