Arti dan Fungsi Tradisi Nyepi Segara Di Nusa Penida

0
773

Nyepi Segara berasal dari kata Nyepi dan kata Segara. Nyepi berarti sunyi, sepi, hening,  maupun sipeng. Sedangkan Segara berarti pesisir pantai, laut maupun pasih. Jadi Nyepi Segara adalah tidak adanya aktivitas atau sunyi, sepi, hening, sipeng di pesisir pantai, laut atau pasih.

Sebelum Nyepi Segara dilaksanakan, dilakukan upacara Ngusaba Agung Penyejeg Jagat. Upacara pengusaban di Nusa Penida ini dilaksanakan setahun sekali yaitu setiap Punamaning Kapat sekitar bulan Oktober. Sehari setelah upacara pengusaban dilaksanakan upacara mepekelem, kemudian besoknya baru dilakukan Nyepi Segara selama 1 hari penuh, yaitu dimulai pada pukul 06.00 pagi hingga pukul 06.00 pagi keesokan harinya. Dalam kegiatan nyepi ini tidak boleh ada kegiatan di laut (memancing, penyeberangan, memanen rumput laut semuanya dihentikan selama sehari).

Pelaksanaan Nyepi Segara pada dasarnya sama dengan Nyepi pada umumnya hanya saja lingkup teritorial atau tempat pelaksanaannya saja yang berbeda. Apabila Nyepi secara umum lingkup teritorialnya adalah seluruh Pulau Bali tanpa terkecuali, sedangkan kalau Nyepi Segara teritorialnya hanya meliputi wilayah laut yang ada di Nusa Penida. Pemberlakuan larangan-larangannya juga sama dengan larangan-larangan pada saat perayaan Nyepi pada umumnya yang dikenal dengan Catur Berata Penyepian, yaitu tidak boleh menyalakan api (Amati Geni), tidak boleh bepergian (Amati Lelungan), tidak boleh bekerja (Amati Karya), serta tidak boleh bersenang-senang (Amati Lelanguan). Berkenaan dengan adanya larangan-larangan tersebut jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan Nyepi Segara, masyarakat Nusa Penida perlu melakukan persiapan serta berkoordinasi dengan pihak terkait seperti pelaku pariwisata, serta beberapa lembaga penyebrangan dari dan ke Nusa Penida, sehingga pada saat Nyepi Segara dilaksanakan tidak ada pelanggaran yang muncul.

Pelaksanaan tradisi Nyepi Segara di Nusa Penida memberikan arti dan fungsi tersendiri terutama bagi masyarakat pendukungnya seperti: penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Baruna sebagai Dewa penguasa laut, mempererat solidaritas sosial antara masyarakat Nusa Penida, serta berfungsi untuk melestarikan sumberdaya alam laut. (WN)

Sumber: I Wayan Suca Sumadi.