Sastra Lisan Kalimantan Barat : Dalam Sebuah Pertunjukan

0
3255

Sastra lisan memiliki keunikan tersendiri yang dimiliki setiap daerah, dan ini tidak bisa lepas dari daerah masing-masing. Oleh sebab itu harus terus dilestarikan agar tidak punah khususnya generasi muda. Demikian yang disampaikan Agus Satria S.Sos,Kepala Seksi Cagar Budaya, yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat pada acara Pagelaran Revitalisasi Sastra Lisan yang digelar di panggung indor Prodi Seni Untan, Jl. Karya Bhakti Kampus II  FKIP Untan, Senin, 24 Juni 2019.

                 Pertunjukan syair gulung
                     Pertunjukan bekana

Keinginan untuk mencegah kepunahan bahasa dan sastra daerah dengan cara merekonstruksi  apresiasi masyarakat terhadap tradisi lokal telah mendorong Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat mengadakan acara Revitalisasi Sastra Lisan Daerah Kalimantan Barat. Acara yang mengangkat tema “Sabda Garuda…Pancasila Rumah Kita…Indonesia Adalah Kita” mempersembahkan beragam bentuk sastra lisan Kalimantan Barat, meliputi manyombang, tundang, talima, bekana, syair gulung yang diselingi dengan monolog dan tari tradisi.

Tampil sebagai pembuka dalam pertunjukan sastra lisan tersebut adalah Tarian Bajonggan yang dilanjutkan dengan manyombang dan syair gulung. Sastra lisan yang berasal dari Dayak Kayan disebut dengan talima, berisi syair-syair yang dilantunkan pada saat upacara atau suasana khusus dan biasanya diiringi dengan petikan Sape’ merupakan tampilan sastra lisan selanjutnya.

                        Pertunjukan talima
                        Pertunjukan tundang

Kalimantan Barat memiliki kekayaan sastra lisan diantaranya bekana yang merupakan cerita tentang dunia kayangan yang biasanya dituturkan oleh orang tua kepada generasi yang lebih muda. Sedangkan tundang yaitu seni yang disampaikan secara lisan dalam bentuk pantun diiringi gendang dan alat musik lainnya, dan ini mampu menghibur penonton dengan lantunan syair yang sarat dengan pesan moral dan spiritual sesuai situasi dan kondisi masyarakat saat ini.

Sebagai tampilan terakhir dalam acara Revitalisasi Satra Lisan ini dipersembahkan tarian multi etnis yang menggambarkan kehidupan 3 etnis yang ada di Kalimantan Barat yaitu Melayu, Dayak, dan Cina.