Ibarat Lentera, Pustakawan adalah Cahaya Motivasiku

0
350

oleh : Wildan Nirmala
(Pustakawan pada Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat)

Prolog
LENTERA, teringat masa kecil dulu ketika hidup di kampung halaman yang daerahnya pada saat itu belum masuk aliran listrik, sehingga salah satu alat penerangan di malam hari adalah selain lampu patromak, lampu cempor (Lampu Cempor – Bahasa Sunda) atau dalam bahasa Indonesia adalah Lampu tempel, lampu ini biasanya ditutup sebuah kaca supaya asapnya dapat keluar, ada satu lagi lampu yang sangat eksotik dan unik yaitu lentera. Lampu-lampu ini tentu saja sangat berguna pada jamannya, walau cahayanya redup tapi lentera ini dapat bermanfaat untuk menerangi memberi cahaya dilingkungan sekitarnya, walaupun jangkauannya tidak begitu luas tetapi manfaatnya cukup besar saat dalam kegelapan.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Lentera adalah lampu kecil bertutup kaca. Lentera barang langka yang sangat unik sehingga pada saat ini biasa digunakan untuk tambahan dalam sebuah dekor pada acara-acara diwaktu malam hari yang bernuansa eksotik dan unik. Lentera juga dapat dimanfaatkan sebagai sinyal ataupun obor. Pengertian sinyal disini adalah dimana lentera dapat berguna bagi kita ketika berjalan di dalam kegelapan malam, atau sebagai sinyal bagi kaum tuna netra pada saat berjalan dimalam hari, walaupun tidak dapat menerangi kaum tuna netra pada saat berjalan tetapi setidaknya lentera ini merupakan sinyal bagi pejalan kaki atau kendaraan yang melewatinya. Ibarat Pustakawan, yang profesinya belum banyak diketahui orang banyak, padahal profesi pustakawan cukup prestise jika dipandang dari sisi keilmuannya, pustakawan tentu dalam melaksanakan tugasnya mampu mewujudkan suatu hasil kerja yang optimal dan mampu membawa dampak positif bagi kemajuan perpustakaannya. Untuk mewujudkan tujuan perpustakaan tersebut, pustakawan harus memiliki kompetensi yang baik dan memiliki dedikasi serta disiplin yang tinggi sehingga benar-benar menyadari pentingnya tugas pokok bagi kelangsungan perkembangan perpustakaan. Tetapi masih banyak orang yang belum paham akan tugas dan fungsi seorang pustakawan. Bahkan mungkin seorang pustakawan hanya dianggap sebagai penunggu sebuah perpustakaan yang pekerjaannya hanya menanti pengunjung yang datang ke perpustakaan, anggapan ini tentu saja salah karena jika ingin menjadi seorang pustakawan tentu saja dibutuhkan suatu syarat yang telah diungkapkan tadi diatas adalah memiliki kompetensi di bidang kepustakawanan dan ilmu perpustakaan. Pendidikan formal atau pembelajaran juga merupakan elemen penting dalam perbaikan dan keberhasilan sebagai salah satu tugas yang diemban yakni menjadi seorang pustakawan. Menurut penulis profesi pustakawan sangatlah eksotik dan unik, ibarat lentera cahayanya redup tetapi dapat memberikan penerangan pada lingkungan sekitanya. Seperti pustakawan walau profesi ini belum cukup dikenal oleh masyarakat luas, itu tidak menjadikan alasan untuk ciut hati atau merasa minder, justru sebagai pejuang literasi kita harus bangga dengan profesi pustakawan. Profesi Pustakawan dianggap unik karena profesinya belum banyak diketahui oleh orang banyak. Sedangkan pustakawan itu eksotik/ indah karena pustakawan adalah cerdas , pustakawan adalah motivasi, pustakawan adalah inovatif, pustakawan adalah inspiratif, pustakawan adalah inisiatif sehingga pustakawan diibaratkan seperti lentera walau cahayanya kecil tetapi dapat menyinari dalam kegelapan, walaupun pustakawan kurang dikenal banyak orang ,tetapi tugas dan fungsi pustakawan mampu meningkatkan kwalitas baik pelayanan maupun pengelolaan di perpustakaan. Selain itu, Pustakawan dapat mengemas informasi dalam bentuk lain, pustakawan bisa memberikan rujukan yang dapat membimbing pemustakanya, pustakawan juga dapat memberikan literasi informasi dalam membantu melakukan penelusuran kepada pemustaka (Searching) sesuai dengan kebutuhan lembaga/institusi yang menaunginya. Inilah yang menjadi motivasi/semangat penulis dalam memperjuangkan profesi pustakawan selama bertahun-tahun menjadi harapan dan impian dalam menyongsong masa depan dengan mengemban profesi sebagai pustakawan.

