REJANG TARIAN SAKRAL UNTUK PERSEMBAHAN PARA DEWA

0
22812
Tarian Rejang Dewa
Tarian Rejang Dewa

Musik dan tari adalah bagian yang tidak terpisahkan dari agama di Bali. Tarian-tarian Bali diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu tarian pertujukan dan tarian sakral. Tari pertunjukan (bebalihan) adalah tarian yang umumnya dimainkan/dipentaskan untuk hiburan, sementara tari sakral (wali) merupakan tarian yang hanya dapat dimainkan untuk mengiringi upacara keagamaan tertentu. Ada beragam jenis tari pertunjukan seperti: tari lebah, tari perang, tari untuk mencari pasangan, tari penyambutan tamu, dan lain sebagainya; sementara, tari sakral seperti: tari pendet, rejang dewa, Sanghyang, topeng, dan lain sebagainya.

Pada zaman Bali Kuno bisa dikategorikan menjadi dua transformasi: (1) lewat guru-guru tua yang memberikan pelajaran secara personal; (2) kateori yang berbau gaib, yakni transformasi ketika seorang penari hanya bertindak sebagai medium. Kategori ini sering ditemu pada penari-penari suci atau yang belum akil balik. Mereka mengalami proses kerawuhan – suatu ecstay, dan menari dalam keadaan kehilangan kesadaran saat menari Rejang Pendet atau tari Sang Hyang di pura-pura Hindu (Bandem, 1996:67)

Rejang adalah tari upacara keagamaan yang diselenggarakan di pura, merajan atau sanggah. Penarinya laki-laki dan perempuan yang diiringi dengan tabuh gegaboran.Tari Rejang ada bermacam-macam bentuknya, misalnya: Rejang Dewa, Rejang Renteng, Rejang Bengkol, Rejang Regong, Rejang Lilit, dan lain-lain. Begitu pula tabuhnya, terdiri dari beberapa gabor, misalnya, Gabor Longgor, Gabor Selisir, Gabor Bebancangan, dan Gabor Ganjur. Bagian terakhir Tari Rejang biasanya dilanjutkan dengan tari perang yang mempergunakan bermacam-macam senjata seperti: Tombak, Gada, Cakra, Bajra, Bandrang, dan lain sebagainya. Tari perang ini diakhiri siratan Tirtha (air suci) dari Sang Sulinggih.

Konon ceritanya peperangan itu menceritakan tentang peperangan Dewata Nawasanga dengan para Raksasa ketika memutar Gunung Manara berebut air suci (tirtha Amerta). Ketika itu para Dewa diiringi oleh para Gandarwa yang membawa alat bunyi-bunyian berupa gamelan. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh pihak Dewata Nawasanga, dan tirtha amerta yang diperoleh itu dipakai untuk menikmati kehidupan di dunia.

Komposisi pakaian tari rejang tidak jauh berbeda dengan pakaian yang dipergunakan untuk sembahyang. Laki-laki memakai Destar, baju, umpal atau ambed, dan kain. Sedangkan perempuan memakai bunga emas atau bunga segar di rambutnya, berbaju kebaya, sesenteng, dan kain.

Mengenai koriografinya, tari ini tidaklah begitu terikat dengan patokan (pedum karang) seperti tari-tarian lainnya. Tari ini memiliki kebebasan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Lebih-lebih lagi dalam Upacara Pangider Buana, penarinya memngelilingi sesajian (sajen) berputar-putar sambil menuruti arah pradaksina.

Sumber : BPNB Bali, NTB, NTT Warisan Budaya Tak Benda Provinsi Bali Tahun 2010