Sistem Teknologi Pembuatan Perahu di Kepulauan Seribu

You are currently viewing Sistem Teknologi Pembuatan Perahu di Kepulauan Seribu

Sistem Teknologi Pembuatan Perahu di Kepulauan Seribu

Oleh:
Yuzar Purnama

 

Sumber: Dokumentasi BPNB Jabar, 2019

Indonesia merupakan salah satu negara terluas di dunia dengan luas wilyah 5.193.250 km² (mencakup daratan dan lautan). Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara terluas ke-7 didunia setelah Rusia, Kanada, Amerika Serikat, China, Brasil, dan Australia. Jika dibandingkan dengan luas negara-negara di Asia, Indonesia berada diperingkat ke-2 setelah China. Jika dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia menempatkan dirinya sebagai negara terluas di Asia Tenggara. Indonesia pun menempatkan dirinya sebagai negara kepulauan terluas didunia. Sebagai negara kepulauan, maka wilayah Indonesia terdiri atas daratan dan lautan. Satu pertiga luas Indonesia adalah daratan dan dua pertiga luas Indonesia adalah lautan. Luas daratan Indonesia mencapai 1.919.440 km² yang menempatkan Indonesia sebagai negara ke-15 terluas di dunia. Dengan demikian tepatlah jika Indonesia disebut Nusantara, karena Indonesia terdiri atas pulau-pulau yang berjumlah 17.508 pulau. Nusantara sendiri memiliki arti kepulauan yang terpisah oleh laut atau bangsa-bangsa yang terpisah oleh laut. Pesisir Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil dari Samudera Indonesia hingga Samudera Pasifik dan memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan panjang 99.093 kilometer. Menjadikan Indonesia memiliki lautan yang luas sekitar 3.273.810 km².
Pada tahun 1970-an sering mendengar syair anak-anak:

Nenek moyangku orang pelaut,
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut,
menempuh badai sudah biasa.
Angin bertiup layar terkembang,
ombak berdebur di tepi pantai,
pemuda b’rani bangkit sekarang,
ke laut kita beramai-ramai.

Kemudian grup band legendaris Koes Plus melantunkan lagu:

Bukan lautan hanya kolam susu,
kail dan jala cukup menghidupimu,
tiada badai tiada topan kutemui,
ikan dan udang menghampiri dirimu.

Sumber: Dokumentasi BPNB Jabar, 2019

Syair-syair tersebut menggambarkan bahwa Negara Republik Indonesia atau NKRI ini selain sebagai negara agraris juga negara maritim. Karena mata pencaharian penduduknya dari dulu sampai sekarang masih ada yang menjadi petani dan nelayan. Khasanah flora dan fauna di lautan cukup melimpah untuk menghidupi masyarakat yang menggantungkan diri dari laut.
Gaung Indonesia sebagai negara maritim baru belakang ini disebut-sebut. Padahal kenyataannya Indonesia sejak dahulu merupakan negara maritim. Dalam sejarah diperlihatkan bagaimana kerajaan Sriwijaya di Palembang yang menguasai lautan dan berlayar ke pulau Jawa, begitu pula kerajaan Majapahit dengan Maha Patihnya bernama Gajah Mada dengan sumpah Palapanya berhasil menyatukan kepulauan Indonesia saat ini ditambah Malaysia dan Singapura. Tentunya semua ini membutuhkan armada lautan untuk mengangkut logistik, senjata, dan para prajurit. Dan kekuatan lautan di wilayah Nusantara sejak dahulu sudah relatif kuat.
Negara maritim selain memiliki armada laut dan nelayan tentunya memiliki peralatan yang berkaitan dengan angkutan laut seperti perahu. Angkutan laut yang ada saat ini dapat dipastikan ada yang masih tradisional dan ada yang sudah modern. Angkutan laut modern selain menggunakan peralatan canggih juga bahannya tidak menggunakan kayu lagi melainkan fiber dan logam. Namun keberadaan perahu-perahu tradisional membuktikan sampai saat ini sebagian besar masih digunakan oleh para nelayan di Indonesia. Mereka masih menggunakan perahu tradisional yang terbuat dari kayu dan digerakkan menggunakan mesin diesel atau dayung untuk kegiatan menangkap ikan dan transportasi air.
Berdasarkan hal tersebut, perahu yang merupakan salah satu objek kemaritiman menjadi tema utama dalam kajian berjudul “Sistem Teknologi Pembuatan Perahu di Kepulauan Seribu”. Lokasi kajian yang berada di wilayah Kepulauan Seribu dilatarbelakangi oleh kehidupan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Seribu yang sebagian besar menggantungkan diri pada perahu sebagai sarana utama dalam menunjang berbagai aktivitas kehidupan mereka.