Lentera Ibarat Motivasi Diri
Kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan motivasi sebagai “usaha-usaha yang dapat menyebabkab seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Sedangkan menurut Stephen P. Robbins, Motivasi adalah “proses yang ikut menentukan intensitas, arah dan ketekunan individudalam usaha mencapai sasaran”.
Tiga kata kunci dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan (yang mengandaikan berlangsung lama).Intensitas dimaksudkan seberapa keras seseorang berusaha, agar dapat menghasilkan kinerja yang baik, intensitas (setinggi apapun) harus mempunyai arah yang menguntungkan organisasi. Dan akhirnya intensitas dan arah yang telah dimiliki harus diterapkan secara tekun dan berlansung lama.
Inilah ukuran sejauh mana orang dapat mempertahankan usahanya. Individu yang termotivasi akan tetap bertahan dengan pekerjaanya dalam waktu cukup lama untuk mencapai sasaran mereka. Sebaliknya, seseorang yang tidak termotivasi hanya akan memberikan upaya minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi kiranya merupakan sebuah konsep penting dalam studi kinerja individu di organisasi. Dengan kata lain, motivasi merupakan salah satu determinan lain misalnya kemampuan orang bersangkutan dan atau pengalaman kerja sebelumnya.
Lentera adalah perangkat pencahayaan yang portable yang berfungsi untuk penerangan atau sumber cahaya.Istilah lentera juga digunakan lebih umum yang berarti sumber cahaya atau wadah untuk sumber cahaya (lampu kecil) dengan tertutup kaca.Selain untuk penerangan, lentera juga dapat digunakan untuk sinyal, obor, atau sebagai dekorasi (Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas).
Kekuatan cahaya Lentera yang terus menyala ibaratnya motivasi yang tumbuh dalam diri kita, cahaya lentera memang tidak seterang lampu-lampu neon atau lampu-lampu yang bergemerlapan di gedung-gedung mewah atau hotel-hotel berbintang.Walau cahayanya redup tetapi lentera dapat memberikan manfaat cahaya bagi orang yang membutuhkannya.Seperti lentera apabila sinarnya mulai redup karena kehabisan minyak tanah sebagai bahan bakarnya, maka ketika kita isi kembali bahan bakarnya tentu saja cahayanya akan kembali terang. Ibarat pustakawan, ketika keberadaanya tidak dipandang penting, maka sebagai pustakwan bergeraklah menjadi pustakawan yang selalu kreatif, inovatif yang dapat memberikan manfaat pada orang-orang di sekitar lingkungan kita. Tumbuhkan motivasi dalam diri kita, karena motivasi yang keluar dari diri kita itu yang mengibaratkan bahan bakar pada lentera yang akan memberi kekuatan cahaya dan bermanfaat bagi yang membutuhkan cahaya itu. Bagaimana mungkin kiprah kita akan dilirik jika kita sebagai pustakawan tidak memiliki motivasi untuk dapat menunjukkan sebagai pustakawan yang memiliki kompetensi.

Pembahasan
Seperti lentera, benda ini mulai langka tetapi masih dicari keberadaanya karena memiliki nilai eksotik dan unik. Seperti profesi pustakawan pada saat ini mulai diidam-idamkan banyak orang karena menjadi pustakawan dapat memberikan keuntungan secara substansi/ilmu pengetahuan dan secara salary pasti akan bertambah bagi siapapun yang menjadi pustakawan. Profesi ini menjadi tolok ukur bagi pengembangan karier SDM pada setiap instansi.
