You are currently viewing Pewarisan Tradisi Berpantun pada Masyarakat Betawi

Pewarisan Tradisi Berpantun pada Masyarakat Betawi

Pewarisan Tradisi Berpantun pada Masyarakat Betawi

Oleh:
Ria Andayani Somantri
(BPNB Jabar)

Masyarakat Betawi, dikenal sebagai salah satu kelompok masyarakat penutur pantun. Budaya berpantun pada masyarakat Betawi, dikabarkan dahulu masuk merata ke seluruh stratifikasi sosial, dari golongan alim ulama, nelayan, orang berpendidikan, orang biasa, bahkan di kalangan anak-anak dan remaja. Yang kerap menjadi bahan pertanyaan adalah tentang keberlangsungan tradisi berpantun pada saat ini pada Masyarakat Betawi. Apakah tradisi tersebut saat ini masih ada?

Jawaban dari permasalahan tersebut, salah satunya dapat diketahui melalui satu kajian tentang pewarisan tradisi berpantun pada masyarakat Betawi di kawasan Rawabelong, Kelurahan Sukabumi utara, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Hasil dari kajian tersebut diperoleh gambaran bahwa pewarisan tradisi berpantun atau mantun masih berlangsung dalam keluarga dan masyarakat. Meskipun demikian, proses tersebut hanya berlangsung dalam kesempatan dan kalangan yang sangat terbatas. Oleh karena itu, tradisi berpantun pada masyarakat Betawi hidup dan berkembang di kalangan tertentu dengan fungsi yang sangat terbatas.

Di lingkungan keluarga pada umumnya, pewarisan tradisi berpantun sudah semakin hilang dalam kehidupan sehari-hari. Yang tersisa hanya pada saat pihak keluarga melaksanakan upacara daur hidup, seperti upacara perkawinan yang senantiasa ada tradisi berpantun di dalamnya. Dengan demikian, pewarisan tradisi berpantun di dalam keluarga pada umumnya hanya sebatas pengenalan. Pewarisan tradisi berpantun yang lebih intensif berlangsung di dalam keluarga dengan latar belakang aktivitas orang tua yang berhubungan erat dengan budaya Betawi, seperti seniman, pesilat, dan budayawan. Proses tersebut berlangsung dalam kehidupan mereka sehari-hari, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pewarisan secara tidak langsung terjadi dalam pergaulan antaranggota keluarga; dan pewarisan secara langsung tampak melalui keterlibatan anak-anak dalam aktivitas orang tuanya ketika menggeluti budaya Betawi, seperti di sanggar seni atau di padepokan silat.

Pewarisan tradisi berpantun di lingkungan masyarakat berlangsung dalam sejumlah kesempatan, baik yang .berlangsung dalam sanggar maupun melalui peran perseorangan. Ketika seseorang, khususnya anak-anak menjadi anggota sanggar/ padepokan, mereka sudah terbiasa mendengar anggota lama berpantun. Mereka berpantun tidak hanya pada saat berlatih upacara palang pintu dan berkesenian lenong, melainkan juga dalam berbagai kesempatan bersantai dan berkumpul bersama para seniman. Mata mereka juga sudah terbiasa melihat bait demi bait pantun yang ditulis pada banner, kertas, stereoform, dan spanduk yang dipasang di dinding sanggar atau di tempat pertunjukan yang mengundang mereka. Bahkan, ada sanggar/ padepokan yang membuat misi dan visi sanggar/padepokannya dengan menggunakan pantun yang ditulis dalam sebuah spanduk.

Setu Babakan, salah satu tempat ekspresi budaya masyarakat Betawi.
Sumber Foto: Dokumentasi BPNB Jabar

Anak-anak sanggar/padepokan juga mengikuti latihan dasar beragam kesenian yang ada di sanggar/padepokannya sesuai dengan minatnya masing-masing, dari menari, bermain silat, menyanyi, hingga bermain musik. Setelah menguasai latihan-latihan dasar seperti itu, ada saatnya anak-anak juga diberi hapalan tentang pantun-pantun yang akan dipakai dalam upacara palang pintu atau kesenian lenong untuk satu skenario. Mereka biasanya menghapal dan berlatih pantun sambil bermain dengan sesama anggota sanggar. Dengan cara seperti itu, pantun lebih cepat dihapalkan karena dapat saling mengingatkan jika terjadi kesalahan. Begitulah seterusnya sampai akhirnya mereka mahir berpantun dan mendapat kesempatan untuk ambil bagian dalam pertunjukan upacara palang pintu atau bermain lenong.

Pewarisan tradisi berpantun di lingkungan masyarakat juga sangat memungkinkan dilakukan oleh perseorangan. Tentu saja tidak sembarang orang dapat melakukan hal seperti itu. Mereka yang dipandang punya andil dalam mewariskan tradisi berpantun di antaranya tokoh masyarakat, ulama, dan pembawa acara yang memahami budaya Betawi, termasuk di dalamnya dapat berpantun.

Seorang pembawa acara yang menguasai budaya Betawi, termasuk di dalamnya pandai berpantun, memiliki kesempatan untuk mewariskan tradisi berpantun kepada khalayak umum. Tentu saja proses pewarisan tersebut dalam skala yang sangat terbatas, hanya untuk mengenalkan kepada generasi muda atau mengingatkan kepada generasi tua tentang pantun sebagai kekayaan budaya masyarakat Betawi agar jangan diabaikan atau bahkan ditinggalkan.

Kecenderungan yang sama juga terjadi pada penceramah dalam berbagai acara keagamaan, misalnya pengajian, Mauludan, Isra Miraj, dan Muharaman. Sepertinya kurang afdol kalau tidak disisipi dengan pantun, baik di awal sebagai sambutan, di tengah sebagai hiburan agar tidak ngantuk, atau di akhir sebagai penutup. Tetap saja kebiasaan seperti itu memiliki kontribusi dalam pewarisan tradisi berrpantun kepada generasi berikutnya, meskipun hanya sebatas pengenalan.

Yahya Andi Saputra, salah seorang tokoh Betawi.
Sumber Foto: Dokumentasi BPNB Jabar

Sedikit berbeda dengan yang dilakukan oleh tokoh masyarakat. Yang dipandang tokoh pada masyarakat Betawi biasanya orang tua yang menguasai adat istiadat Betawi. Seorang tokoh masyarakat biasanya menjadi panutan masyarakat, suaranya didengarkan masyarakat, dan senantiasa dimintai pendapatnya oleh masyarakat. Ada kalanya tokoh masyarakat juga aktif dalam organisasi-organisasi berbasis kebudayaan Betawi, seperti Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan Forum Komunikasi Anak Betawi (forkabi).

Dalam bidang kebudayaan, tokoh masyarakat bisa berasal dari kalangan seniman, sesepuh padepokan silat, atau seorang budayawan. Mereka yang disebutkan tadi memiliki komitmen yang tinggi terhadap upaya melestarikan dan mengembangkan budaya Betawi, termasuk dalam hal pewarisan tradisi berpantun. Mereka tidak hanya secara langsung berpantun dalam berbagai kesempatan, misalnya ketika diundang rapat di RW; ketika diminta memberi sambutan dalam berbagai acara kemasyarakatan; atau ketika berkumpul bersama warga masyarakat lainnya dalam acara gotong-royong. Mereka juga berpikir keras untuk mencari ide dan cara agar perlahan namun pasti tradisi berpantun dapat lestari dalam kehidupan masyarakat Betawi.

Leave a Reply