Nujuh Jerami di Air Abik, Bangka

0
53
Gedoi, ketua adat, menumbuk padi sebanyak 7 kali.

Rabu, 13 April 2022 orang Mapur di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka menyelenggarakan upacara Nujuh Jerami. Mereka menyelenggarakan upacara tersebut setiap tahunnya. Hari itu bertepatan dengan tanggal 13 bulan 3 dalam perhitungan orang Mapur yang disandarkan pada kalender Cina atau penanggalan Imlek. Kalender Cina menggunakan perhitungan berdasarkan peredaran bulan (lunar).

Nujuh Jerami merupakan upacara terbesar bagi orang Mapur. Nujuh Jerami dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang diperolehnya. Dan berharap semoga hasil panen tahun depan akan berlimpah dan cukup menghidup keluarga mereka.

Dipimpin oleh tetua adat, Mang Gedoi, upacara dilaksanakan di umah memarong yang dibangun secara swadaya warga setempat pada 2019. Umah memarong tersebut dibangun kembali (rekonstruksi) dengan berdasarkan pada pengetahuan dan ingatan mereka terkait dengan rumah tradisional orang Mapur dahulu. Sekadar catatan, pada masa sekarang, rumah-rumah orang Mapur tidak beda dengan rumah orang Bangka lainnya; ada yang dibangun dengan papan-papan kayu dan banyak pula yang dibangun menjadi gedung. Listrik pun sudah masuk. Sinyal internet yang masih cukup payah di sana. Umah memarong tersebut kini menjadi simbol identitas keberadaan orang Mapur.

Prosesi Nujuh Jerami

Dengan menggunakan baju, celana, dan setar berwarna hitam Mang Gedoi memimpin upacara tersebut. Diawali dengan melakukan kemai dengan memercikkan air beras kuning yang telah ditumbuk dari mangkok batok kelapa yang dipegangnya. Mangkok tersebut ditangan kirinya, sementara tangan kanan memercikkannya air tersebut menggunakan ikatan daun kesalan ke semua penjuru di dalam umah memarong. Orang-orang yang berada di dalam rumah tersebut tidak luput terkena percikannya.

Usai melakukan kemai, Mang Gedoi turun ke bawah melalui pintu depan umah memarong dan menyiapkan lesung, alu, dan tikar pandan. Lesung dan alu tersebut merupakan alat untuk menumbuk padi supaya menjadi beras. Sebelum digunakan untuk menumbuk, lesung dan alu diletakkan di depan rumah memarong. Mang Gedoi kembali memercikkan air tepung beras kunyit ke lesung dan alu.

Di bawah lesung diberi alas daun terong asam, begitu juga di bawah lonjong yang nantinya digunakan untuk menampi padi usai ditumbuk: satu lembar daun masing-masing. Sebanyak tiga kipi (batok kelapa) padi dimasukkan ke dalam lesung. Sebelum tiga orang perempuan menumbuk padi tersebut, terlebih dahulu ketua adat yang menumbuknya sebanyak 7 kali tumbukan. 7 kali tumbukan merujuk pada nujuh (tujuh) jerami.

Ketua adat mengambil beras merah hasil tumbukan, kemudian dimasak dalam ketel kecil. Padi tersebut dimasak bersama dengan sebutir telok (telur) dan uyep (udang). Setelah masak, ketua adat mengambil satu-dua centong nasi, telur dan udang. Ketiganya dicampur menjadi satu, kemudian ketua adat tersebut membacakan doa-mantra. Dilanjutkan dengan melakukan malet (menyentuhkan campuran nasi, telur, dan udang) kepada bereje yaitu berupa alat-alat yang biasa digunakan untuk pertanian (golok, parang, sabit, kapak, dsb). dilanjutkan dengan malet batu asahan, beberapa titik hingga sekeliling dinding umah memarong itu, dan terakhir adalah lesung dan alu yang digunakan untuk menumbuk padi sebelumnya.