Ketika kita maknai dan masuk dalam profesi ini ternyata sangatlah luar biasa, Pustakawan adalah cahaya motivasiku, ini adalah benar-benar dari lubuk hati yang paling dalam karena setelah menjadi pustakawan ternyata ilmu pengetahuan yang selama ini mungkin tidak diketahui menjadi sangat luas dan tak terbatas. Bersyukur atas karunia ini, tak henti-hentinya penulis merasa bersyukur dan bangga atas profesi pustakawan.Sehingga penulis menjuluki profesi pustakawan adalah sebuah profesi yang eksotik dan unik. Mengapa demikian, profesi yang eksotik disini diartikan dengan kata cerdas, nilai kecerdasan dihasilkan ketika pustakawan menganggap bahwa tugas yang diamanahkan adalah seni , maka nilai kecerdasan direalisasikan dengan berprinsip bahwa “kerja adalah seni”.
Sedangkan profesi pustakawan dikatakan unik, adalah profesinya yang langka dan susah didapat, saking sulitnya mendapatkan profesi ini, maka banyak orang yang menyerah patah semangat dalam memperjuangkan profesi pustakawan. Sebagai pejuang literasi, yang pekerjaan sehari-harinya bekerja di perpustakaan dibutuhkan bekerja dari hati, rasa memiliki dan mencintai pekerjaan ini yang tanpa pamrih,bekerja tulus dan ihklas, maka berjuanglah untuk mendapatkan profesi ini. Pengertiannya adalah dalam mengemban profesi pustakawan dibutuhkan bekerja dengan hati, dengan ketulusan, dan keihklasan. Nilai keihklasan direalisasikan dalam bentuk “mengerjakan pekerjaan perpustakaan adalah Ibadah” satu titik itu yang akan membuat para pejuang literasi merasakan sensasi damai dan nyaman ketika bekerja di perpustakaan. Penulis merasa yakin hanya orang-orang yang mampu ihklaslah yang dapat melakukan pekerjaan di perpustakaan dan bertahan, baik itu pekerjaan secara teknis atau pekerjaan dalam upaya literasi informasi. Semua bidang pekerjaan dibutuhkan suatu keahlian begitu juga ketika Bekerja di perpustakaan selain harus yang ahli dibidangnya juga pekerjaan ini membutuhkan keuletan, ketelatenan, ketekunan dan kesabaran dalam diri, kesabaran ini harus tumbuh terus dan terus sehingga dalam bekerja akan enjoy dan menikmati, yang pada akhirnya kita sebagai pustakawan akan memiliki talenta, memiliki identitas diri dan mendapat pengakuan serta dibutuhkan karena pekerjaan-pekerjaan kita dapat dijadikan rujukan yang bermanfaat untuk orang banyak.
Bayangkan, jika sesuatu benda sudah dianggap eksotik dan unik itu merupakan benda yang banyak dicari dan akan menjadi mahal nilai jualnya. Karena benda tersebut dianggap barang yang sudah langka tetapi memiliki nilai yang berarti, bahkan mungkin sulit dicari maka sebisa mungkin orang akan berlomba mendapatkannya. Begitupun dengan profesi pustakawan walau masih dipandang sebelah mata keberadaannya, tetapi profesi ini cukup prestise ketika kita sudah berada didalamnya. Tinggal bagaimana kita memposisikan diri sebagai pustakawan itu sendiri, apakah kita mau sebagai barang langka yang tidak dihargai keberadaanya, atau sebagai profesi yang bisa memberikan nilai manfaat yang tinggi dalam menunjang ilmu pengetahuan , jadilah pustakawan yang cerdas, inovatif, inspiratif berdaya guna sebagai SDM yang ahli dibidangnya, sehingga dapat memberikan motivasi dan aspirasi terhadap masyarakat luas, memberikan manfaat pada lingkungan kita bekerja, dengan segala ilmu pengetahuan yang dimiliki maka yakin bahwa dimasa yang akan datang pustakawan merupakan idaman banyak orang.
