You are currently viewing Batatamba : Prosesi Pengobatan Tradisional di Kalimantan Selatan
Mahasiswa Fakultas Isipol Untan Jurusan Antropologi Sosial menonton Film Batatamba di bioskop mini BPNB Kalbar pada Kamis (6/12/2018)

Batatamba : Prosesi Pengobatan Tradisional di Kalimantan Selatan

Sebagai salah satu institusi pemerintah di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat menyediakan beberapa fasilitas yang dapat dinikmati oleh masyarakat diantaranya bioskop mini yang berkapasitas sekitar  60 orang.

Mahasiswa Fakultas Isipol Untan Program Studi Antropologi Sosial mengunjungi bioskop mini BPNB Kalbar

Sehubungan dengan hal tersebut  itu, pada kamis tanggal 6 Desember 2018, BPNB Kalbar mendapat kunjungan dari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Antropologi Sosial Universitas Tanjungpura Pontianak berjumlah 42 orang. Kunjungan ini langsung diterima oleh peneliti budaya BPNB Kalimantan Barat yang diberi mandat oleh pimpinan untuk mendampingi yaitu Benedikta Juliatri Widi Wulandari, Sisva Maryadi dan Septi Dhanik Prastiwi.

Peneliti BPNB Kalbar memberikan informasi mengenai hal-hal yang harus dipersiapkan dalam melakukan penelitian

BPNB Kalimantan Barat merupakan salah satu dari 3 tempat yang mereka kunjungi. Tujuan dari kunjungan mereka ke tempat-tempat itu adalah untuk memperkenalkan dan memperkaya sumber belajar kepada mahasiswa. Kunjungan seperti  ini merupakan program kampus mereka. Kunjungan mereka di BPNB Kalimantan Barat, disuguhi dengan pemutaran film dokumenter yang berjudul Batatamba.

Peneliti BPNB berbagi pengalaman dalam melakukan penelitian

Batatamba merupakan prosesi pengobatan secara tradisional dalam kehidupan masyarakat di Kalimantan Selatan. Dalam pengobatan ini ada 3 cara yang dapat dilakukan yaitu secara agamis, tradisional dan perpaduan antara agamis dan tradisional. Sebelum memulai pengobatan, petatamba terlebih dahulu membaca mantera sambil memanggil para roh. Setelah itu dibungkus dengan tikar pandan, kemudian kain panjang dan terakhir adalah kain putih. Setelah beberapa lama si petatamba akan keluar dari bungkusannya dan jiwanya telah dimasuki roh pengobat. Selesai pengobatan, roh dipulangkan dan si petatamba kembali normal. Kemudian acara dilanjutkan dengan makan bersama.

Salah seorang mahasiswa memberikan kesan dan pesannya berkaitan mengenai film batatamba

Film yang berdurasi sekitar 30 menit ini mampu membawa perasaan terharu  dari beberapa mahasiswa yang hadir. Ini dikarenakan menurut salah satu mahasiswa yang menonton,  pada zaman sekarang sudah tidak ada lagi dapat ditemui pengobatan yang dilakukan secara tradisional.

Selesai pemutaran film batatamba, dilanjutkan dengan acara disikusi dengan  peneliti yang hadir guna  berbagi pengalaman selama turun ke lapangan dalam melakukan penelitian,  yang dilanjutkan dengan tanya jawab, dan saling memberikan informasi baik itu mengenai isi yang terkandung dari film dokumenter yang telah diputar maupun hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan dipersiapkan seorang peneliti yang akan dan sedang  berada di lapangan dalam melakukan penelitian.

Foto bersama di bioskop mini BPNB Kalbar

Di akhir kunjungan, rombongan mahasiswa yang didampingi oleh 2 dosen pembimbing yaitu Galuh Bayuardi dan Ignasia Debbye Batuallo memberikan sebuah cinderamata berupa piagam yang langsung diterima oleh peneliti budaya BPNB Kalbar dan foto bersama di bioskop mini BPNB Kalimantan Barat.

 

Sumber buku :  Batatamba Pengobatan Tradisional di Kalimantan Selatan oleh Sisva Maryadi