Mengenal Batik Lokatmala Sukabumi

0
3074

Mengenal Batik Lokatmala Sukabumi
Oleh :
Suwardi Alamsyah P.
(Balai Arkeologi Provinsi Jawa Barat)

Dalam naskah Siksa Kanda ng Karesian yang berasal dari awal abad ke-16, disebut beberapa macam corak lukisan (tulis), yaitu pupunjengan, hihinggulan, kekembangan alas-alasan, urang-urangan, memetahan, sisirangan, taruk hata, kembang tarate dan disebut juga beberapa macam kain (boeh), antara lain kembang mu(n)cang, gagang senggang, anyam cayut, poleng re(ng)ganis, cecempaan, mangin haris, surat awi, parigi nyengsoh, dan hujan riris Hal tersebut menunjukkan bahwa pada masa naskah itu ditulis, orang Sunda telah mengenal berbagai corak kain (samping) dan batik, walaupun tak ada peninggalan dari zaman tersebut (Kerajaan Sunda). (Ensiklopedi Sunda, 2000:107).
Pada abad ke-20, kegiatan membatik berkembang di beberapa daerah, seperti di Cirebon (Trusmi), Indramayu (Paoman), Ciamis, Tasikmalaya, Garut, yang masing-masing tempat mempunyai corak atau motif tersendiri yang khas sehingga memunculkan sebutan yang khas pula. Begitu halnya dengan “Batik Lokatmala” Sukabumi. Dalam perkembangannya corak batik Sukabumi ini dilatarbelakangi kehidupan masyarakat dan lingkungan alam sekitar. Oleh karena itu, setiap goresan motif batik ternyata memiliki maknanya tersendiri.

1. Motif Batik Sukabumi Masagi
Motif batik ini terinspirasi oleh ungkapan yang ada pada masyarakat Sukabumi memiliki makna dan nilai filosofis berbunyi “hirup mah kudu masagi”. “Masagi” berasal dari kata “pasagi” artinya segi empat sama sisi yang mengisyaratkan bahwa manusia memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu pengetahuan yang seimbang antara kehidupan dunia dan kehidupan nanti setelah kematian, di samping menjadi teladan dan berguna bagi masyarakat di sekitarnya.

2. Motif Batik Candramawat
Batik Candramawat, terinspirasi dari cerita atau dongeng Sunda “Nini Anteh”, ialah cerita yang mengisahkan seorang nenek sedang menenun ditemani seekor kucing bernama Candramawat. di atas sana. Anteh berasal dari kata kanteh atau benang, sedangkan nama kucing Candramawat berasal dari dua kata candra dan mawat. Candra berarti bulan dan mawat berarti berguna atau bermanfaat. Makna yang terkandung dari motif batik ini, mengisyaratkan kita manusia untuk selalu berusaha dan berikhtiar selama hayat di kandung badan dengan harapan agar apa yang kita peroleh berguna dan bermanfaat bagi yang lain.

3. Motif Batik Leungli
Motif batik Leungli ini terinspirasi dari cerita atau dongeng Sunda “si Leungli” yang mengisahkan persahabatan gadis bungsu yang malang dengan ikan mas ajaib bernama Leungli. Si gadis bungsu tersebut selalu mendapat perlakuan buruk dari kakak-kakak tiri perempuannya. Persahabatan keduanya terjalin ketika si gadis pergi ke sebuah tepi sungai saat meratapi derita dirinya akibat perlakuan kakak-kakaknya tersebut. Pada saat itu muncul seekor ikan mas yang juga bersisik mas berbisik dan berbicara kepada si Leungli untuk menghiburnya. Makna yang tersirat dari cerita dimaksud mengisyaratkan kepada kita bahwa suatu kebaikan, kerendahan hati pada akhirnya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan apa yang kita perbuat, walaupun harus melewati rintangan dan halangan, begitu juga sebaliknya.

4. Motif Batik si Leungli di Gunung Parang
Motif batik ini terinspirasi dari cerita atau legenda yang ada di sekitar Sukabumi, yakni sebuah gunung menyerupai alat pertanian berupa parang yang kemudian distilasi menjadi huruf “S” dan kendi sebuah wadah tempat menyimpan air dijadikan monument Kota Sukabumi terletak di tengah alun-alun Kota Sukabumi. Makna yang tersirat dari motif batik dimaksud mengisyaratkan bahwa seiring perjalanan waktu kiranya kita perlu mengevaluasi segala hal yang pernah kita lakukan dan tentunya menuju ke arah yang lebih baik lagi. Kemudian “kendi”, wadah menyimpan air terbuat dari tanah mengisyaratkan warga masyarakat Kota Sukabumi untuk selalu menjaga air sebagai sumber kehidupan.

5. Motif Batik Gurilaps
Motif batik “gurilaps” merupakan akronim dari gunung, rimba, laut, pantai, dan sungai. Potensi alam dimaksud dimiliki Kota Sukabumi, seperti gunung dan rimba berada di daerah Situgunung, dan Halimun; pantai berada di Pelabuhan Ratu dan Cibuaya; dan sungai diwakili oleh Sungai Citarik. Pengambilan potensi alam menjadi motif batik dimaksud memiliki makna yang mengisyaratkan kita manusia harus memiliki pendirian yang kuat dan kokoh, dijalani seperti air mengalir, dan riak gelombang kehidupan silih berganti. Namun demikian kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa bahwa semua yang terjadi semata atas kehendak-Nya.