Seperti cahaya lentera, pustakawan dapat memberi cahaya yang terang sesuai dengan peradaban ilmu pengetahuan yang terus dinamis sesuai dengan perkembangan jaman. Memposisikan diri sebagai profesi yang diakui keberadaannya adalah butuh perjuangan, bagaimana mungkin keberadaan kita diakui oleh masyarakat atau lingkungan sekitar kita jika kita tidak membuat karya sama sekali, pustakawan harus berkarya, kreatif, inovatif, mendukung tusi lembaga, sesuaikan pekerjaan kita dengan tusi lembaga, sehingga dapat bersinergi dan memberikan manfaat tentunya kepada lembaga dimana kita bernaung. Dengan karya dan kerja keras kita maka keberadaan pustakawan tentu saja akan menjadi penting dan dibutuhkan, karena dalam pengelolaan perpustakaan tentu saja dibutuhkan orang yang expert (ahli) dibidangnya yaitu pustakawan. Sehingga benar jika Pustakawan merupakan ujung tombak bagi perkembangan perpustakaan itu sendiri.
Perjuanganku Menjadi Pustakawan adalah motivasi, kebutuhan dan Identitas Diri
Pustakawan oh pustakawan, ketika mendapat informasi dari WA group KMP (kelompok menulis Pustakawan) bahwa dalam terbitan KMP 6 akan mengusung tema “kisah Inspiratif Pustakawan” berkisah tentang perjuangan seorang pustakawan yang penuh semangat, motivasi dan aspirasi. Jujur ketika penulis mendapat berita ini rasanya hati ini bahagia sekali, semangat untuk mencurahkan isi hati , bagaimana perjuangan penulis dalam memperoleh profesi pustakawan yang menjadi impian selama bertahun-tahun.
Terbersit banyak cerita dalam hati yang ingin diungkapkan disini, sampai bingung harus dari sisi mana yang terlebih dahulu yang akan diceritakan, suka duka, kecewa , haru , bahagia dan semangat, semua bercampur menjadi satu kesatuan dalam memperjuangkan sebuah mimpi dan harapan yaitu menjadi pustakawan.
Mengawali cerita, pada tahun 2004 penulis melanjutkan studi SI di Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan perpustakaan dan informasi di sebuah Universitas swasta yang ada di kota Bandung, pada saat itu penulis sudah bekerja menjadi karyawan aparatur sipil Negara (ASN), urusan pekerjaan kantor, urusan rumah tangga dilakukan sejalan sekuat tenaga agar tidak ada yang merasa terabaikan, semua dijalani seperti air mengalir, dinikmati dan disyukuri.
Pada tahun 2006 penulis mendapatkan SK dari lembaga untuk bertugas di perpustakaan, sejalan dengan itu, sambil belajar di kampus penulis juga dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat dari studi yang dijalani. Empat tahun berjalan bertugas sebagai petugas perpustakaan, mulai ada rasa gelisah menyelimuti tentang sebuah identitas diri/status pada pekerjaan, sangat wajar dan manusiawi jika seseorang ingin berkembang/ingin mengembangkan kariernya.
Bekerja di perpustakaan ternyata sangat istimewa, dengan adanya jabatan fungsional tertentu yaitu jabatan fungsional pustakawan yang telah tercantum dalam UU No. 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan. Rasanya sangat disayangkan sekali jika ada kesempatan untuk mengembangkan karier, tetapi tidak dimanfaatkan oleh SDM yang ada di setiap lembaga.
Berawal dari kebutuhan sebuah identitas diri/status yang jelas dalam pekerjaan, pengembangan karier karyawan berdasarkan pada spesifikasi bidang keilmuannya. Sehingga pada tahun 2010 penulis mencoba menghadap pada kepala lembaga untuk pengusulan pustakawan, dari hasil konsultasi ke berbagai perpustakaan, seperti mengikuti: seminar-seminar, workshop, bimtek, lokakarya,dan pertemuan-pertemuan lainnya yang ada kaitannya dengan pustakawan dan kepustakawanan, bahkan hingga masuk dalam sebuah komunitas pustakawan yaitu IPI yang pada saat itu penulis belum menjadi seorang pustakawan, sebegitu dahsyatnya sebuah tekad yang kuat ingin meraih mimpi menjadi seorang pustakawan.
