Keni Gayo, Jejak Peninggalan Masa Lalu Urang Gayo

0
2934

Keni (kendi, gerabah) adalah salah satu karya budaya orang Gayo yang terbuat dari tanah liat dan sudah dikenal sejak masa pra sejarah kehidupan manusia di tepian danau Lut Tawar yang didasarkan pada temuan para arkeolog dari Balai Arkeologi Sumatera Utara (Balar SUmut) dalam serangkaian penelitian dari tahun 2009 hingga 2011 lalu. Penelitian yang dilakukan oleh Ketut Wiradnyana di Lesung Mendale itu telah membuktikan bahwa keberadaan keni ini telah ada pada masyarakat Gayo sejak ± 8000 tahun yang lalu. Namun kini, Keni Gayo sudah langka ditemukan dan jikapun ada hanya diwaktu-waktu dan orang-orang tertentu saja

Keni Gayo sebagai hasil kerajinan tangan kaum perempuan masyarakat Gayo dibedakan menjadi empat macam bentuk yang disesuaikan dengan jenis kelamin pemakainya. Masing-masing bentuk memiliki ciri serta fungsi yang berbeda, misalnya Keni Rawan yang berkaki tinggi dan melebar ke bawah dipakai oleh kaum laki-laki, Keni Banan yang berbentuk bulat tanpa kaki dipakai kaum perempuan, Keni Labu yang bentuknya mirip buah labu dipakai oleh sesepuh perempuan, serta Keni Ganyong yang juga bentuknya mirip buah labu dengan ukuran lebih kecil dipakai oleh anak-anak. Namun secara umum, kegunaan utama keni bagi masyarakat Gayo adalah sebagai wadah air minum.

Bahan baku pembuatan Keni Gayo terdiri dari dua macam yaitu dah (tanah liat) dan kresik (sejenis pasir yang halus dan berwarna hitam). Pasir ini dipilih karena dapat menimbulkan warna hitam pada keni yang dihasilkan. Adapun Peralatan yang digunakan di antaranya adalah:

  • Pelandas, sebagai landasan tanah liat dan pasir pada proses pembentukan kendi.
  • Batu penggilas, yaitu batu berbentuk bulat panjang yang digunakan untuk memipihkan adonan tanah liat dan pasir;
  • Wat atau papan penggebuk, yaitu papan berukuran kecil yang digunakan untuk memukul-mukul bagian luar dinding kendi pada saat pembulatan;
  • Atu lenesan atau batu bulat, yaitu digunakan untuk melapisi bagian dalam bakal kendi atau sebagai penahan pada saat kendi tersebut dipukul-pukul;
  • Sendok makan, yaitu digunakan untuk mengorek bagian dalam bakal kendi yang menonjol;
  • Batu pipih, yaitu batu yang tipis dan licin untuk melincinkan bagian luar bakal kendi;
  • Munuk atau pisau, yaitu digunakan untuk meratakan bagian-bagian bakal kendi yang menonjol;
  • Bulu landak, yaitu digunakan untuk membuat lubang pada bagian-bagian tertentu bakal kendi;
  • Mata uang logam, pecahan piring, lidi, dan rader baju, yaitu digunakan untuk membuat ragam hias dengan cara menggoreskannya pada permukaan dinding bakal kendi;

Pembuatan keni dimulai dengan menghaluskan bahan berupa tanah liat dengan ditumbuk, lalu dibentuk sedemikan rupa dengan bentuk keni yang diinginkan. Lalu diukir dengan dengan ornamen Kerawang Gayo dan dikeringkan selama 5 hari sebelum kemudian dibakar agar bisa difungsikan sebagai penampung air. Untuk memperoleh keni berkualitas, pembakaran ini dilakukan dari pagi hingga sore dengan membakar sekam atau ampas padi.

Masih berdasarkan temuan tim peneliti arkeologi Balar Medan, perbedaan antara Keni Gayo pada masa dahulu dengan masa sekarang ini terletak pada kekayaan motif ornament Kerawang Gayo yang terdapat pada keni tersebut. Keni Gayo peninggalan zaman 8000 tahun yang lalu tersebut lebih kaya akan motif ornamen Kerawang Gayo, adapun motif Kerawang Gayo yang umum dikenal saat ini hanya sedikit saja. Jadi telah banyak motif Kerawang Gayo yang telah hilang atau tidak dikenal lagi oleh masyarakat Gayo sekarang.

Keni bukan sekadar peralatan rumah tangga yang berfungsi untuk menyimpan air minum, tetapi ia merupakan warisan budaya nenek moyang masyarakat Gayo yang sarat dengan nilai-nilai. Keni merupakan salah satu perlengkapan dalam upacara perkawinan di Gayo, hal ini menunjukkan betapa pentingnya keni dalam upacara tersebut sebagai eksistensi dari kebudayaan Gayo dari masa lalu hingga masa kini. Selain itu, keni juga menunjukkan kreativitas dari orang Gayo khususnya kaum perempuan yang memiliki nilai estetika dalam memanfaatkan sumber daya alam hingga dapat menghasilkan kerajinan yang dapat memberikan kesejahteraan.

Keni Gayo juga telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB Indonesia) pada tahun 2018 ini. Sebagai salah satu bentuk kepedulian atas peninggalan Urang Gayo dari masa lalu.

Kodrat Adami