6. Motif Batik Julang
Motif batik julang terinspirasi dari nama burung julang. Burung ini merupakan jenis burung pemakan buah-buahan, kepiting, kodok, yang memiliki habitat di hutan dataran rendah, perbukitan, tersebar sampai ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Kebiasan burung ini apabila sudah mengepak sayap pantang untuk kembali apabila yang diinginkannya belum tercapai. Penamaan motif batik julang memiliki makna yang mengisyaratkan manusia memiliki semangat, pantang menyerah dalam mencari ilmu pengetahuan sesuai dengan yang diinginkan.

7. Motif Batik Garuda Ngupuk
Motif batk Garuda Ngupuk terinspirasi dari cara bagaimana burung garuda bersarang. Motif tersebut juga terinspirasi dari konsep pola pengembangan tata ruang pembangunan pusat pemerintahan. Hal dimaksud sesuai dengan konsep bahwa kondisi lahan yang baik untuk pusat pemerintahan yang diinginkan “Garuda ngupuk, bahe ngaler-ngetan, deukeut pangguyangan badak putih”. Makna ungkapan itu adalah letak dan kondisi lahan untuk ibukota harus baik dari berbagai segi, serta dekat dengan sumber air.
Filosofi batik Garuda Ngupuk adalah setiap manusia harus memiliki sumber-sumber kehidupan. Sumbernya itu adalah luas ilmu pengetahuan, karena ilmu adalah fondasi dari setiap kehidupan seseorang, harus dinamis di setiap kondisi dan mempunyai hati yang kuat menerima apapun yang akan dihadapi.

8. Motif Batik Penyu
Motif batik penyu terinspirasi dari Pusat Konservasi Penyu yang berada di Desa Pangumbahan Kecamatan Ciracap Kabupaten Sukabumi. Motif batik ini melambangkan akan kesederhanaan dan kerendahan hati dengan menjalani hidup selaras dengan aliran alam semesta.

9. Motif Batik Ciwangi
Motif batik rereng Ciwangi terinspirasi dari cerita yang mengisahkan seorang wanita bernama Nyimas Ciwwangi yang mampu mengalahkan raksasa yang bertujuan merusak alam dengan menggunakan lembaran daun suji berwarna hijau. Raksasa kemudian kalah akibat tergulung kain suji, Karena ketakutan, sang raksasa berlari dan tercebur ke dalam kolam air panas hingga tubuhnya melepuh menyatu dengan air. Alkisah, beberapa minggu setelah kejadian itu, hutan, gunung dan pepohonan tumbuh asri sediakala.
Adapun Filosofi batik Rereng Ciwangi adalah motif yang mengandung nasihat atau peringatan yaitu siapapun yang bernafsu melakukan perusakan terhadap alam, tidak lain mereka hanyalah sesosok raksasa jahat yang pada akhirnya akan menerima akibatnya sendiri.

10. Motif Batik Elang Jawa Situgunung
Motif batik Elang Jawa ini terinspirasi dari burung elang Jawa yang gagah perkasa dan menjadi raja di udara, dengan harapan motif batik ini menjadi industri batik yang dikenal lebih luas. Elang Jawa merupakan spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa khususnya di kawasan Gunung Gede Pangrango. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Sejak tahun 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia.
Filosofi motif elang Jawa Situgununung mengisyaratkan kita mampu melakukan sesuatu keputusan yang sangat berat untuk memulai proses perubahan. Artinya mampu meninggalkan kebiasaan lama yang tidak baik, walaupun hal tersebut menyenangkan, dengan maksud menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan.

11. Motif Batik Buah Pala dan Wijayakusumah
Motif batik Biji Pala dan Wijaya Kusumah terinspirasi dari latar sejarah bahwa pada zaman itu harga biji pala dan fuli pala bisa lebih mahal dibanding harga logam mulia seperti emas sehingga biji pala dan fuli pala menjadi komuditas yang mempunyai nilai tinggi saat itu. Lebih lanjut kata “Pahlawan” (bahasa Sansakerta), berasal dari kata “Phala” dan “wan” mengandung arti orang yang dari dirinya menghasilkan buah “phala” berkualitas bagi bangsa, Negara, dan agama disertai keberanian dan pengorbanan. Sedangkan Wijayakusumah melambangkan penerang dalam kegelapan, keteladanan, dan kejujuran. Filosofi motif batik dimaksud mengisyaratkan manusia agar selalu menjadi orang yang berharga dan menjadi penerang, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain.

12. Motif Batik Cai
Motif batik “cai” air terinspirasi akan kebutuhan air bagi kehidupan manusia. Karena pentingnya akan kebutuhan air bagi manusia pada umumnya dan pada khususnya masyarakat Sukabumi, toponimi dan penamaan tempat pun menggunakan awalan “Tji” atau “Ci” berasal dari kata “cai”. Hal tersebut terungkap dari ungkapan masyarakat Sukabumi bahwa “Sakali nginum cai Sukabumi pasti bakal balik deui ka Sukabumi” yang menggambarkan konsep, harapan, cita-cita, dan doa mengalir seperti air.
Filosofi motif batik cai ini, mengisyaratkan bahwa dalam kehidupan tentunya harus memiliki kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu dengan ulet dan mampu menyelesaikannya dengan baik. Hal tersebut tercermin dari ungkapan “Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”.

Daftar Bacaan
Ajip Rosidi (Pemred). 2000. Ensiklopedi Sunda, Alam, Manusia, dan Budaya termasuk Budaya Cirebon dan Betawi. Jakarta. Pustaka Jaya.
https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/746/jbptunikompp-gdl-bachtiarra-37283-7-unikom_b-i.pdf
https://correcto.id/beranda/read/29520/kisah-nyimas-ciwangi-jadi-filosopi-batik-rereng-ciwangi-mengandung-nasihat-soal-pelestarian-alam
http://eprints.uny.ac.id/29245/1/PDF%20LAPORAN%20FULL.pdf