Pengajuan pertama mendapat penolakan dari biro kepegawaian pusat yang menjadi induk kantor penulis dengan jawaban tidak ada “wadahnya” untuk jabatan pustakawan, rasa kecewa dan sedih menyelimuti diri penulis, sedangkan pekerjaan di perpustakaan harus tetap berjalan, penulis tidak paham dengan kata-kata yang dimaksud “wadah”.Apa itu wadah?…tapi dengan tetap bersemangat dan tidak menyerah penulis terus saja mengikuti kegiatan seperti seminar, dan sosialisasi, yang ada hubungannya dengan pustakawan dan kepustakawanan. Maka pada kesempatan itulah penulis sering bertanya, sehingga pada suatu kesempatan bertemu dengan seorang pembicara dari Perpusnas dan penulis memberanikan diri bertanya yang menjadi permasalahan mengapa begitu sulit dalam melakukan pengajuan pustakawan dengan bahasa tidak ada “wadahnya”, usut punya usut ternyata yang dimaksud dengan wadah itu adalah formasi.
Jadi lembaga induk kita harus membuat formasi sebagai tempatnya pustakawan, sampai disini penulis paham dan dibuatlah yang namanya formasi, kedua kalinya penulis melakukan pengusulan dengan kelengkapan berkas yang di bawa tepat pada tanggal 7 Juli 2016 (7 juli 1990 adalah hari pustakawan yang dicanangkan oleh Perpustakaan Nasional RI), padahal penulis tidak mengetahui pada tanggal itu adalah tanggal yang bersejarah bagi pustakawan, tanggal itu merupakan tanggal spesial ternyata.
Penulis mengetahui ini dari postingan seorang teman di group pustakawan.Mungkin ini sebuah anugrah yang diberikan pikir penulis, berkas sudah berjalan dibawa menuju ke biro kepegawaian pusat Jakarta, tidak lama kemudian, telepon berdering dan mendapati khabar bahwa berkas pengusulan pustakawan mendapat penolakan lagi, sudah dapat dibayangkan betapa pilunya hati ini, air matapun tumpah….Perkiraan itu meleset, berbanding terbalik dengan asa dan harapan….begitu sulitnya mendapatkan sebuah profesi yang namanya pustakawan.
Lelah rasanya hampir putus asa dan menyerah, tapi semangat itu bangkit lagi, ibarat lentera yang semakin redup cahayanya ketika kehabisan bahan bakar, tapi ketika diisi lagi bahan bakarnya maka sinarnya akan menyala dengan terang. Begitu juga yang terjadi pada diri penulis, karena tekad yang sangat kuat ingin menjadi pustakawan, apapun rintangannya, berbagai preasure (tekanan) yang dialami menjadikan diri semakin kuat dan berpikir positif, bahwa harus, harus, dan harus berjuang selagi dalam koridor yang benar.Itulah motivasi yang terus tumbuh dalam diri, yang selalu menyemangati sehingga pustakawan ada dalam genggaman. Dorongan motivasi dalam dirilah yang serupa dengan minyak tanah sebagai bahan bakar pada Lentera sehingga sinarnya menyala kembali.
Dua kali mengalami penolakan untuk menjadi pustakawan, dijadikan pelajaran bagi penulis pribadi dan lembaga, apa yang kurang adalah harus dilengkapi sesuai dengan prosedur yang berlaku. Karena banyak regulasi yang baru, sehingga pengajuan pustakawan harus dilakukan berdasarkan beban kerja, semua pekerjaan pustakawan harus terukur dan sesuai, setelah ABK (analisis Beban Kerja) dibuatkan oleh lembaga, barulah dibuatkan Peta Jabatan. Peta Jabatan merupakan salah satu bentuk Wadah yang dimaksud diatas adalah Formasi.
Tidak selesai sampai disini, ternyata penulis harus menunggu disyahkan Peta Jabatan itu oleh Peraturan Pemerintah (PERMEN) satu tahun lebih berjalan, dengan sabar dan terus berdoa jika kesempatan menjadi pustakawan adalah menjadi rezeki penulis, ini merupakan sebuah anugrah yang sangat luar biasa. Sekitar bulan agustus 2017 pengesahan PERMEN sudah ditanda tangani oleh Menteri, maka lembaga berhak melakukan pengusulan sesuai dengan peta jabatan yang telah diusulkan. Alhamdulilaah 1 oktober 2017 penulis berhasil dan syah dengan SK yang dikeluarkan menjabat sebagai Pustakawan.