Malet itu dimaksudkan untuk “memberi makan” terhadap benda-benda yang biasa dalam bidang pertanian maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum beras tersebut dikonsumsi warga, benda-benda tersebut yang harus “makan”.

“Ini sebagai bentuk rasa terima kasih kepada bereje tersebut yang telah membantu mereka. Dengan diberi makan ini, benda-benda tersebut diharapkan tidak “lapar” yang dapat melukai diri kita saat bekerja. Begitu juga dengan rumah ini supaya tetap menjadi kokoh dan kuat”, Mang Gedoi menjelaskan arti dari aktivitas malet tersebut.

Sedekah Gebong

Usai upacara namu (bertamu) di rumah orang Mapur (foto koleksi Ali Usman)

Nujuh Jerami adalah ungkapan ras syukur kepada Yang Kuasa atas penjagaannya pada tanaman pertaniannya sehingga mereka dapat memanen hasilnya. Sebagai ungkapan rasa syukur tersebut orang Mapur melakukannya dengan cara senekah atau sedekah gebong (sedekah kampung) untuk sesama warga. Mereka melakukan sedekah (memberikan secara cuma-cuma) kepada siapa saja yang bertamu, meskipun tamu tersebut tidak dikenalnya. Mereka terbuka dan suka ria menyambutnya.

Sedekah gebong ini merupakan hari raya bagi orang Mapur. Setiap rumah warga menyediakan berbagai kue dalam toples-toples kaca atau plastik yang tersusun rapi di atas meja. Minuman dengan berbagai jenama pun tersedia untuk mengantarkan ke lambung: teh botol, sprite, fanta, dan sebagainya. Minuman-minuman itu dalam bentuk botol-botol besar yang berukuran antara 1-1,5 liter. Belum lagi makanan berat, berupa nasi atau ketupat dengan lauk daging atau ayam, di ruang keluarga, menambah ramai hidangan.

Yang menyelenggarakan sedekah gebong pada tanggal 13 itu adalah orang-orang Mapur di Dusun Air Abik dan Dusun Kelapa Muda. Pada Sabtu, 16 April dilaksanakan di Dusun Tengkalat, sementara sebagai pamungkasnya adalah Minggu, 17 April yang dilaksanakan oleh orang Pejam di Desa Gunung Pelawan. Mereka datang saling mengunjungi sesuai dengan tanggal perayaannya. Tanggal 13 itu orang Dusun Air Abik dan Kelapa Muda menerima kedatangan saudara dan warga dari Dusun Pejam dan Tengkalat. Begitu juga sebaliknya.

Perayaan Nujuh Jerami tahun ini berbarengan dengan umat muslim menjalankan ibadah puasa Ramadan. Perayaannya lebih sepi, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jalanan tampak lengang, begitu juga dengan kunjungan ke rumah-rumah warga.

“Mungkin nanti sore menjelang waktu berbuka puasa. Atau nanti malam, ketika sudah tidak puasa lagi”, prediksi Alfian, yang diamanatkan sebagai penghulu adat pada kepercayaan Mapur Dangkel tersebut.

Menurut Mang Gedoi, sedekah gebong ini dilakukan oleh semua orang Mapur, baik yang menganut kepercayaan Mapur Dangkel maupun yang beragama Islam maupun Kristen. Sedekah gebong merupakan perayaan syukuran yang dilakukan dengan cara bersedekah atau berbagi dengan yang lainnya (horizontal).***

Sumber:

Ali Usman. Pemajuan Kebudayaan di Tanah Mapur. https://disparbudkepora.babelprov.go.id/content/pemajuan-kebudayaan-di-tanah-mapur

Iskandar Zulkarnain. Nujuh Jerami Jaman Now. https://wowbabel.com/2021/04/23/nujuh-jerami-jaman-now

Tribun Bangka. Inilah Prosesi Ritual Adat “Nujuh Jerami” di Belinyu. https://bangka.tribunnews.com/2015/05/05/inilah-prosesi-ritual-adat-nujuh-jerami-di-belinyu


Wawancara:
Gedoi, Asi Harmoko, & Johan (orang Mapur)

(Jauhar Mubarok)