Nandong, Seni Tutur Penuh Makna dari Pulau Simeulue

0
3318

Kepulauan Simeulue yang terletak di tengah Samudera Indonesia bagian Barat Sumatera sudah didatangi berbagai imigran sejak zaman dahulu, dan inilah yang memunculkan keanekaragaman budaya di sana. Salah satunya adalah Nandong atau seni tutur yang merupakan budaya hasil diaspora Minangkabau dan Simeulue.

Nandong merupakan seni tutur dalam mengeluarkan isi hati melalui lantunan syair-syair atau pantun-pantun yang berisikan pesan-pesan moral, ungkapan, dan nasehat. Nandong dimainklan oleh dua orang atau lebih dengan menggunakan alat musik Kedang. Kedang adalah sejenis gendang yang ditabuh dengan sedemikian rupa di antara bait-bait pantu secara berbalas-balasan.

Nandong telah ditemukan sejak masyarakat Minangkabau mendatangi Pulau Simeulue yang diperkirakan sejak abad ke-16, terutama pada masa Iskandar Muda. Nandong terdiri dari Samba, Serak, Kasih, Untung, Rantau dan Carai yang dilantunkan dengan menggunakan bahasa Minangkabau dan Simeulue. Menurut salah satu sumber, Nandong merupakan seni tutur yang sangat populer pada masyarakat Pulau Simeulue. Sering dimainkan pada saat perayaan hari-hari besar dan upacara adat seperti perkawinan, sunatan dan lain-lain. Biasanya dipertunjukkan pada saat siang atau malam hari, berjam-jam bahkan sampai pagi hari tergantung dari balas-balasan pantun dari dua atau lebih pemainnya.

Seni tutur ini telah disahkan/ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB Indonesia) pada tahun 2016 oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI. Nandong yang bermakna sebagai pesan moral, ungkapan rasa hati, dan nasehat yang dituangkan dalam syair-syair dalam pantun-pantun ini bukan lagi milik masyarakat Pulau Simeulue, akan tetapi telah menjadi milik bersama bangsa Indonesia, maka sudah menjadi tugas dan kewajiban kita bersama untuk menjaga dan melindungi keberlangsungan harta warisan dalam wujud kebudayaan ini.