Itulah cerita pustakawan-ku, analoginya adalah apapun keinginan kita, profesi apapun itu, sebenarnya tidak sesulit apa yang kita bayangkan jika kita paham dan mengetahui alur yang harus dilakukan, patuh dan taat pada semua peraturan dan yang paling penting adalah selalu berpikiran positif, semangat untuk maju serta motivasi diri yang tumbuh dari dalam diri kita sendiri yang tetap tumbuh menjadi sebuah kekuatan sehingga apa yang menjadi impian kita selama ini akan berhasil dan menjadi milik kebanggaan kita.

Epilog
Jabatan fungsional Pustakawan adalah jabatan yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak untuk melaksanakan kegiatan kepustakawanan.Jabatan ini dapat ditempuh oleh setiap orang yang memiliki kompetensi dibidang perpustakaan.Artinya siapapun bisa menjadi pustakawan asal dapat mununjukkan kompetensi dirinya dibidang kepustakawanan.
Bahagia menurut penulis adalah singkat “Menjadi Pustakawan”.Pustakawan adalah cahaya motivasiku itu benar-benar dari lubuk hati yang paling dalam. Kesempatan mendapatkan profesi yang didambakan adalah anugrah yang tak henti-hentinya disyukuri, nilai syukur direalisasikan dalam bekerja dan menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada pustakawan dilakukan dengan tulus ihklas. Selanjutnya adalah sebagai seorang pustakawan tentunya dalam bekerja harus memiliki integritas, artinya bahwa pekerjaan kepustakawanan itu direalisasikan dengan berprinsip “kerja adalah panggilan”. Pustakawan dalam melaksanakan tugasnya berdasar atas panggilan atau tuntutan profesi. Profesi yang dijalani untuk menjawab semua tuntutan tugas tersebut. Untuk itu, diperlukan integritas yang tinggi untuk bekerja dengan sepenuh hati, segenap pikiran, tenaga, secara utuh dan menyeluruh, pada dasarnya inti tugas pustakawan adalah memenuhi kebutuhan informasi Pemustaka. Tidak sia-sia perjuangan menjadi seorang pustakawan, teruslah konsen pada apa yang kita inginkan, maka impian akan hadir dalam genggaman.
Sesulit apapun hambatan, jika kita tetap gigih pada satu tujuan hanya menunggu waktu untuk melihat suatu kemajuan, kemajuan sekecil apapun jika terus diperjuangkan secara konsisten dan gigih adalah modal kuat untuk kita meraih sukses, Jangan menyerah pada keadaan yang tidak paham, berfikir positif dan jangan malu bertanya untuk mendapatkan pemahaman hal-hal yang memang harus kita ketahui. Jangan putus asa ketika sesuatu yang kita inginkan belum tercapai, instropeksi dirilah jika sesuatu itu gagal, jangan mundur sebelum berperang, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
Semangat dan teruslah berjuang mengikuti alur yang benar, karena kerja keras penuh semangat itu direalisasikan dengan berprinsip “Kerja adalah aktualisasi”. Aktualisasi pada prinsipnya adalah suatu proses mengubah potensi menjadi realita, menjadi kinerja, menjadi sebuah prestasi. Jadi bekerja adalah aktualisasi berarti bekerja dengan rajin, bersemangat, dan antusias. Pekerjaan adalah sarana untuk mencapai hakikat manusia yang tertinggi sehingga pustakawan akan terus bekerja keras dengan penuh semangat. Sikap pustakawan mampu membangkitkan ilham untuk bekerja keras, mampu mengembangkan diri, dan selalu berpikir dan bertindak untuk kemajuan.Bahagialah para pustakawan, karena engkau lahir dari orang-orang terpilih, Jangan sia-siakan kesempatan ini karena masa depan menjadi tantangan bagi pustakawan, jadilah pustakawan yang cerdas, unggul dan penuh semangat.

Orang cerdas berdiri dalam gelap, sehingga mereka dapat melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Mereka yang tidak dipahami oleh lingkungannya, terperangkap dalam kegelapan itu. Orang yang tidak cerdas hidup didalam terang. Sebuah senter menyiramkan sinar tepat di atas kepala mereka dan pemikiran mereka hanya sampai batas-batas lingkaran cahaya senter itu.

(Andrea Hirata, Cahaya, 1967)

TINGGALKAN KOMENTAR