Sumber: Dokumentasi BPNB Jabar, 2019

Teknologi adalah bagian dari kebudayaan yang berfungsi meringankan kehidupan manusia dan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas kehidupan sehari-hari. Teknologi sederhana mencerminkan pola kebudayaan dan cara hidup yang sederhana pula. Sebaliknya, teknologi modern mencerminkan cara hidup yang relatif maju (Hermana, 2006: 26). Teknologi merupakan hasil karya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik lahir maupun batin (Ibid, 2006:86). Sedangkan tradisi dalam kamus istilah antropologi (1984:2) diartikan sebagai adat istiadat (custom), yaitu kompleks konsep serta aturan yang mantap dan teringritas kuat dalam sistem budaya dari suatu kebudayaan yang menata tindakan manusia dalam kehidupan sosial kebudayaan itu (dalam Rusnandar, 2006:132) .
Dalam Undang-undang Pemajuan Kebudayaan disebutkan bahwa teknologi tradisional adalah keseluruhan sarana untuk menyiapkan barang atau cara yang dibutuhkan bagi kelangsungan kehidupan manusia dalam bentuk produk, kemahiran, dan keterampilan .
Pesatnya modernisasi di era milenial tentunya akan merambah ke berbagai sektor kehidupan termasuk kedalam teknologi pembuatan perahu. Terlihat dari banyaknya perahu-perahu yang sudah tidak menggunakan kayu lagi sebagai bahan dasarnya. Saat ini, banyak perahu yang terbuat dari fiber, plastik, logam, dan lain-lain. Perahu-perahu tersebut selain lebih canggih juga memiliki multi fungsi bisa untuk angkutan masal, mencari ikan, rekreasi, dan lain keperluan, sementara perahu milik para nelayan hanya dapat digunakan untuk menangkap ikan dan alat transfortasi itupun memiliki keterbatasan baik jumlah penumpang maupun jarak tempuh. Perahu nelayan tidak dapat digunakan menangkap ikan ke tengah lautan atau jauh dari pesisir pantai karena dapat membahayakan nelayan. Begitu pun perahu tradisional untuk angkutan massal hanya digunakan untuk jumlah terbatas dan jarak tempuh yang terbatas juga. Namun keberadaan perahu tradisional yang terbuat dari kayu sampai kini masih tetap digunakan, karena harga yang relatif ekonomis. Oleh karena itu, keberadaan bengkel-bengkel pembuatan perahu tradisional sampai kini masih ada meskipun tidak sebanyak dan selengkap seperti dahulu karena harus bersaing dengan jenis-jenis perahu modern. Beberapa hal yang menarik untuk dikaji perihal pembuatan perahu tradisional di Kepulauan Seribu ini berkisar pada teknik pembuatan, perolehan bahan dasar, peralatan yang digunakan, sistem permodalan, sistem pembagian kerja, ritual yang ada dan dilakukan selama masa pembuatan perahu tradisional, dan peranan pemerintah dalam melestarikan perahu tradisional di Kepulauan Seribu.
Metode yang digunakan dalam kajian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi pustaka.
Hasil kajian “sistem teknologi perahu tradisional di Kepulauan Seribu” diharapkan dapat menjadi salah satu bahan kebijakan pemerintah daerah Provinsi DKI Jakarta terkait program pelestarian sistem teknologi tradisional pembuatan perahu di Kepulauan Seribu yang memang hingga saat ini masih banyak memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat baik di bidang perekonomian maupun transportasi air. (ed. Irvan Setiawan)

Sumber:
Yuzar Purnama, dkk. 2019. “Sistem Pembuatan Perahu di Kepulauan Seribu”,
Proposal Pengkajian Pelestarian Nilai Budaya, Bandung: BPNB Jabar.